Advertisement

Tempat kediaman keluarga raja-raja Surakarta Hadiningrat, sekaligus menjadi ibu kota dan pusat pemerintahan kerajaan tersebut. Asal mula keraton Surakarta yang terletak di pusat kota Surakarta sekarang adalah sebuah desa bernama Solo. Keraton Surakarta mulai digunakan tahun 1744. Istana raja ini adalah pengganti keraton Kartasura yang telah hancur pada tahun 1742 akibat pemberontakan masyarakat keturunan Cina yang bersekutu dengan Raden Mas Garendi. (Lihat CINA, PEMBERONTAKAN).

Keraton Surakarta, seperti istana raja di Pulau Jawa pada umumnya, mempunyai dua halaman luas, masing-masing di bagian depan dan di belakangnya, yang disebut alun-alun. Di tengah alun-alun itu ditanam dua buah pohon beringin, yang disebut R ingin Kurung atau Ringin Kembar.

Advertisement

Sebuah bangunan bertingkat seperti menara dibangun di bagian timur laut keraton. Bangunan itu disebut Panggung Sangga Buwana. Sebagian masyarakat Surakarta percaya bahwa di Panggung Sangga Buwana itulah raja-raja mereka mengadakan pertemuan dengan Kangjeng Ratu Kidul, makhluk halus penguasa Laut Selatan.

Keraton Surakarta mengalami renovasi dan perbaikan menyeluruh pada tahun 1930-an, pada jaman pemerintahan Sunan Paku Buwono X. Selain mengganti bagian-bagian bangunan dengan bahan yang bermutu tinggi, gapura-gapura megah dibangun di sekeliling keraton. Sistem penerangan di lingkungan keraton diganti dengan lampu-lampu gas yang amat mewah menurut ukuran jaman.

Bulan Maret 1966, kota Surakarta dilanda banjir akibat bobolnya tanggul Bengawan Solo. Lebih separo bagian kota terendam air selama dua hari. Dalam musibah itu, tembok istana di bagian timur keraton runtuh, dan air bah menggenangi sebagian halaman istana itu.

Musibah terbesar yang menimpa keraton itu terjadi pada awal tahun 1985. Bangunan utama yang disebut Bangsal Sasana Scwaka dan beberapa bangunan keraton Surakarta lainnya terbakar habis, diduga akibat korsleting. Gusti Pangeran Hangabei, putra sulung Susuhunan Paku Buwono XII, sempat menyelamatkan puluhan pusaka keraton.

Setahun setelah musibah kebakaran itu. pembangunan kembali keraton Surakarta dimulai. Pembangunan itu diselenggarakan oleh sebuah panitia swasta yang anggotanya terdiri atas beberapa pejabat penting dan beberapa pengusaha. Arsitektur dan tata cara pembangunannya masih tetap menggunakan arsitektur dan tata cara tradisional, lengkap dengan berbagai upacara sesaji.

Fungsi keraton sebagai pusat pemerintahan dan pusat kekuasaan lenyap sejak kemerdekaan Republik Indonesia. Sejak itu keraton Surakarta (dan keraton Mangkunegaran di Solo) hanya merupakan tempat tinggal raja yang tidak memiliki kekuasaan politik, dan menjadi objek wisata saja. Sebagai objek wisata, kini keraton Surakarta dibuka untuk umum. Belakangan ini pemerintah RI berniat mengembangkan kembali keraton Surakarta maupun keraton Mang- k inegaran sebagai pusat budaya Jawa.

Advertisement