John Stuart Mill (1806-73)

John Stuart Mill, eksponen klasik dari liberalisme, dibesarkan dalam prinsip-prinsip utilitarian oleh ayahnya, James Mill, teman baik dan rekan Bentham. Pendidikan masa kanak-kanaknya, digambarkan dalam Authobiography (1873), mewajibkan penguasaan bahasa-bahasa klasik pada umur 7 tahun. Sebagian besar masa bekerjanya dihabiskan sebagai seorang pegawai di India House di London, kendati pernah sebentar menjadi anggota Parlemen. Setelah terlibat lama di badan tersebut, ia menikah dengan Harriet Taylor yang selalu ia sebut sebagai sumber inspirasi dan mitra intelektualnya. Mengenai perkawinannya, sebagai protes terhadap kondisi hukum wanita pada masa itu, ia menulis suatu penolakan formal terhadap hak pemilikan dan kesamaan hak yang dilimpahkan padanya sebagai seorang suami.

Mill adalah seorang pemikir dan penulis yang punya banyak sisi seorang filsuf, ilmuwan sosial dan humanis. Di antara berbagai subyek yang ia ketengahkan adalah politik, etika, logika dan metode ilmiah. Ia juga menulis mengenai posisi wanita (The Subjection of Women, 1959), reformasi konstitusional (Considerations on Representative Government, 1861) dan ekonomi (Principles of Political Economy, 1848).

Dalam Utilitarianism (1861) Mill menjelaskan dan mempertahankan prinsip bahwa kecenderungan tindakan menuju ke arah kebahagiaan atau kebalikannya merupakan standar benar dan salah. Versi Mill mengenai utilitarianisme mungkin salah jika dilihat dari sudut pandang logis. Tapi, pendapat Mill ini justru mendapatkan pembenarannya dari sudut pandang moral, yaitu pendapat bahwa kebahagiaan dalam beberapa hal lebih berharga dibandingkan hal-hal lain. On Liberty (l 859) adalah argumentasi klasik bagi klaim-klaim individu dalam menentang negara, dan dalam karya tersebut Mill sungguh-sungguh mempertahankan prinsip kebebasan dan toleransi. Isaiah Berlin menulis tentang Mill bahwa “nilai- nilai termulia dari dirinya …adalah kebebasan individual, keberagaman dan keadilan.” Pendapat ini kadangkala terlihat tidak konsisten dengan pandangannya mengenai utilitarianisme, tapi Mill percaya bahwa berbagai prinsip seperti kebebasan dan keadilan merupakan instrumen-instrumen sosial yang penting demi kemanfaatan (utility). Pendapat ini bertitik tolak dari pandangannya mengenai sifat manusia, dan pada khususnya dari keyakinannya bahwa penentuan nasib sendiri dan pelaksanaan pilihan merupakan bagian dari konsep kebahagiaan yang lebih tinggi nilainya, dan bahwa ‘mediokritas kolektif adalah rute menuju stagnasi sosial dan kemandekan budaya dan ekonomi yang permanen. Berkenaan dengan toleransi, Mill berpendapat mengenai keutamaan kebebasan berpikir, berpendapat dan berserikat, serta kebebasan untuk menjalankan apa pun yang menjadi pilihan hidup seseorang, yang hanya tunduk pada batasan-batasan untuk tidak mengganggu orang lain. Pendapat ini seringkah dipertanyakan apakah ada tindakan yang tidak mempengaruhi orang lain, tapi pembedaan antara tindakan-tindakan menghargai orang lain dan menghargai diri sendiri postulasi mengenai wilayah publik dan wilayah pribadi merupakan suatu elemen yang esensial dari liberalisme.

Mill menerapkan prinsip-prinsip ini pada pen¬didikan, dengan mempertahankan suatu pendidikan yang liberal dan sekuler. Ia berpendapat bahwa pendidikan wajib bukan sebagai suatu penyerangan terhadap kebebasan tapi sebagai sesuatu yang esensial dari kebebasan. Namun, ia sangat yakin bahwa tidak seharusnya ada ‘monopoli negara terhadap pendidikan’; pendidikan negara seharusnya menjadi salah satu di antara sejumlah sistem yang saling bersaing.

Dalam A System of Logic, Ratiocinative and Deductive (1843), Mill mempertahankan suatu pandangan induksi klasik sebagai generalisasi empiris, dan berpendapat bahwa ini bisa menjadi model untuk deduksi logis dan metode ilmiah. Dalam beberapa hal, pandangan ini mungkin tampak seperti versi klasik dari empirisisme Inggris, dan Mill adalah orang empiris dalam pengertian bahwa ia percaya kebenaran  termasuk kebenaran matematis ditentukan oleh observasi, bukannya intuisi. Namun, karena ia siap untuk menerima keseragaman sifat (uniformity of nature) sebagai rumusan dasar, pertimbangannya tidak mempunyai konsekuensi skeptis bahwa posisi ini mungkin melibatkan intuisi. Mill memperluas pembahasannya mengenai metodologi untuk mencakup aplikasi metode eksperimental pada ilmu sosial dan berusaha memberikan ‘suatu ilmu umum mengenai manusia dalam masyarakat’. Argumentasinya dapat ditemukan pada Book VI dari A System of Logic, yang disebut sebagai kontribusi paling penting terhadap penciptaan metodologi modern sampai akhirnya muncul Rules of Sociological Method dari Durkheim.

Walaupun beberapa penerusnya melihat Mill sebagai seorang pengemuka berbagai gagasan yang secara inheren tidak dapat dirangkaikan, sejumlah pengamat modern menawarkan suatu interpretasi bersifat revisi mengenai Mill sebagai seorang pemikir yang konsisten. Pendapat ini pernah dianut John Gray (1983), yang berpendapat bahwa konsepsi aktif Mill mengenai kebahagiaan selalu melibatkan suatu latar belakang sosial di mana kebebasan dan toleransi menjadi norma. Namun, kemudian, Gray menyerang interpretasi revisionisnya sendiri interpretasi ini juga senada dengan yang dikemukakan beberapa ahli lain, seperti Ryan (1987) dan Berger yang berpendapat bahwa keyakinan Victoriannya Mill menjadi menjauh dari kebenaran Mill bahwa asumsi empiris yang disumbangkan kebebasan pada kebahagian tidak mempunyai bukti atau keliru. Menurut penjelasan Gray, pemutusan kaitan antara kebahagiaan dan kebebasan bersama dengan runtuhnya utiiitarianisme yang dihasilkan dari upaya mengenali berbagai macam kenikmatan puncak yang tiada duanya adalah fatal bagi segala bentuk liberalisme. Namun, revisi terhadap revisionisme ini seharusnya tidak dipandang sebagai sekadar tanda tentang adanya ketertarikan yang tak pernah habis terhadap gagasan-gagasan Mill; dan Mill, lepas dari segala kritik terhadap dirinya, pasti memandang masaiah ini sebagai kesempatan iain untuk meyakinkan bahwa tidak ada kebenaran yang seharusnya diikuti sebagai suatu dogma mati. bahkan kebenaran liberalisme itu sendiri sekalipun.