MENGENAL HUKUMAN BAGI PARA TUKANG SIHIR ABAD KE-13

88 views

Hukuman bagi para Tukang Sihir. Selama abad ke-13 dan beberapa abad setelahnya, masyarakat yang sudah menderita karena kekacauan sosial dan kelaparan yang terus terjadi serta berbagai wabah penyakit akhirnya kembali ke demonologi untuk mencari penjelasan tentang berbagai bencana tersebut. Masyarakat Eropa kembali terobsesi dengan setan. Ilmu sihir, yang dianggap ciptaan setan, dianggap sebagai penyimpangan dan penolakan terhadap Tuhan. Masa bencana tersebut berperan besar dalam tudingan terhadap orangorang yang dianggap sebagai tukang sihir sebagai sumber bencana, dan orang-orang malang tersebut dihukum oleh masyarakat dengan sangat antusias.

Pada tahun 1484, Paus Innocent VIII memerintahkan para pendeta Eropa untuk melakukan pencarian para tukang sihir secara besar-besaran. Dia mengirimkan dua biarawan Dominikan ke Jerman Utara sebagai penyelidik. Dua tahun kemudian mereka menerbitkan manual yang lengkap dan jelas, Malleus Maleficarum (Palu para Tukang Sihir), sebagai panduan dalam perburuan para tukang sihir. Dokumen resmi dan teologis tersebut dianggap sebagai buku teks tentang ilmu sihir oleh kaum Katolik dan Protestan. Mereka yang dituduh sebagai tukang sihir harus disiksa jika tidak mengaku; mereka yang dianggap terbukti bersalah dan menyesalinya dipenjara seumur hidup; dan mereka yang bersalah serta tidak menyesalinya dieksekusi secara hukum. Manual tersebut menjelaskan bahwa hilangnya nalar seseorang secara mendadak merupakan simtom kerasukan setan dan pembakaran menjadi metode umum untuk mengusir setan dari tubuhnya. Walaupun catatan sejarah mengenai periode tersebut tidak dapat diandalkan, selama beberapa abad setelahnya diperkirakan ratusan ribu wanita, pria, dan anak-anak telah dituduh, disiksa, dan dibunuh.

Ilmu Sihir dan Penyakit Jiwa. Selama beberapa waktu, para peneliti zaman modern percaya bahwa orang-orang yang sakit jiwa di akhir Abad Pertengahan dianggap sebagai tukang sihir (Zilboorg & Henry, 1941). Dalam pengakuannya tertuduh kadangkala mengatakan telah melakukan hubungan seks dengan setan dan terbang ke sabbat, tempat pertemuan rahasia sekte mereka. Pengakuan ini diinterpretasi oleh beberapa penulis sebagai delusi atau halusinasi sekaligus mengindikasikan bahwa beberapa orang yang dianggap tukang sihir adalah psikotik. Aktivitas yang melandasi Rumah Sakit Holy Trinity di Salisbury, Inggris, dimulai pada pertengahan abad ke-14, menjelaskan tujuan rumah sakit tersebut, salah satunya adalah bahwa “orang yang tidak waras diamankan sampai mereka memperoleh nalarnya kembali”. Hukum Inggris dalam periode ini mengizinkan orang tidak waras yang membahayakan dan orang yang tidak kompeten untuk dirawat di rumah sakit. Sebagai catatan, orang yang dirawat tidak digambarkan sebagai orang yang kerasukan (Allderidge, 1979).

Dimulai pada abad ke-13, pengadilan ketidakwarasan untuk menentukan kewarasan seseorang dijalankan di Inggris. Pengadilan tersebut dilakukan di bawah hukum kerajaan untuk melindungi mereka yang sakit jiwa, dan penilaian ketidakwarasan memberikan hak pada kerajaan untuk menjadi pelindung tempat para orang tidak waras (Neugebauer, 1979). Orientasi, ingatan, kecerdasan, kehidupan sehari-hari, dan kebiasaan si tertuduh menjadi isu dalam pengadilan tersebut. Penjelasan perilaku aneh umumnya berkaitan dengan penyakit fisik atau cedera atau tekanan emosional tertentu. Dalam semua kasus yang diteliti Neugebauer, hanya satu yang dirujuk sebagai kerasukan setan. Bukti-bukti yang dominan tersebut sekaligus mengindikasikan bahwa penjelasan mengenai gangguan mental tersebut yang terjadi pada Abad Pertengahan tidak sedominan seperti perkiraan semula.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *