Advertisement

GOTONG ROYONG DALAM BERCOCOK TANAM
Dalam kehidupan desa di Jawa, gotong royong merupakan suatu sistem pengerahan tenaga tambahan dari luar kalangan keluarga, untuk mengisi kekurangan pada masa-masa sibuk dalam lingkaran aktivitas produksi bercocok tanam di sawah.
Untuk keperluan itu, dengan adat sopan santun yang sudah tetap, seorang petani meminta beberapa orang lain sedesanya, misalnya untuk membantu dalam mempersiapkan sawahnya untuk masa penanaman yang baru (memperbaiki saluran-saluran air dan pematang-pematang, mencangkul, membajak, dan lain sebagainya).
Petani tuan rumah hanya harus menyediakan makan siang tiap hari untuk temannya yang datang membantu selama pekerjaan berlangsung. Kompensasi lain tidak ada, tetapi yang minta bantuan tadi, tiap saat bersedia apabila mereka memerlukan bantuannya.
Dengan demikian, sistem gotong royong sebagai sistem pengerahan tenaga seperti itu amat cocok dan fleksibel untuk teknik bercocok tanam yang bersifat usaha kecil dan terbatas, terutama waktu unsur uang belurn masuk ekonomi pedesaan. Tenaga tambahan dapat dikerahkan bilamana perlu, dan segera dibubarkan lagi bila pekerjaan selesai. Di desa-desa di Jawa kerja sama tolong menolong dalam bercocok tanam seperti itu dilakukan para petani yang memiliki bidang-bidang yang berdekatan letaknya.
Dengan masuknya uang menjadi unsur penting dalam kehidupan ekonomi pedesaan, yang di beberapa daerah di Jawa sudah mulai dalam abad ke-19, tetapi di beberapa daerah lain mungkin baru setengah abad yang lalu, maka sistem pengerahan tenaga seperti itu mulai dianggap kurang praktis. Seorang ahli pertanian Belanda yang pernah bekerja di daerah Blitat di Jawa Timur B.A. Van Der Kolff, menulis tahun 1920, bahwa di daerah pedesaan Blitar itu banyak petani mulai meninggalkan adat gotong royong dalam produksi pertanian, dan menganggap lebih praktis untuk menyewa saja buruh tani yang diberi upah berupa uang.
Di daerah Blitar, katanya, yang dalam tahun 20-an merupakan daerah yang cukup padat, banyak petani yang sudah tidak mempunyai tanah lagi sehingga terdapat penawaran buruh tani yang sangat tinggi dengan upah yang sangat rendah. Kecuali itu, menurut laporan Van der Kolff, murid-murid dari pesantren yang banyak di desa-desa itu sering menawarkan jasa mereka sebagai buruh tani.
Dalam tahun 1920-an, di daerah Blitar jasa buruh tani juga banyak ditawarkan oleh penduduk wanita di desa-desa. Mereka hanya dikerahkan untuk pekerjaan memindahkan bibit padi dari persemaian untuk ditanam di sawah. Untuk itu, mereka juga diberi upah harian berupa uang (lihat karangan G.H.Van der Kolff, De.Historiche Ontwikkelingna D. Arbeidsverhuodingenbij de Rijscultuur in een Afgelegen Streek of Java Volkscredietwezen, 1973: halaman 3-72).
Saya sendiri pernah mengadakan penelitian yang khusus mengenai aktivitas gotong royong di beberapa desa di Jawa Tengah bagian selatan Kebumen, Karanganyar, tahun 1958 dan 1959.
Di desa-desa daerah itu, gotong royong disebut sambatan, dan memang mempunyai fungsi seperti terurai di atas. Istilah sambatan itu berasal dari kata sambat, artinya “minta bantuan” (dari kata Bitten = minta) untuk aktivitas gotong royong seperti itu juga yang kira-kira setengah abad yang lalu masih juga dilakukan di daerah pedesaan di Jerman.
Maka saya mengadakan penelitian di daerah Karanganyar – Kebumen itu, juga sudah beranggapan bahwa di dalam menyewa buruh tani dengan upah itu jauh lebih praktis daripada menyambat tetangga dengan sopan santun dan dengan kewajiban menjamu yang amat merepotkan. Memang daerah Karanganyar – Kebumen merupakan salah satu daerah yang paling padat di Jawa, sehingga upah buruh tani di sana sangat murah.
Adat sambatan walaupun oleh sebagian besar petani di daerah Karanganyar – Kebumen sudah dianggap kurang praktis, toh masih dilakukan oleh suatu bagian cukup besar daripada para petani di sana sekitar tahun 1959 itu. Istilah gotong royong, baru saja dikenal para petani di sana, ketika 3-4 tahun sebelumnya, istilah itu diintroduksi di daerah itu selama kampanye pemilu berlangsung.

Advertisement
Advertisement