Advertisement

Tokoh Kurawa yang paling kasar, tidak mempedulikan sopan santun. Dalam pewayangan, ia dilukiskan sebagai tokoh yang tak dapat tenang. Kaki dan tangannya selalu digerak-gerakkan tanpa tujuan tertentu. Bicaranya kasar dan sembrono, dan sering tertawa terbahak-bahak. Walaupun demikian, ia tergolong sakti dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain. Kakaknya, Prabu Duryudana atau Suyudana, Raja Astinapura, mengangkatnya menjadi kepala daerah di Banjarjunud. Pangkatnya adipati.

Sewaktu Dursasana masih muda, atas bujukan Patih Sengkuni, Pandawa bermain judi dadu melawan Kurawa. Sengkuni mengatur permainan itu demikian rupa, sehingga Pandawa akhirnya kalah. Bukan harta benda Pandawa saja yang dipertaruhkan, tetapi negara Amarta atau Indraprasta pun pindah tangan menjadi milik Kurawa melalui meja judi. Akhirnya bahkan Drupadi, istri Pandawa juga dipertaruhkan. Pandawa kalah. Dengan tertawa terbahak-bahak Dursasana atas perintah Prabu Suyudana segera pergi ke keputren mengambil Drupadi. Istri Pandawa itu segera diseret Dursasana dari hadapan Dewi Kunti. Rambutnya ditarik sehingga lepas sanggulnya. Kemudian di hadapan para Kurawa yang bersuka-cita, dan di hadapan para Pandawa, Dursasana menarik kain Drupadi untuk melepas kain itu dari tubuhnya. Namun para dewa melindungi Drupadi. Kain yang dikenakan Drupadi seolah memanjang terus, sehingga walaupun Dursasana menariknya hingga lelah, tubuh Drupadi tetap terlindung. Hanya atas bujukan Arya Widura, paman Kurawa dan Pandawa, perbuatan keji itu dihentikan.

Advertisement

Peristiwa ini membuat Durpadi mengucapkan sumpahnya, tidak akan menyanggul rambutnya sebelum dicuci dengan darah Dursana. Bima pun mengucapkan sumpah, akan membunuh Dursasana dalam Baratayuda, dan menghirup darahnya. Sumpah kedua orang itu terwujud. Dalam Baratayuda Bima membunuh Dursasana dengan Kuku Pancanaka, menghirup darahnya, menyimpannya di dalam mulut, dan membawanya pada Drupadi untuk mengeramas rambutnya.

Baca juga DRUPADI dan BIMA.

Advertisement