Pahlawan nasional yang mempertaruhkan nyawanya untuk membela kemerdekaan. Kecintaannya kepada repu­blik dan kesetiaannya mempertahankan kemerdekaan terutama karena ia sendiri terlibat dalam proses ke­merdekaan dan duduk dalam Komite Nasional Indo­nesia Pusat (KNIP).

Pahlawan kemerdekaan ini lahir di Tondanc. Su­lawesi Utara, dan melewatkan masa kecilnya di sana. Setelah menyelesaikan Hollandsch Inlandsche School (sejenis sekolah dasar), ia melanjutkan studinya ke Sekolah Guru di Ambon tetapi merampungkannya di Bandung. Tahun 1937 – 1938 ia masuk Sekolah Ke­dokteran tetapi putus di tengah jalan. Tahun 1939, ia masuk Sekolah Teknik Tinggi Bandung dan men­dapat beasiswa Dinas Pertambangan. Sebelum sele­sai studinya, meletus Perang Dunia II. Dalam keme­lut perang ia mengikuti pendidikan Corps Opleiding voor Reserve Officieren (CORO).

Perjalanan kariernya dimulai dari Departemen Urusan Ekonomi. Namun ketika Jepang masuk ia me­lepaskan jabatannya dan berperang melawan Jepang di Ciater, Bandung. Ketika Jepang telah menguasai Indonesia sepenuhnya ia bekerja sebagai asisten geo­logi pada Jawatan Geologi, Bandung. Menjelang ke­merdekaan Indonesia, ia melibatkan diri di bidang po­litik dan duduk dalam KNIP.

Sikapnya, yang anti-Belanda, menyebabkan ia ha­nya mau berunding dengan pengusaha tambang asing bukan Belanda, untuk mengolah sumber daya alam. Sikap ini menjengkelkan Belanda. Pada tanggal 7 Mei 1949, ia diculik di rumahnya, di Yogya, oleh polisi Belanda. Bujukan untuk bekerja sama selalu ditolak sehingga dia akhirnya dieksekusi di Pakem pada 7 Mei 1949. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Yogya­karta.