Ferdinand de Saussure (1857-1913)

Meskipun linguistik baru muncul sebagai sebuah ilmu pada awal abad ke-19, Ferdinand de Saussure lahir di Geneva tahun 1857, anak dari seorang naturalis terkenal dari Swiss dikenal luas sebagai pendiri linguistik modern. Buku karangan Saussure berjudul Cours de linguistique generate (1959[1916], Course in General Linguistics) adalah karya linguistik terpenting yang ditulis di Eropa Barat pada abad 20. Namun, buku tersebut diterbitkan setelah ia meninggal dan merupakan sebuah versi suntingan atas berbagai catatan yang ditulis para mahasiswanya ketika ia mengajar di Jenewa tahun 1907 – 1911. Setelah melewatkan 10 tahun hidupnya mengajar di Paris dengan penuh produktivitas (1881-1891) sebelum kembali ke Jenewa, dan menghabiskan sisa hidupnya di sana Saussure menjadi begitu perfeksionis sehingga tidak mau mempresentasikan laporan linguistik apa pun dalam bentuk sebuah buku. Hal ini karena menurutnya tidak mungkin menulis sebuah persoalan sulit yang ia anggap cukup berharga untuk diterbitkan. Kombinasi antara kerendahan hati dan kesadaran ini dapat menjelaskan mengapa ia hanya menulis dua buku sepanjang hidupnya, dua-duanya ditullis saat ia masih muda dan dalam tata bahasa Indo-Eropa dan komparatif, dan bukan dalam linguistik teoretis. Buku pertamanya yang diterbitkan tahun 1870, saat ia baru berusia 21 tahun, ditulis di Leipzig saat mengikuti kuliah dua tokoh orang penting penganut Neo-grammarian, Leskiendan Curtius. Wawasannya yang brilian atas berbagai persoalan seputar resonan Indo-Eropa membuatnya terkenal dalam waktu singkat. Bukunya yang kedua adalah disertasi doktor-nya (1880), yang membahas kasus genitif dalam bahasa Sansekerta.

Saussure memberi kontribusi besar pada linguistik teoretis. Tapi, tulisannya mengenai bahasan tersebut hanya terbatas pada buku Cours, itu pun hanya di bagian pengantar, bagian pertama, ‘Principes generaux’, dan bagian kedua, ‘Linguistique synchronique’. Bagian selanjutnya, tidak terlalu populer. Kekhususan teorinya terletak pada pembedaan yang ia ajukan yang kemudian diadopsi oleh semua ahli linguistik dan pada konsepsinya tentang tanda linguistik.

Setelah memisahkan kajian tentang semua institusi sosial dari semiologi, sebagai kajian tentang sistem tanda (sign sysfemsj, kemudian memisahkan semiologi itu sendiri dari linguistik, dan akhirnya memisahkan kajian bahasa secara umum dari bahasa manusia yang spesifik, Saussure sampai pada tiga perbedaan yang sangat mempengaruhi seluruh pemikiran dan praktek linguistik pada abad ke-20.

Pertama, langue versus parole. Artinya, pembedaan di satu sisi antara bahasa sebagai sumber daya sosial dan sebagai sistem turunan yang tersusun dari berbagai unit dan aturan yang menyatukannya pada semua tingkatan, dan di sisi lain, pembicaraan (speech) sebagai kegiatan konkrit di mana bahasa diberlakukan dan tersedia untuk digunakan oleh setiap individu pada kondisi tertentu. Saussure mengatakan bahwa kelaziman linguistik adalah linguistik langue, meskipun

kita berbicara dalam linguistik parole, dan walaupun kenyataannya penggunaan perkataan (speech) mengubah sistem bahasa itu sendiri dalam lintasan sejarah. Sebenarnya, ia hanya membahas linguistik langue dalam buku Cours.

Kedua, synchrony versus diachrony. Saussure berulang kali menekankan bahwa linguistik, sama seperti ilmu lain yang berkaitan dengan nilai (lihat bagian bawah), harus melibatkan dua perspektif. Kajian sinkronis dilakukan tanpa pertimbangan masa lalu, dan ilmu ini berkaitan dengan sistem hubungan yang tercermin pada bahasa sebagai gagasan kolektif. Kajian diakronis menyoroti perubahan sejarah yang bersifat tak sadar dari satu bentuk menuju bentuk lain.

Ketiga, syntagmatic versus hubungan asosiatif. Syntagm diartikan sebagai kombinasi kata-kata dari rangkaian perkataan, dan ia menyatukan elemen-elemen yang hadir secara efektif, sementara hubungan yang disebut associative oleh Saussure (dan kemudian disebut paradigmatic oleh Hjelmslev) menyatukan berbagai istilah yang tidak dimiliki rangkaian mnemonic virtual. Jadi, kata teaching memiliki hubungan asosiatif dengan kata education, training, instruction, dan sebagainya, tapi memiliki hubungan syntagmatik dengan kata his dalam syntag his teaching. Saussure menambahkan bahwa model syntag yang paling tepat adalah kalimat, tapi ia mengatakan bahwa kalimat cenderung mendekati parole, bukan langue, sehingga kalimat tak dapat dijadikan bahan pertimbangan. Pandangan ini, meskipun konsisten, memiliki akibat serius pada struktur linguistik, karena pandangan ini menimbulkan penolakan yang hampir total terhadap sintaksis.

Saussure mendefinisikan tanda linguistik sebagai suatu entitas fisik dua muka yang terdiri dari konsep dan kesan akustik. Fisik dua muka ini ia sebut sebagai signifiedan signifiant. Tanda memiliki dua karakteristik materi yang fundamental. Pertama, bersifat arbitrer. Tidak ada hubungan internal dan penting antara signifie dan signifiant, jika memang ada, contohnya [ks] bisa jadi merupakan satu-satunya signifiant yang mungkin untuk arti kata ‘ox’. Jadi, bahasa-bahasa yang berbeda tidak akan pernah ada. Kedua, signifiant bersifat linear: ia ditarik garis lurus sepanjang dimensi waktu, yang juga berjalan lurus, dan tak mungkin untuk ditampilkan lebih dari satu tanda pada satu waktu tertentu. Saussure menambahkan bahwa keseluruhan mekanisme bahasa bergantung pada prinsip dasar ini.

Saussure kemudian melanjutkan membahas ide tentang nilai-nilai (valeur). yang merupakan status suatu unit linguistik dalam hubungannya dengan unit-unit lain. sejak keberadaannya yang paling awal saat definisinya ditentukan, sehingga nilai dan identitas adalah dua ide yang dapat disetarakan. Dengan demikian, dalam hal bahasa, seperti yang dikatakan Saussure yang akhinya menjadi ungkapan terkenal: “yang ada hanya perbedaan-perbedaan” (there are only difference).

Teori Saussure, meskipun belum lengkap, telah begitu berpengaruh. Fonologi dari Aliran Praha (Prague School) dan Hjelmslevian glossematics, adalah dua contoh yang banyak dipengaruhi teori Saussure. Bahkan kesenjangan yang terjadi juga memberikan manfaat secara tidak langsung. Sehingga ketiadaan kalimat bisa dikompensasi dengan sintaksis transformasional, dan ketiadaan linguistik parole dapat dikompensasi dengan pengembangan pragmatik.

Incoming search terms:

  • kajian linguistik ferdinand de saussure

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • kajian linguistik ferdinand de saussure