Advertisement

Uraian ini berpangkal pada konsep sejarah sebagai gambaran (konstruk) mengenai pengalaman kolektif suatu bangsa di masa iampau, yang meliputi segala kejaaian sekitar tindakan atau kegiatannya dalam menghayati eksistensi bersama. Ditinjau dari perspektif historis, situasi sekarang merupakan produk perkembangan di masa lampau. Contoh yang klasik ialah, wilayah RI sebagai unit geopolitik hanya dapat diterangkan dengan melacak perkembangannya melalui proses integrasi yang jauh kembali ke masa prasejarah.

Secara regresif dapat dirunut bahwa wilayah RI adalah apa yang sebelum Perang Dunia II wilayah Hindia Belanda. Unit Hindia Belanda merupakan hasil perang penaklukannya selama satu setengah abad, dan mematahkan perlawanan daerah-daerah yang hendak mempertahankan kedaulatan kerajaannya, dari Maluku sampai Aceh. Kejayaan kerajaankerajaan mulai surut sebagai akibat dominasi Kumpeni, dan semua kehilangan kedudukannya sebagai pusat perdagangan. Proses integrasi mengalami pasang-surut; ada masa konsentrasi dan dekonsentrasi kekuasaan yang sering diikuti oleh desintegrasi. Di samping faktor politik, maka faktor ekonomis, religius, dan kultural juga turut meningkatkan proses integrasi di Ke’pulauan Nusantara.

Advertisement

Dengan perdagangan sejak zaman Sriwijaya dan Majapahit, terjadilah banyak kontak antardaerah atau suku. Malaka sebagai pusat perdagangan adalah tempat bertemu sekian puluh suku Nusantara. Meskipun ekspansi politik terlaksana dengan penuh kekerasan, namun cukup produktif dalam menumbuhkan hubungan yang melampaui ikatan primordial.

Telah diketahui umum bahwa kontak ekonomi membuka jaian pula bagi penyebaran agama, yang menurut Ibn Khaldun mampu menjadi kekuatan integratif jauh melampaui batas-batas kerajaan besar.

Proses-proses integrasi itu terjadi selama berabad-abad, mengikuti irama sejarah yarig diciptakan oleh silih bergantinya kekuatan ekonomi, politik, dan kultural. Poia umum yang tampil dan seolah-oian menjadi “benang merah” yang menguasai jalinan garis perkembangan historis ialah, proses integrasi yang secara progesif mengarah ke pertumbuhan unit geopolitik adalah bagian esensial dari identitas, tidak dapat dilakukan tanpa memahami proses historis yang melatarbelakangi terciptanya kesatuan itu.

Dimensi lain dari proses integrasi baru tampak dalam abad ke-20, sewaktu muncuinya kaum inteligensia sebagai elite politik baru. Goiongan inilah yang rnampu menciptakan jenis kohesi sosial baru dengan organisasi modern, sistem komunikasi dengan media baru, dan arena politik yang tak dikenal sebelumnya. Proses ini juga dapat disebut sebagai integrasi politik dari kaum elite modern, suatu proses historis yang menghasilkan Indonesia sebagai nasion dan sekaligus identitasnya.

Konseptualisasi nasion Indonesia dan negara nasionalnya adalah momentum historis yang tidak dapat terjadi tanpa entrepreneur ship, kreativitas, kritisme sosial, idealisme, dan rasa tanggung jawab sosial yang mendalam dari para protagonis Revolusi Indonesia. Di sini pengungkapan pengetahuan sejarah tidak dapat dibatasi pada pengetahuan informatif, tetapi terutama perlu disampaikan sebagai proses penyadaran.

Penyampaian pengetahuan sebagai proses penyadaran tidak terbatas lagi pada tindakan kognitif, tetapi sudah menginjak proses animatisasi atau sensitisasi (pemberian semangat, menjiwai). Pelajaran sejarah di sekolah dasar dan menengah tidak dapat mengabaikan fungsi didaktis sejarah, terutama untuk menopang pertumbuhan wawasan kebangsaan yang begitu fundamental bagi pembangunan nasion. Proses belajar sebagai proses pemahaman dan penyadaran, mampu menjadi sumber inspirasi dan pangkal tumbuhnya sense of pride (rasa kebanggaan) dan sense of obligation (rasa kewajiban). Di sini nasionalisme dapat dikembangkan di kalangan generasi muda, yang tanpa idealisme dan aspirasi mengenai tanah air dan bangsanya, hanya akan lari ke penghayatan hidupnya yang dangkal, materialistis, dan konsumeristis, dengan semboyan semata-mata mengumpulkan fast and easy money (mencari uang yang mudah dan cepat).

Kalau generasi muda berjiwa demikian, maka kita bertanya-tanya: “Quo vadis Indonesia?”

Untuk menyambung dengan pokok uraian berikutnya, yakni masalah sastra Indonesia, perlu disinggung di sini bahwa metode presentasi yang efektif hendaknya dilakukan dengan visualisasi dan dramati’sasi melalui sosio-drama. Lebih-lebih kalau diingat bahwa sejarah sendiri sebenarnya merupakan suatu bentuk sosio-drama.

Secara lebih kongkret, cerita roman historis dapat memberi gambaran hidup mengenai pelaku-pelaku dan masyarakat di sekitarnya. Bagaimana beratnya perjuangan nasional sebelum Perang Dunia II.yang menuntut pengorbanan dan penderitaan, dilukiskan dengan sangat hidup dalam karya Soewarsih Djoiopoespito, berjudul Buiten het Gareel (Di Luar Jalur).

Incoming search terms:

  • arti dari sense of pride
  • sense of pride adalah

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • arti dari sense of pride
  • sense of pride adalah