Advertisement

Perkembangan komunikasi melalui pos yang sudah ada sejak sebelum masehi di dunia semakin canggih karena adanya penemuan alat transportasi baru, membuat komunikasi menjadi makin cepat. Komunikasi ini pada masa kolonial di Indonesia dibutuhkan untuk mengatasi masalah hubungan komunikasi pemerintahan untuk menunjang kegiatan politik dan ekonominya. Namun, sejak pertengahan abad XIX di Hindia Belanda berkembang jenis alat komunikasi baru yang

tidak mengandalkan alat transportasi, tetapi hanya menggunakan seutas kawat logam. Alat ini dikenal dengan ‘telegraf. Sejak itulah berkembang era telekomunikasi di dunia dan selanjutnya juga di Hindia Belanda. Perkembangan penemuan alat telegraf dimulai dari penemuan telegraf listrik oleh Galvani pada 1789-yang kemudian disempurnakan oleh Ampere-dan penemuan telegraf magnetik oleh Gay Lussac. Pada akhirnya alat ini disempurnakan oleh Samuel Finlay Breeze Morse, seorang Amerika yang menemukan alat yang dapat mencatat pesan sinyal telegraf yang tercetak pada pita kertas (Sopandi dkk, 1982: 89).

Advertisement

Perkembangan teknologi telekomunikasi di Eropa dan Amerika tersebut menarik perhatian pemerintah Belanda untuk membangun prasarana telegraf di Hindia Belanda, terutama di Jawa, sebagai daerah pusat pemerintahan dan pertumbuhan ekonomi Hindia Belanda. Kebutuhan yang dirasakan penting adalah membuat jaringan telegraf antara pusat pemerintahan Hindia Belanda atau kedudukan Gubernur Jenderal di Bogor (Buitenzorg) dengan pusat kegiatan perekonomian dan administrasi kolonial di Jakarta (Batavia). Untuk itulah pemerintah kemudian membangun jaringan telegraf antara Batavia dan Buitenzorg yang selesai dibangun dan dioperasikan sejak 23 Oktober 1956. Peralatan telegraf langsung diimpor dari Eropa, sementara untuk jaringan kawat penghubungnya digunakan pohon kapuk sebagai tiang-tiangnya. Dalam peristiwa yang bersejarah itu Kepala Pelayanan Telegraf Pemerintah Groll mengirim telegraf kepada Gubernur Jenderal C. F. Pahud. Sementara itu, hubungan telegraf antara Batavia dan Surabaya juga dengan Semarang dan Ambarawa tersambung sejak 1857. Pada 1859 sudah didirikan sebanyak 28 kantor telegraf di seluruh Jawa dengan panjang kawat 2.700 km. Dalam pada itu pembangunan jaringan telegraf di Sumatra mulai berfungsi sejak 1866, meskipun dengan hambatan yang lebih besar karena tiang kawat yang menggunakan pohon mudah rusak atau tum-bang karena angin ribut dan gangguan gajah (Sopandi dkk, 1982: 89-91). Pada saat itu fungsi telegraf masih dipakai-‘ untuk kepentingan birokrasi pemerintah Hindia Belanda. Jaringan telegraf internasional dengan Eropa dan Amerika dapat dilakukan melalui Singapura.

Perkembangan baru dalam teknologi telegraf muncul ketika ditemukan alat telegraf yang bisa dipancarkan melalui gelombang radio tanpa menggunakan kabel. Selain itu situasi perang yang terjadi di Eropa pada 1914-1918 mengakibatkan banyak jaringan kabel yang rusak dan hancur, memutuskan hubungan antara Indonesia dan Eropa. Kondisi ini kemudian dijadikan pertimbangan untuk menggunakan alat komunikasi ‘radio telegraf yang sudah dikenal di Eropa. Pada

1916 pemerintah Hindia Belanda menerima bantuan dari perusahaan Telefunken di Jerman, berupa peralatan radio telegraf yang kemudian dipasang di daerah Cangkring, dataran tinggi Bandung. Keberhasilan radio telegraf sebagai alat telekomunikasi tanpa kabel ini membuat pemerintah pada 1917 membangun stasiun radio telegraf di Malabar (Bandung) dengan kontraktor dari perusahaan Jerman, Telefunken. Peralatan itu sudah dikirim pada 1917 tetapi baru datang pada 1919. Instalasi pemancar berkekuatan 1.900 kwdi Malabar selesai dibangun pada 1923, dan diresmikan oleh Gubernur Jenderal D. Fock tanggal 5 Mei 1923. Dengan digunakannya fasilitas radio telegraf ini, komunikasi dapat dilakukan antara Hindia Belanda dengan negeri Belanda, dan juga dengan wilayah Amerika, Jerman, Indocina, dan Jepang. Selain itu untuk memperluas jaringan di seluruh wilayah kepulauan, stasiun radio telegraf dibangun juga di wilayah Situbondo, Kupang, Ambon, Tomohon, Banda, Manokwari, Merauke, Buton, Bima, Waingapu, Ende, Bengkalis, dan Medan (Sopandi dkk, 1982: 97-99).

Perkembangan telekomunikasi pada masa kolonial juga berkembang akibat ditemukannya pesawat telepon sejak akhir abad XIX. Penemuan alat ini membawa dampak yang cukup besar bagi dunia pertelekomunikasian karena dengan alat ini komunikasi antarindividu dapat terjadi langsung melalui pembicaraan jarak jauh. Sejak 1881 jaringan telepon milik swasta sudah dibangun di beberapa kota, seperti di Batavia, Gambir, Tanjung Priok, Semarang, dan Surabaya. Sementara jaringan telepon antara Batavia dengan Semarang tersambung sejak 16 November 1896, Batavia-Surabaya 7 Desember 1898, dan Bandung-Sukabumi 15 Juli 1898. Namun, sejak 20 September 1906, jaringan telepon ini kemudian diambil alih oleh pemerintah Hindia Belanda. Tanggal inilah kemudian menjadi tanggal resmi berdirinya perusahaan Post, Telegrafh en Te(PTT). Selama ini jaringan telepon masih menggunakan kabel. Sejak 1924, sudah digunakan radio telepon antara Surabaya dengan Makassar. Saluran radio telepon Hindia Belanda dengan Negeri Belanda mulai dibuka sejak Januari 1929 dan berlanjut ke seluruh Eropa sejak 1930 (Sopandi dkk, 1982:108-110).

Pada masa pendudukan Jepang, kantor Pos Telegraf dan Telepon (PTT) dijadikan sebagai alat untuk menjalankan kepentingan pemerintahan militer Jepang, karena posisinya yang sangat sentral sebagai lembaga yang melayani lalu lintas berita dan komunikasi. Stasiun-stasiun radio pemancar beserta peralatanperalatan radio telegraf dan telepon yang sudah dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda dimanfaatkan oleh pemerintah Jepang. Pada masa pendudukan Jepang,

banyak karyawan Indonesia menduduki posisi yang cukup penting, berbeda dengan masa penjajahan karena ketika itu kebanyakan pegawai pribumi hanya menduduki posisi bagian bawah.

Banyak fasilitas PTT warisan Belanda yang diambil alih oleh orang Jepang, seperti radio pemancar di Dayeuhkolot (selatan Bandung) dikuasai oleh Kokusai Denki Tsusinkyoku yang merupakan perusahaan swasta. Radio ini melayani hubungan Indonesia dengan Jepang dan Jerman. Begitu juga dengan pemancar radio di Malabar dan Rancaekek (keduanya di Bandung) yang juga dikuasai oleh pemerintahan pendudukan Jepang. Pada masa Jepang, ada seorang Indonesia yang menduduki posisi tertinggi, yaitu Mas Suharto sebagai kepala biro (Controleur I). Sementara itu, ada seorang pegawai mudayang sangat giat dalam perjuangan untuk menjadikan PTT sebagai alat perjuangan bangsa ketika masa pendudukan Jepang dan masa Awal Revolusi, yaitu Soetoko. Ia memelopori pendirian Barisan Pusat PTT (Tsusin Tai) sebagai badan pemuda yang memperkuat korps PTT.

Perang Pasifik yang semakin mengancam kekuasaan Jepang di Asia dan Pasifik, juga diikuti perkembangannya oleh pegawai PTT. Di kantor pusat PTT pada Januari 1945 dibentuklah Pasukan Istimewa PTT atau Barisan Pelopor PTT (‘Tsusin Tokubet Sutai). Organisasi ini dipimpin oleh Soetoko. Berita penyerahan Jepang kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945 dapat diketahui oleh pihak Indonesia, karena beberapa kantor telegraf dan pesawat penerimanya masih belum disegel. Selain itu, para operator telepon radio juga secara diam-diam mengikuti siaran luar negeri, baik dari pihak Jepang maupun dari pihak Australia. Informasi ini kemudian diteruskan kepada para pejuang dan tokoh-tokoh nasional Indonesia.

Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang dibacakan oleh Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur juga diterima di Bandung pukul 12.00. Kabar ini disampaikan melalui Kantor Berita Domei Jakarta ke Kantor Berita Domei di Bandung. Kantor PTT Bandung juga menyiarkan berita ini melalui telegraf dan telepon ke semua kantor PTT di banyak kota lain di Indonesia. Bahkan Radio Pemancar Bandung menyiarkan isi proklamasi dalam bahasa Inggris dan Indonesia secara terus-menerus. Oleh pegawai PTT, siaran tersebut disambungkan ke alat pemancar gelombang pendek yang membuat siaran-siaran tersebut dapat tersiar ke seluruh dunia.

Incoming search terms:

  • kantor telegram melayani pengguna jasa
  • alat yang mengukur kawat telegraf
  • arti radio ptt
  • komunikasi jaman kolonial
  • membuat tlp telegrap
  • Pengertian telegram tepon

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • kantor telegram melayani pengguna jasa
  • alat yang mengukur kawat telegraf
  • arti radio ptt
  • komunikasi jaman kolonial
  • membuat tlp telegrap
  • Pengertian telegram tepon