Advertisement

MENGENAL ISWAHYUDI (1918-1946) – Lengkapnya Iswahyudi Wiryomihardjo, adalah marsekal pertama Angkatan Udara Indonesia yang gugur di masa revolusi, ketika sedang menunaikan tugas­nya di Malaysia.

Iswahyudi lulusan AMS di Malang. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke NIAS (Sekolah Dokter di Surabaya) yang hanya ditempuhnya hingga ting­kat III, karena ia lebih ber­minat dalam bidang pener­bangan. Ia masuk sebagai kadet Luchtvaart Opleiding School (1941). Ketika si­tuasi di Hindia memanas dan gejala akan pecahnya Perang Pasifik tampak, Iswahyudi pindah ke Australia karena sekolah pe­nerbangan tempatnya belajar pindah ke sana.

Advertisement

Pada saat api peperangan berkobar, Iswahyudi membuat kejutan dengan melakukan pendaratan di Lodojo, Blitar Selatan, pada tahun 1943. Ia kemudian ditangkap Kenpetai dan dimasukkan ke kamp tahanan di Karangmenjangan Surabaya. Karena sikap Jepang terhadap (bekas) serdadu Indonesia lebih lunak dari­pada sikap mereka terhadap serdadu kulit putih, status Iswahyudi diubah menjadi tahanan kota, bahkan ia diizinkan bekerja.

Pada masa revolusi, Iswahyudi ikut memelopori pe­rebutan kekuasaan di kalangan Jawatan Kereta Api di Surabaya. Dalam situasi yang ditandai dengan pe­nurunan Hinomaru dan pengibaran Merah Putih itu Iswahyudi berhasil menyelamatkan sejumlah pesawat terbang milik Jepang beserta suku cadangnya. Pada bulan Desember 1945, ketika Sekolah Penerbangan dibuka di Yogyakarta, ia terpanggil untuk bergabung. Bersama Adisutjipto, ia diberi kepercayaan untuk menjadi instruktur di sekolah itu, dengan pangkat opsir udara kelas II.

Pada bulan April 1946 Iswahyudi diberi kepercaya­an untuk membawa rombongan misi Pemerintah Pu­sat RI, yang terdiri atas Kepala Staf Angkatan Udara Suryadarma, Mayor Jenderal Soedibyo, dan Halim Perdanakusumah, ke Sumatra. Pada tahun 1947 Is­wahyudi sudah mahir mengemudikan berbagai jenis pesawat udara yang dimiliki Indonesia ketika itu. Ia kemudian dipindahkan dari Sekolah Penerbangan di Yogyakarta ke Maospati di Madiun; kemudian kem­bali lagi ke Yogyakarta, lalu dipindahkan lagi ke Bukittinggi. Di Sumatra, bersama Abdurrachman Sa­leh, ia membuka organisasi kedirgantaraan yang ke­mudian mengadakan hubungan dengan luar negeri dengan menerobos blokade Belanda.

Iswahyudi bertindak sebagai copilot ketika mem­bawa Wakil Presiden Mohammad Hatta ke India se­cara incognito pada tahun 1947 (Ketika itu Hatta menggunakan nama samaran Abdullah). Berkat kegesitan dan kemampuannya menggerakkan massap Iswahyudi berhasil menghimpun dana dari masyara­kat Bukittinggi untuk membeli sebuah pesawat udara. Pesawat itu dari jenis Avro-Anson VH-BB4 dan di­beri nomor registrasi RI-003, yang kemudian disum­bangkan kepada pemerintah RI untuk kepentingan perjuangan. Dengan pesawat inilah Iswahyudi berkali- kali terbang ke Bangkok melalui Singapura, membawa candu atau barang berharga lainnya untuk ditukar dengan senjata, obat-obatan, bahan pakaian, dan ke­perluan perjuangan lainnya.

Pada tanggal 15 Desember 1947 terbetik berita ke­celakaan sebuah pesawat udara yang diperkirakan akibat cuaca buruk. Beberapa nelayan Malaya kemu­dian menemukan jenazah Halim Perdanakusuma di dekat Teluk Hantu. Iswahyudi, yang terbang bersama­nya, tidak ditemukan hingga kini. Jenazahnya diperkirakan hilang tertelan ombak lautan. Pada tahun 1975 kedua jenazah penerbang ini secara simbolis dipindahkan dari bumi Malaysia ke Taman Makam pahlawan Kalibata, Jakarta.

Oleh pemerintah RI, Iswahyudi dinaikkan pangkat­nya menjadi komodor muda udara (sekarang marse­kal muda) dan namanya diabadikan pada lapangan terbang Maospati di Madiun.

Incoming search terms:

  • komodor iswahyudi

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • komodor iswahyudi