Advertisement

Sebuah kerajaan yang sering disebut-sebut dalam cerita pantun dan babad di daerah Jawa Barat. Nama Pajajaran dimuat pula dalam dua prasasti, yaitu Prasasti Batutulis yang terdapat di pinggir kota Bogor dan Prasasti Kebantenan. Nama ini sering juga disebut dalam cerita Parahi- yangan yang termuat dalam sebuah buku kuno dari abad ke-16.

Prasasti Batutulis memuat angka tahun dalam bentuk Candrasangkala, yang secara lengkap berbunyi sebagai berikut: (1) “…pun, ini sakakala prabu ratu purana pun, diwastu; (2) diva wingaran (1. dingaran) prabu guru dewataprana diwastu dija dingaran sri; (3) baduga, maha raja ratu haji dipakwan Pajajaran. Sri sang ratu; (4) dewata pun ya nu nyusuk na pakwan, dija anak rahiyang; (5) niskala sasida mokta di guna tiga, i (n) cu rahiyang niskala wastu; (6) ka (n) cana sasida mokta ka nusa lara (ng) ya siya nu nyiyan; (7) sakakala gugunungan ngabalay ngiyan samida nyiyan ‘Sa (ng) hiyang talaga; (8) rena maha wijaya ya siya pun, i saka panca pandawa…ban bumi.”

Advertisement

Berdasarkan tafsir dalam huruf prasasti tersebut, oleh Prof. Poerbatjaraka huruf yang kosong di depan kata ban (baris ke-8) itu dibaca ngeban atau nge(m) ban), sedangkan oleh C.M. Pleyte dibaca e(m) ban. Tafsiran penilaian angka masing-masing secara keseluruhan menjadi: tahun 1255 Saka atau tahun 1335 M menurut tafsiran Poerbatjaraka atau tahun 1445 Saka atau 1533 M menurut C.M. Pleyte.

Bertitik tolak dari perbedaan angka tersebut, Poerbatjaraka menganggap prasasti itu sebagai peringatan berdirinya Kerajaan Pajajaran. Pendapat ter baru menganggapnya sebagai tanda suatu ritual, karena prasasti itu dibuat jauh setelah raja yang disebut di dalamnya (Ratu Purana) meninggal dunia. Sehubungan dengan masalah perbedaan waktu ini, timbul pertanyaan: kapan sesungguhnya Kerajaan Pajajaran didirikan, dan di mana letak Pajajaran itu. Hingga saat ini hal tersebut belum dapat diketahui secara pasti. Dari babad dan pantun sangat sukar menentukan siapa-siapa yang menjadi raja Pajajaran. Dalam Babad Pajajaran dikemukakan nama-nama raja sebagai berikut: (1) Ratu Galuh; (2) Ciung Wanara Pajajaran;  (3)    Sang Prabu Lutung Kasarung; (4) Sang Prabu Lingga Hyang; (5) Sang Prabu Lingga Wesi; (6) Sang Prabu Susuk Tunggal; (7) Sang Prabu Mundingkawati; (8) Sang Prabu Anggalarang; (9) Sang Prabu Siliwangi; (10) Sang Prabu Gurugantangan.

Dalam Babad Galuh banyak disebut-sebut nama berikut: (1) Ratu Pusaka Maharaja Sakti; (2) Sang Prabu Ciung Wanara; (3) Nyai Purba Sari (menikah dengan Lutung Kasarung); (4) Sang Lingga Hyang; (5) Sang Lingga Wesi; (6) Lingga Wastu; (7) Sang Prabu Susuk Tunggal; (8) Prabu Mandingkawati; (9) Ki Anggalarang; (10) Siliwangi.

Dalam cerita Parahiyangan disebutkan beberapa tokoh yang perlu mendapat tanggapan kritis, yah u: j (1) Sang Wetikandayun Rahiangtangadi Menir; (2) Rahiangtang Kuli-kuli; (3) Rahiangtang Surawulan; (4) Rahiangtang Paleswari; (5) Rahiangtang Rawanglangit; (6) Rahiangtang Madiminyak; (7) Sang Sena; (8) Rahiangtang Purbasara; (9) Rakean Jambri atau Rahiang Sanjaya; (10) Rahiang Tamparan; (11) Ra- hiang Banga; (12) Sang Manarah; (13) Sang Haliwungan atau sang Susuk Tunggal; (14) Sang Hiang Hulu Wesi; (15) Sri Baduga Maha Raja Diraja, Ratu Fikuan Pajajaran; (16) Rahiang Bangan; (17) Sang Rakean Darmasiksa; (18) Yang Hilang Ditanjung; (19) Yang Hilang Dikikis; (20) Aki Kolot; (21) Prabu Maharaja (yang meninggal di Majapahit); (22) Prabuniskalawestu Kencana (yang meninggal di Nusa Larang; (23) Tohan di Galuh; (24) Prabu Ratu Dewata; (25) Prabu Suraweisesa; (26) ohaan Sarendet; (27) Tohaan Ratu Sang Hiyang; (28) Sang Ratu Sakti; (29) Sang Mangabata di Tasik; (30) Tohaan di Majaya; (31) Nusia Mulya (sampai kedatangan agama Islam di Jawa Barat).

Dalam buku Pararaton disebutkan terjadinya suatu peristiwa, yaitu perang di Majapahit antara Gajah Mada di satu pihak dan Raja Sunda di lain pihak. Peristiwa yang terjadi tahun 1357 Masehi ini dikenal dengan nama Pasundabubat, yang artinya perang di Bubat. Jalannya peristiwa dan akhir peristiwa ini dilukiskan dalam buku Kidung Sundayana. Tidak dijelaskan dalam dua buku tersebut apakah Raja Sunda (Galuh) atau Raja Pajajaran yang terlibat dalam peristiwa itu. Demikian pula cerita Parahiyangan yang hanya menyebutkan bahwa Prabu Maharaja terkena musibah, terbawa anaknya bernama Tohaan waktu berperang dengan Majapahit.

Menurut urutannya secara kronologis, Raja Sunda yang memerintah Pajajaran sampai masa keruntuhannya sejak tahun 1357 sampai 1579 adalah sebagai berikut: (1) Prabu Maharaja (1350-1357 M); (2) Hiyang Bumo Sora (1357-1363 M); (3) Prabu Niskala Wastukencana (1363-1467 M); (4) Rahiyang Dewa Niskala (1467-1474 M); (5) Sri Baduga Maharaja /j “4-1513 M); (6) Prabu Surawisesa (1513-1527 V’ 7) Prabu Ratu Dewata (1527-1535 M); (8) Sang Ratu Saksi (1535-1543 M); (9) Prabu Ratu Carita (1543-1559 M); (10) Nu Siya Mulya atau Prabu Seda (1559-1579 M).

Incoming search terms:

  • arti dari pajajaran
  • mengenal kerajaan pajajaran
  • pengertian pajajaran
  • prabu lingga hyang
  • rakean adalah

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • arti dari pajajaran
  • mengenal kerajaan pajajaran
  • pengertian pajajaran
  • prabu lingga hyang
  • rakean adalah