Advertisement

Seperti halnya kesusastraan-kesusastraan suku bangsa lain, juga berawal dari sastra lisan. Salah satu ciri yang paling umum dari kesusastraan lisan buhun (kuno) ini adalah ditemukannya karya-karya sastra yang tidak diketahui pengarangnya. Fungsi sastra dari jaman ke jaman selalu berubah tetapi sifatnya yang kreatif tidaklah turut berubah. Jaman dahulu fungsi sastra Sunda pada masyarakatnya berkait erat dengan upacara-upacara ritual kepercayaan yang dianut rakyat Sunda. Terdapatnya kaitan antara karya sastra dan upacara-upacara ritual masyarakat pada masa itu tidaklah mustahil apabila ditemukan untaian kata-kata dalam sastra Sunda kuno yang dianggap keramat oleh masyarakat. Bahkan, hingga belakangan ini masih ditemukan sebagian suku bangsa Sunda yang menganggap keramat karya sastra lama. Cerita pantun Lutung Kasarung, misalnya.

Keberadaan sastra Sunda dalam masyarakatnya bisa dibagi dalam beberapa periode. Tiga sastrawan Sunda, yakni R.I. Adiwijaya, M.A. Salmun, dan Ajip Rosidi, memilah-milahnya ke dalam beberapa periode menurut versinya masing-masing.

Advertisement

Periodisasi RI Adiwijaya membagi sastra Sunda ke dalam lima bagian. (1) Jaman Hindu dimulai pada masa Tarumanegara, yakni pada saat karya sastra cuma ditemukan di atas batu-batu tulis, yang berlanjut hingga jaman Kerajaan Galuh. Pada jaman Pajajaran mulai ditemukan sastra lisan, terutama dengan adanya cerita-cerita pantun dan dongeng. (2) Jaman Islam dimulai setelah hancurnya Kerajaan Pakuan Pajajar- an, yakni sekitar tahun 1579. Pada saat itu warna nafas Islam sudah berpengaruh dalam sastra Sunda dengan ditemukannya aturan-aturan syair, seperti dalam cerita Abdurrahman Jeung Abdurrahim. (3) Jaman Islam dengan pengaruh Mataram. Setelah penguasaan Mataram atas kerajaan-kerajaan di tanah Sunda, karya- karya sastra pun diwarnai ciri-ciri Mataram. Hal ini terlihat pada adanya aturan-aturan dangding dalam bentuk pada (bait) yang terdiri atas padalisan-padali- san (baris-baris dalam bait) dan berbagai pupuh, se-perti Kinanti, Sinom, Asmarandana, Dangdanggula, dsb. Bersamaan dengan itu wawacan mulai dikenal dalam masyarakat Sunda. (4) Jaman masuknya pe-ngaruh Barat ditandai dengan adanya sifat-sifat sastra Eropa yang berpengaruh tanpa bentuk yang utuh, hanya membagi bab dalam suatu cerita. (5) Jaman setelah Perang Dunia II, terutama sesudah Belanda angkat kaki dan Jepang mulai masuk Indonesia. Di samping bahasa Jepang, yang dapat dijadikan ciri kesusastraan pada masa ini adalah adanya semangat kebangsaan yang mulai mewarnai sastra Sunda.

Periodisasi MA Salmun membagi sastra Sunda ke dalam delapan bagian. (1). Jaman Hindu dimulai dengan ditemuinya prasasti-prasasti balu tulis berhuruf Hindu dan bahasa sangskrit dan Jawa Kuno. (2) Jaman Galuh dengan karya berupa batu tulis As-tana gede. (3) Jaman Pajajaran yang berlangsung antara tahun 1333 hingga 1579. Peninggalan karya sastranya adalah Carita Parahyangan dan Carita Warugaguru. (4) Jaman Islam dan Mataram dengan peninggalan Wawacan Sekh Abdulkadir al Jaelani, Wawacan Amir Hamzah, Wawacan Rengganis, Angling Darma, Batara Rama, dll. (5) Jaman Baheula (Kuno) antara tahun 1855 hingga 1908. Selain pengaruh Islam dan Mataram, pada masa ini dipengaruhi pula oleh sastra Belanda dari masa Raden Haji Mu-hammad Musa hingga berdirinya Commissie voor dc Volkslectuur (Balai Pustaka). Ciri-cirinya yang menonjol adalah bahasa yang dipergunakan, idealistik, lebih didaktis, bahkan mendekati dogmatis, biasanya di akhir cerita disebutkan kapan dan di mana cerita disusun. (6) Jaman Sepuh (leluhur) dimulai sejak sekitar tahun 1909 hingga 1929 atau sejak berdirinya Commissie voor de Volkslectuur hingga lahirnya majalah Parahyangan yang pada tahun 1929 dikeluarkan oleh Balai Pustaka. (7) Jaman Parahyangan dimulai tahun 1929 hingga 1941. Tak ada ciri lain yang menonjol selain banyaknya karya sastra yang dimuat dalam Parahyangan. (8) Jaman setelah Perang Dunia II pada dasarnya ditandai dengan semakin besarnya pengaruh sastra Barat ke dalam kesusastraan Sunda. Contohnya, masuknya sajak dan penggunaan bahasa yang lebih demokratis, yang dianggap keluar dari kaidah tata bahasa Sunda.

Periodisasi Ajip Rosidi membagi sastra Sunda ke dalam tiga kurun waktu. (1) Jaman Buhun (Kuno). Ciri-ciri yang paling utama adalah banyaknya karya sastra yang tidak diketahui pengarangnya, di samping terlihatnya tata susunan kosmos kuno sebelum masuknya pengaruh Islam. Hindu memang turut mempengaruhi karya sastra masa ini tetapi tak sampai mengubah ciri kesundaan. Dalam kata lain, kelapangan jiwa Sunda masih jelas. (2) Jaman Kamari (kemarin) adalah hasil-hasil penjajahan Belanda, Mataram Inggris, dan Jepang. Beberapa pengarang sudah mulai mencantumkan namanya dalam hasil karyanya seperti H. Hasan Mustapa, Kalipah Apo, dsb. (3) Jaman Kiwari (Kini). Masa kini dianggap seba«ai masa renaisans dalam sastra Sunda, sebagaimana tampak dalam buah tangan para pengarang, seperti Sajudi, Surachman R.M. Rusman Sutiasumarga Wahyu Wibisana, Yus Rusyana, dll.

Incoming search terms:

  • fungsi wawacan
  • fungsi wawacan jaman baheula
  • ciri ciri wawacan basa sunda
  • pengertian sastra sunda
  • ciri ciri wawacan
  • pengertian wawacan bahasa sunda
  • sastra sunda
  • sastra sunda kuno
  • fungsi wawacan sunda
  • definisi sastra sunda

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • fungsi wawacan
  • fungsi wawacan jaman baheula
  • ciri ciri wawacan basa sunda
  • pengertian sastra sunda
  • ciri ciri wawacan
  • pengertian wawacan bahasa sunda
  • sastra sunda
  • sastra sunda kuno
  • fungsi wawacan sunda
  • definisi sastra sunda