Advertisement

Tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia yang diangkat menjadi Pahlawan Nasional tahun 1971 dan Perintis Pers Indonesia tahun 1974. Nama yang sering digunakannya ialah Dr. Setiabudi.

Dekker lahir di Pasuruan, Jawa Timur, tanggal 8 Oktober 1879. Masa kecilnya tak banyak diketahui. Setelah menyelesaikan sekolah dasar di kota kelahir-annya, ia melanjutkan studi ke HBS di Batavia sampai tamat.

Advertisement

Pada usia 18 tahun, ia mulai bekerja. Ketika menjadi pegawai perkebunan kopi Sumber Duren di lereng Gunung Semeru dan ahli kimia di Pabrik Gula pt ‘arakan, ia selalu berselisih paham dengan atasannya karena dianggap terlalu membela kepentingan buruh. Dia sering dituduh mencampuri urusan yang bukan tanggung jawabnya.

Tahap berikut dalam hidupnya ialah sebagai wartawan. Mula-mula ia bekerja di De Locomotief, lalu pindah ke Soerabaiasch Handelsblad. Karena bertengkar dengan pemimpin redaksi, Van Geuns, ia keluar dari koran ini. Selanjutnya ia menjadi korektor di surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad. Jabatannya meningkat dengan cepat menjadi wakil pemimpin redaksi. Waktu itu, usianya baru 30 tahun.

Menyadari bahwa seluruh sistem eksploitasi kolonial-kapitalis menjadi biang keladi kemiskinan penduduk pribumi, ia mendirikan Indische Partij. Program utama ialah kerja sama antara golongan Indo dan pribumi untuk mengusir penjajah dari Indonesia dan membangkitkan patriotisme semua orang Hindia. Karena dianggap berbahaya, Indische Partij dibubarkan pemerintah Hindia Belanda.

Douwes Dekker selanjutnya menyebarkan gagasannya lewat De Expres. Pembantu dekatnya dalam De Expres dr. Tjipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat. Pada tanggal 6 September 1913, ketiganya dibuang ke Belanda. Douwes Dekker menggunakan kesempatan ini untuk belajar ekonomi di Universitas Zurich. Studi yang seharusnya ditempuh dalam empat tahun diselesaikan dalam satu tahun. Di masa Perang Dunia I, ia keluar dari Negeri Belanda dan menyelundupkan senjata ke Thailand dan India. Ketika perang berakhir ia masuk ke Indonesia dan mendirikan National Indische Partij.

Dalam Perang Dunia II, ia dianggap berbahaya oleh Jepang dan ditawan di kamp tahanan Ngawi. Tahun 1946 setelah perang berakhir, ia dibawa ke Belanda, katanya untuk dibebaskan. Tetapi ia diberitahu bahwa ia tak akan pulang ke Indonesia. Akhirnya ia menyelundup naik kapal ke Indonesia dengan menggunakan surat-surat keterangan palsu. Ketika tiba di ibu kota republik, Yogyakarta, tahun 1947, ia diangkat menjadi Menteri Negara dan bertugas sebagai Sekretaris Politik Perdana Menteri.

Dalam bulan Desember 1948, Yogya diduduki Belanda dan Douwes Dekker turut ditangkap. Ia diperlakukan dengan kasar karena serdadu-serdadu Belanda menganggapnya sebagai pengkhianat. Baru pada tahun 1949, ia dibebaskan dan berdiam di Bandung. Pada tahun 1950 ia meninggal di Bandung dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan dengan upacara kenegaraan.

Advertisement