Jean Piaget  (1896-1980)

Jean Piaget, filsuf, ahli biologi dan psikolog Swiss, adalah seorang profesor psikologi eksperimen di University of Geneva (1940-1971) dan profesor psikologi perkembangan di Sorbonne, Paris (1952- 1963). Sebagai seorang psikolog, Piaget dipenga-ruhi oleh Freud, Janet, J. M. Baldwin dan Claparede. Teori dan eksperimen Piaget, yang dipublikasikannya dalam banyak buku dan artikel, menempatkannya sebagai salah satu psikolog terkemuka abad ini.

Pencarian Piaget sepanjang hidupnya adalah mengetahui asal-usul pengetahuan. Terlatih sebagai ahli biologi, dan yang pada awalnya dipengaruhi filsafat perkembangan evolusioner Bergson, ia berusaha menjelaskan kondisi pengetahuan dengan mempelajari asalnya. Teori evolusioner, psikologi perkembangan tentang inteligensi anak, dan sejarah ilmu pengetahuan dimaksudkan untuk menjadi pilar-pilar ilmiah proyek epistemologi ini.

Gasasan utama yang dituangkan dalam buku awalnya adalah egosentrisme pada masa kanak-kanak dan pergantiannya secara bertahap oleh pemikiran tersosialisasi karenanya logis. Egosentrisme dari anak-anak usia muda diperlihatkan melalui ketidakmampuannya membedakan pendapatnya sendiri dari pendapat orang lain. Pengalaman atau pengaruh orang dewasa tidak cukup untuk mendapatkan pemikiran logis. Menurut Piaget, pemikiran logis itu didapatkan ketika egosentrisme ditinggalkan karena si anak ingin dan butuh berkomunikasi dengan anak-anak sebaya.

Pada akhir dekade 1920-an dan awal 1930-an Piaget melakukan observasi ekstensif terhadap anak-anaknya sendiri yang masih bayi, dan menguraikan teorinya tentang intelegensi motor sensorik pada masa bayi. Berlawanan dengan konsepsi kontemporer, ia beranggapan bahwa bayi secara aktif dan spontan berorientasi kepada lingkungannya. Ketika bayi-bayi itu ‘mengasimilasi’ benda- benda pada pola tindak mereka, pada waktu bersamaan mereka harus ‘mengakomodasi’ pola-pola tersebut pada keadaan darurat dunia luar. Dalam proses interaksi dengan lingkungan ini, bakat bawaan si anak muncul ke permukaan dan pola-pola perilakunya diubah, didiferensiasi dan sama-sama dikoordinasi. Pengorganisasian pola- pola aksi tersebut memunculkan sebuah ‘logika tindakan’. Berkenaan dengan perkembangan dari konsep obyek, Piaget menyatakan bahwa pada mulanya anak-anak tidak tampak menyadari suatu keberadaan dunia secara terlepas dari tindakan- tindakan mereka terhadap dunia itu. Pada kasus seorang bayi bermain boneka, ia tidak akan mencari bonekanya seandainya boneka itu disembunyikan menurut Piaget, bagi bayi boneka tersebut sudah tidak eksis lagi. Konsep tentang keberadaan dunia yang independen terbangun secara bertahap selama masa bayi dan tercapai sepenuhnya dalam waktu 18 bulan ketika si anak telah mampu merepresentasikan berbagai hal dalam pikirannya.

Eksistensi logika dalam tindakan, yang dibuktikan dalam kajian tentang bayi, membuat Piaget merevisi teorinya tentang asal-usul pemikiran logis pada masa kanak-kanak awal. Operasi-operasi logika disiapkan dalam inteligensi motor sensorik, dan operasi logika ini merupakan hasil dari internalisasi terhadap intelegensi motor sensorik. Dengan demikian, penca- pa.an pemikiran logis bukan hasil dari interaksi verbal dengan anak-anak lain tapi hasil dari rekonstruksi si anak atas sesuatu yang baru. Piaget memandang perkembangan kognitif sebagai peristiwa bertahap, yang ditandai dengan suatu ekuilibrium dinamis antara struktur-struktur kognitif anak dan lingkungannya. Perkembangan adalah hasil dari proses penyeimbangan di mana keseimbangan dari suatu bentuk yang jauh lebih stabil dicari dan dicapai. Piaget membedakan tiga tahap: tahap motor sensorik (0-18 bulan), tahap operasi konkret (7-11 tahun) dan tahap operasi formal (sejak usia 11 tahun). Dalam setiap tahap ini pemikiran anak-anak dicirikan dengan logikanya sendiri-sendiri; tindakan logis dalam tahap motor sensorik, suatu logika diterapkan pada situasi konkret dalam tahap operasi konkret, dan suatu logika diterapkan pada pernyataan-pernyataan simbolik atau verbal dalam tahap operasi formal.

Dalam periode antara motor sensorik dan tahap operasi konkret (yang oleh Piaget disebut periode pre-operasionat) pemikiran anak-anak tidak memiliki kemungkinan untuk menjalankan operasi, yakni berbagai tindakan mental yang bisa diulang-ulang. Piaget dan para koleganya menunjukkan dalam percobaan sederhana namun meyakinkan tentang transisi dari pre-operasional menuju pemikiran konkret mengenai konsep- konsep, seperti nomor, ketinggian, ruang, dan luka fisik. Dalam percobaan ini mereka tidak membatasi hanya pada interaksi verbal, tetapi memperkenalkan berbagai materi yang dapat dimanipulasi oleh anak-anak. Dalam tugas pemeliharaannya yang paling populer, seorang anak diharuskan menilai apakah banyaknya cairan yang dituang ke dalam gelas dalam berbagai proporsi mengalami perubahan atau tidak. Anak dalam periode pre-operational umumnya dibingungkan oleh tampilan perseptual dari situasi tersebut. Hanya anak dari periode operasi konkret yang dapat mengembalikan transfer dalam pemikiran dan memberikan jawaban yang tepat.

Sejak tahun 1950 Piaget menerbitkan berbagai kajian epistemologinya yang cemerlang di mana ia menolak empirisisme dan rasionalisme. Konsekuensinya ia menentang behaviorisme, teori-teori perkembangan kedewasaan dan ide para nativis dalam psikologi Gestalt. Anak yang baru lahir bukan tabula rasa siap menerima segala kesan tentang lingkungan ataupun dibekali pengetahuan yang apriori tentang dunia. Piaget menunjukkan dirinya sebagai murid Kant dengan beranggapan bahwa pengetahuan kita tentang dunia dijembatani oleh struktur-struktur kognitif. Tetapi, berbeda dengan Kant, ia tidak menganggap semua ini sebagai ide-ide fundamental yang sudah ada sejak lahir: ia menunjukkan bahwa ini merupakan produk dari suatu proses panjang konstruksi dalam interaksi antara subyek dan lingkungan. Karena itu ia menyebut epistemologinya sebagai epistemologi genetika (genetic epistemology).

Tujuan dari epistemologi genetika adalah merekonstruksi perkembangan pengetahuan dari bentuk-bentuk biologinya yang paling mendasar sampai pencapaiannya yang tertinggi, termasuk pemikiran ilmiah. Psikologi mempunyi peran dalam proyek ini sepanjang mempelajari perkembangan struktur-struktur biologi bayi manusia di dalam motor sensorik dan inteligensi operasional. Tapi usaha ini sesungguhnya bagian dari bidang biologi, karena pertumbuhan inteligensi terjadi sebagai kelanjutan dari adaptasi biologis. Inteligensi adalah produk khusus manusia dengan prinsip-prinsip biologi yang sama dengan semua makhluk hidup lainnya: adaptasi menimbulkan reorganisasi struktural dan keseimbangan atas berkembangnya stabilitas.

Piaget berpendapat bahwa psikologi memang diperlukan tapi merupakan bagian kecil dari epistemologinya; dan ia selalu menyesali tidak terhindarkannya elemen psikologi dalam karya-karyanya. Di International Centre for Genetic Epistemology yang ia dirikan di University of Geneva tahun 1955 dan mampu menarik perhatian para ahli dari segala bidang kajian Piaget merangsang kajian interdisipliner atas epistemologi. Namun sambutan atas ide-ide epistemologinya tidak pernah lebih dari suatu cerminan kegairahan universal terhadap Piaget sebagai psikolog,

Pengaruh Piaget atas psikologi perkembangan bisa dikatakan tidak terlalu mencolok. Ide-idenya dipandang sebagai bantuan untuk menggantikan teori-teori behaviouristik dan psikoanalitik dalam psikologi. Ia mengatur batas-batas pembahasan psikologi perkembangan kognitif dari tahun 1960- an sampai sekarang. Tetapi ide-ide dan metodenya selalu menjadi sasaran kritikan. Banyak ahli psikologi perkembangan berpandangan bahwa Piaget meremehkan kapasitias kognitif anak-anak, dan ia dicela karena dalam studinya yang belakangan mengabaikan konteks sosial dari perkembangan demi subyek epistemik yang terisolasi. Karena itu, banyak orang lebih memperhatikan karya-karya awal Piaget.