Advertisement

Direktur utama Hotel Prapatan, pemilik Hotel Hyatt Aryaduta di Jakarta, dan juga Pemimpin Redaksi harian Indonesian Observer (Jakarta). Pada masa muda, ia merupakan satu-satunya gadis Indonesia yang pada masa praperang berhasil mencapai gelar Bachelor of Arts dari Universitas Columbia, New York, Amerika Serikat.

Pada mulanya Herawati belajar di Jepang dan kemudian di Amerika untuk mendalami ilmu kemasya¬rakatan dan jurnalistik. Sekembalinya dari Amerika, ia singgah di Filipina dan diterima Presiden Manuel Quizon, hal yang termasuk sangat langka pada masa itu. Setibanya di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, semua koper dan buku Herawati digeledah dan diperiksa polisi Belanda.

Advertisement

Pada saat Perang Pasifik pecah, Herawati, bersama ibu dan saudaranya serta warganegara Jepang, diinternir di Cibadak, Jawa Barat; sedangkan ayahnya, yaitu dokter Latip, oleh Belanda diinternir di Garut. Mereka baru dibebaskan setelah pasukan Jepang datang. Herawati lalu bekerja pada siaran radio militer Jepang. Di situ dia bertemu dengan pemuda Burha- nuddin Muhammad Diah yang kelak menjadi suaminya.

Sewaktu NICA Belanda datang kembali, ia ditangkap dan ditahan beberapa waktu lamanya dengan tuduhan bekerja sama dengan musuh. Pada awal masa kemerdekaan, Herawati ikut membangun Kementerian Luar Negeri RI. Kemudian ia menjadi wartawan Merdeka (Jakarta). Setelah harian tadi menerbitkan edisi mingguannya yang berbentuk majalah, Herawati pindah ke Mingguan Merdeka. Pada tahun 1952 dia mengemudikan majalah bulanan Keluarga yang namanya mengambil nama majalah asuhan ibunya sebelum masa perang dulu.

Selain bergerak di bidang jurnalistik, Herawati juga giat dalam Mitra Budaya, organisasi yang hendak mengembangkan kebudayaan pada umumnya.

Advertisement