Advertisement

Dalam arti yang paling umum, hukum adalah hubungan yang harus ada yang timbul dari hakikat berbagai hal. Dalam arti ini, semua memiliki hukumnya sendiri. Misalnya, Tuhan memiliki hukum sendiri; dunia materi punya hukumnya sendiri; makhluk berakal budi yang lebih tinggi daripada manusia juga punya hukumnya; begitu pula binatang buas dan manusia masing-masing punya hukumnya sendiri.
Orang-orang yang beranggapan bahwa kekuatan nasib yang buta menghasilkan berbagai hal yang kita lihat di dunia ini, sungguh-sungguh bicara ngawur, karena adakah yang lebih tidak masuk akal daripada anggapan bahwa suatu kekuatan buta menghasilkan wujud berakal budi?
Lalu ada akal budi tertinggi; hukum merupakan hubungan yang hidup antara akal budi tertinggi itu dengan berbagai wujud dan hubungan antara satu dengan lainnya.
Tuhan dihubungkan dengan alam semesta sebagai Pencipta dan Penyelenggara; hukum yang Ia gunakan untuk mencipta segala sesuatu juga merupakan hukum yang Ia gunakan untuk menyelenggarakan segala sesuatu itu. Ia bertindak menurut aturan karena Ia mengetahuinya, Ia tahu karena Ia-lah yang membuatnya dan Ia membuatnya karena aturan-aturan itu berhubungan dengan kebijaksanaan serta kekuasaan-Nya.
Mengingat bahwa dunia—meskipun dibentuk oleh gerak-an benda-benda, dan tidak berakal budi, berlangsung terus selama berabad-abad—gerakannya pasti dikendalikan oleh hukum-hukum yang tidak berubah-ubah; dan seandainya kita dapat membayangkan suatu dunia yang lain, pastilah dunia yang lain itu juga mempunyai aturan-aturan yang tetap, karena kalau tidak, dunia itu tak dapat tidak akan musnah.
Dengan demikian, penciptaan yang kelihatannya merupa-kan suatu tindakan sewenang-wenang itu, mengandaikan adanya hukum yang sama tetapnya dengan hukum nasib dari orang-orang Ateis. Sungguh tidak masuk akal mengatakan bahwa sang Pencipta bisa mengatur dunia tanpa aturan-aturan itu, karena tanpa aturan-aturan itu dunia tidak dapat terus berlangsung.
Aturan ini merupakan hubungan yang tetap dan tidak berubah-ubah. Dalam benda-benda yang bergerak, gerakan diterima, ditingkatkan, diperkecil, atau hilang, tergantung pada hubungan antara jumlah materi dan kecepatan gerak; tiap keanekaragaman adalah kesatuan, tiap perubahan adalah ketetapan:
Wujud-wujud berakal budi yang khusus mungkin juga punya hukum buatan sendiri, tetapi mereka juga punya hukum yang tidak mereka buat sendiri. Sebelum ada wujud-wujud berakal budi, hukum-hukum itu berwujud kemungkinan; dengan begitu wujud berakal budi itu memiliki kemungkinan hubungan-hubungan; dan karenanya juga memiliki hukum yang bersifat kemungkinan. Sebelum hukum dibuat, ada hubungan-hubungan keadilan yang mungkin. Mengatakan bahwa tak ada satu pun yang adil atau tidak adil, selain apa yang diperintahkan atau dilarang oleh hukum positif, sama saja dengan mengatakan bahwa sebelum menggambarkan suatu lingkaran, semua jari-jari tidak sama panjangnya.
Oleh karena itu, kita harus mengakui hubungan-hubungan keadilan yang ada sebelum hukum positif, dengan mana hubungan keadilan itu ditetapkan: misalnya, jika ada masyarakat manusia, tunduk kepada hukum mereka adalah sesuatu yang benar; jika ada wujud berakal budi yang mendapatkan manfaat dari makhluk lain, mereka wajib memperlihatkan rasa terima kasih; jika suatu wujud berakal budi telah menciptakan wujud berakal budi lainnya, ciptaan itu perlu tetap dalam ketergantungan aslinya; jika suatu wujud berakal budi melukai sesama wujud lainnya, pihak lain itu berhak membalas, dan seterusnya.
Tetapi dunia berakal budi tidak teratur baik sebagaimana halnya dunia jasmani. Karena, meskipun dunia berakal budi itu juga memiliki hukurnnya sendiri, yang pada hakikatnya tidak berubah-ubah, dunia itu tidak mematuhi hukumnya sendiri. Ira karena di satu pihak, wujud-wujud berakal budi tertentu punya hakikat terbatas, dan karenanya dapat membuat kesalahan, di lain pihak hakikat mereka menuntut mereka untuk menjadi pelaku-pelaku bebas. Oleh karena itu mereka tidak tunduk secara tetap kepada hukum-hukum asli mereka, bahkan hukum yang mereka buat sendiri pun sering mereka langgar.
Apakah hewan diatur dengan hukum gerak yang umum, atau oleh gerakan tertentu, tidak dapat kita tentukan. Walaupun demikian, hewan tidak punya hubungan lebih dekat dengan Tuhan daripada dunia materi lainnya; dan sensasi tak ada manfaatnya bagi mereka selain untuk berhubungan antar mereka sendiri maupun dengan wujud tertentu lainnya.
Dengan daya tarik kenikmatan hewan menyelenggarakan hidupnya masing-masing dan dengan daya tarik yang sama mereka menyelenggarakan kehidupan kelompok mereka. Hewan memiliki hukum kodrat karena disatukan oleh sensasi; hukum positif tidak mereka miliki, karena mereka tidak dihubungkan satu sama lain lewat pengetahuan. Tetapi hewan tidak selalu tunduk pada hukum kodrat mereka; ini dapat diamati dengan lebih baik pada tumbuhan, yang tidak punya akal budi maupun indera.
Hewan tidak memiliki kelebihan yang kita miliki, tetapi mereka memiliki beberapa kelebihan lain yang tidak kita miliki. Hewan tidak punya harapan seperti kita, tetapi mereka juga tidak punya rasa takut; seperti kita, mereka pun akan mati, tetapi tidak mengetahui hal itu; bahkan kebanyakan hewan lebih memperhatikan pelestarian diri dibandingkan diri kita dan tidak mengumbar nafsu mereka sejelek manusia.
Manusia, sebagai wujud jasmani seperti halnya benda-benda lain tunduk pada hukum-hukum yang tetap. Sebagai wujud yang berakal budi acapkali ia melanggar hukum yang ditetapkan oleh Tuhan dan mengubah hukum-hukum yang ditetapkannya sendiri. Ia dibiarkan menentukan arahnya sendiri, meskipun ia hanya wujud yang terbatas, dan sebagaimana halnya semua wujud berakal budi yang terbatas, tunduk pada kebodohan dan kesalahan: ia bahkan dapat kehilangan pengetahuarmya yang tidak sempurna itu. Dan sebagai ciptaan yang berpengertian ia dikejar-kejar oleh seribu satu nafsu yang hebat. Wujud seperti itu dapat melupakan Penciptanya setiap saat; oleh karena itu, dengan hukum agama Tuhan mengingatkan akan kewajibannya. Wujud semacam ini setiap saat bisa lupa akan dirinya. Untuk menghadapi hal ini, filsafat telah menyediakan hukum moralitas. Karena dibentuk untuk hidup dalam masyarakat, manusia dapat melupakan sesama ciptaan lainnya. Oleh karena itu, dengan hukum politik dan sipil, pembuat
undang-undang mengikat manusia pada kewajiban-kewajibannya.

Advertisement
Advertisement