Advertisement

Ada sarjana antropologi yang berusaha mencapai pengertian mengenai masalah integrasi kebudayaan dan jaringan antara unsur yang saling berkaitan, dengan cara meneliti unsur-unsur itu. Adapun istilah fungsi dapat dipakai dalam bahasa sehari-hari maupun dalam bahasa ilmiah, dengan arti yang berbeda-beda. Ahli antropologi M.E. Spiro berpendapat bahwa dalam karangan ilmiah ada dua cara pemakaian dari kata itu, yaitu:
1) Menerangkan “fungsi” sebagai hubungan antara sesuatu hal dengan tujuan tertentu.
2) Menerangkan kaitan korelasi antara satu hal dengan yang lain.
Arti pertama adalah sama untuk bahasa ilmiah maupun bahasa sehari-hari, arti kedua sangat penting dalam ilmu pasti, juga dalam ilmu-ilmu sosial.
Kesadaran untuk memandang suatu kebudayaan yang hidup sebagai suatu sistem yang terintegrasi muncul setelah tahun 1925, ketika buku etnografi B. Malinowski mengenai penduduk kepulauan Trobriand yang terletak di sebelah Tenggara Papua Nugini, menjadi terkenal.
Kecuali uraian mengenai sistem perdagangan kula, buku Malinowski juga memuat banyak sekali bahan keterangan etnografi mengenai susunan masyarakat penduduk kepulauan itu, sikap mereka terhadap benda-benda suci Sulava dan Wali, dan berbagai cara dan siasat untuk bersaing memperoleh lembar-lembar riwayat yang paling penting atau paling berharga. Dalam buku tersebut juga diceritakan cara orang mengerahkan tenaga untuk melaksanakan pelayaran kulak, sistem pimpinan kulak, dan sebagainya.
Cara mengarang suatu deskripsi etnografi terintegrasi, atau holistik seperti itu memang merupakan gejala barn dalam ilmu antropologi ketika itu. Di zaman terbitnya buku itu memang banyak sarjana antropologi dari aliran kultura hitorich, atau aliran sejarah persebaran kebudayaan di muka bumi, secara ekstrim memusatkan perhatian kepada arah-arah persebaran geografi dari sejumlah unsur kebudayaan tertentu yang sering kali diambil dan dipandang terpisah dari jaringan kebudayaan induknya. Oleh karena itu, cara penulisan Malinowski yang menggambarkan integrasi kebudayaan trobriad sekitar kegiatan perdagangan kulak sebagai fokus, merupakan suatu hal yang baru yang sangat menarik perhatian.
Aliran pemikiran mengenai masalah fungsi dari unsurunsur kebudayaan guna kehidupan suatu masyarakat, yang mulai timbul dan tumbuh menjamur setelah terbitnya buku Malinowski tersebut, disebut aliran fungsionalisme. Dalam aliran itu ada berbagai pendapat sejumlah sarjana antropologi mengenai fungsi dasar dari unsur-unsur kebudayaan itu.
Berbagi pendapat itu tidak perlu kita pelajari. Namun, ada baiknya pendapat Malinowski mengenai soal kita uraikan di sini.
Berbagai unsur kebudayaan yang ada dalam masyarakat manusia berfungsi untuk memuaskan hasrat naluri kebutuhan hidup makhluk manusia (Basic Human Needs). Dengan demikian, unsur “Kesenian”, misalnya berfungsi memuaskan hasrat naluri manusia akan keindahan; unsur sistem pengetahuan berfungsi memuaskan hasrat naluri untuk tahu. Karena itu, apabila seorang ahli dapat membuat suatu daftar yang lengkap dari semua hasrat naluri manusia di sebelah kiri, maka di sebelah kanan ia dapat membuat daftar dari unsur-unsur kebudayaan manusia yang sejajar dengan tiap hasrat tadi. Tetapi harus diingat bahwa tentu ada unsur-unsur kebudayaan yang tidak hanya berfungsi memuaskan satu hasrat naluri saja, tetapi lebih dari satu. “Keluarga” misalnya dapat dianggap berfungsi memenuhi hasrat manusia akan prokreasi, yaitu melanjutkan jenisnya, serta mengamankan keturunannya. “Rumah” dapat dianggap berfungsi untuk memenuhi hasrat manusia akan perlindungan fisik, tetapi juga untuk keindahan atau untuk menaikkan gengsi.
Teori mengenai fungsi kebudayaan dikembangkan pada akhir hayatnya, sehingga bukunya berjudul: A Scientific ‘Theory of Culture and Other Essays (1944), yang memuat teori tersebut, baru terbit dua tahun setelah ia meninggal.

Advertisement
Advertisement