Advertisement

Pada masa awal berdirinya pernah diperintah oleh raja yang terkenal, Jayabupati. Ia menganut agama Hindu aliran Waisnawa. Dalam prasasti Sanghyang Tapak berhuruf Jawa Kuno dan Kawi (bertahun 952 Saka atau 1050 M) yang ditemukan di tepi Ci Tatih, Cibadak, Sukabumi, disebutkan bahwa Maharaja Jayabupati, yang nama lengkapnya Sri Jayabhupati Jayamanahen Wisnumurti Samarari- jaya, berkuasa di Praharyan Sunda. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya, pusat kekuasaan Kerajaan Sunda berpindah-pindah, antara lain di Pakuan Pajajaran, kemudian pindah ke Kawali (wilayah Kabupaten Cirebon sekarang).

Yang menarik dari sejarah Kerajaan Sunda adalah peristiwa Perang Bubat pada tahun 1357 pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja (1350-1357). Dalam pertempuran tersebut hampir seluruh pasukan kerajaan gugur, termasuk Sri Baduga sendiri.

Advertisement

Setelah Perang Bubat, Kerajaan Sunda berturut-turut diperintah oleh beberapa raja, yakni pada tahun 1357-1371 oleh Hyang Bumisora, tahun 1371-1474 oleh Tohaan di Galuh, tahun 1482-1521 oleh Sang Ratu Jayadewata, dan tahun 1521-1535 oleh Ratu Samiam atau Prabu Surawisesa.

Kekuasaan Kerajaan Sunda mulai goyah pada masa pemerintahan Prabu Ratu Dewata (1535-1543), ketika terjadi serangan tentara Islam Kerajaan Banten yang dipimpin oleh Maulana Hasanuddin dan Maulana Yusuf. Kerajaan Sunda makin goyah setelah Prabu Ratu Dewata wafat. Para penggantinya dianggap lemah dalam mempertahankan keutuhan kerajaan. Akhirnya Kerajaan Sunda jatuh ke tangan pasukan kerajaan Islam Banten.

Advertisement