Advertisement

Ahli perkamusan dan leksikografi Indonesia dengan latar belakang pendidikan kepamongprajaan. Seusai menempuh pendidikan itu pada jaman penjajahan Belanda (1941), ia menjadi calon pamong praja di Sumenep, Madura. Pada jaman pendudukan Jepang, ia terpilih sebagai pelajar Indonesia yang berhak meneruskan studi di Jepang bersama sejumlah pemuda lainnya yang tinggal di Pulau Jawa. Namun, studinya tidak selesai karena takluknya Jepang terhadap Sekutu dalam Perang Dunia II. Sebagaimana sejumlah pemuda Indonesia lainnya, ia lalu bekerja sebagai juru bahasa pada tentara pendudukan Sekutu.

Sekembalinya di Indonesia (1947) ia menangani berbagai bidang pekerjaan, antara lain  Hassan Shadily menjadi guru bahasa Inggris, pegawai bank, dan pegawai Departemen Luar Negeri. Kesempatan melanjutkan pendidikan di luar negeri kembali diperolehnya lewat beasiswa USIS. Ia melanjutkan pendidikan di Universitas Cornell, Amerika Serikat, tempat ia berkenalan dengan Prof. Dr. John Echols, mitranya dalam menyusun Kamus fndonesia-lnggeris. Kamus susunannya itu berhasil dalam pemasaran dan mengalami cetak ulang beberapa kali. Selanjutnya, bersama Penerbit Buku Ichtiar Baru-van Hoeve dan Elsevier Publishing Projects, disusun Ensiklopedi Indonesia dalam 7 jilid dengan jumlah keseluruhan 3.500 halaman (1980). Ia menjadi pemimpin redaksi umum penyusunan ensiklopedi itu.

Advertisement

Advertisement