Advertisement

Tokoh ulama 7- mazhab Hanbali yang dikenal sebagai muhyi at sari 7- salaf (pembangkit kembali ajaran-ajaran salaf sebagaimana dikenal pada jaman sahabat dan tabi’in). Nama lengkapnya Abu Abbas Ahmad bin Abdu’l- Halim bin Abdu’l-Salam Abdullah bin Muhammad bin Taimiyyah. Ia dilahirkan di Haran dekat kota Damaskus, Suriah, lima tahun setelah kota Baghdad jatuh ke tangan tentara Mongol pimpinan Hulagu Khan. Ayahnya termasuk ulama terkemuka dalam kalangan ulama mazhab Hanbali, bahkan kakeknya dijuluki syaikhu ‘l-Isiam, sebutan untuk ulama besar. Pada usia enam tahun ia mengikuti ayahnya pindah ke Damaskus untuk menghindari keganasan tentara Mo-ngol. Setelah belajar di bawah bimbingan ayahnya, ia melanjutkannya pada Ali Zainu’l-Din al-Muqaddasi, Najmu ‘1-Din bin Asakir, dan ulama wanita Zainab binti Maki. Dalam usia muda ia dikenal sebagai ahli fikih, Quran, hadits, teologi, logika, dan filsafat.

Setelah ayahnya meninggal (1282), Ibnu Taimiyyah menggantikan kedudukannya sebagai guru besar ilmu fikih di kalangan mazhab Hanbali. Jabatan ini dipangkunya selama 17 tahun. Ia berpikiran bebas dan berani mengemukakan pendapat yang berbeda dengan pendapat ulama terdahulu. Selain itu, ia tidak segan-segan mengemukakan kritik keras terhadap pe-nguasa yang dianggapnya menyimpang. Karena keberaniannya ini, ia sering keluar masuk penjara. Di penjara pulalah ia meninggal. Meski demikian, ia sangat dihormati; sekitar 200.000 ribu umat mengantarkan jenazahnya.

Advertisement

Sebagai ulama, ia meninggalkan banyak karya tulis, antara lain al-Siyasah al-Syar iyah, Risalah Ma’a- riji ‘l-Wushul, Qaidah Jalilah fi Tawashul wa ‘l-Wa- shilah, Iqtidau ‘l-Shirathi ‘ l-Mustaqim, al-Qiyas f i Syari’ati ‘l-Islam, dan al-Fatawa.

Advertisement