Advertisement

Dikenal sebagai tokoh pendidik nasional dan tokoh persurat- kabaran pada masa pergerakan nasional. Di samping itu ia juga seorang pengarang. Nama sebenarnya Raden M as Soewafat Soerjaningrat. Ia dilahirkan 2 Mei 1899 di Yogyakarta. Ayahnya, Soerjaningrat, adalah putra Paku Alam III. Pendidikannya dimulai dari sekolah rendah Belanda, yang saat itu dikenal dengan sebutan Europeesche Lagere School. Kemudian ia melanjutkan ke sekolah guru atau Kweekschool; tetapi sebelum tamat ia pindah ke sekolah kedokteran STOVIA {School tot Opleiding van Indiche Artsen). Sayang ia tak dapat menyelesaikannya, karena orang tuanya tak mampu membiayai sekolahnya lagi. Maka ia pun mulai terjun ke bidang jurnalistik, sebagai pembantu harian berbahasa Jawa, Sedyo Tomo, di Yogyakarta. Selain itu ia juga membantu harian berbahasa Belanda, Midden Java, di Semarang.

Di tahun 1912, ia pindah ke Bandung, bekerja sebagai anggota redaksi harian De Express yang dipimpin E.F.E. Douwes Dekker. Ia juga menjadi anggota redaksi harian Kaoem Moeda, dan membantu Oetoesan Hindia, harian S.I. Soerabaya, Cahaya Timoer di Malang, serta Het Tijdschrift di Bandung,

Advertisement

Kegiatannya yang lain adalah menjadi anggota dan pengurus Boedi Oetomo, Sarekat Islam, sampai akhirnya ia mendirikan Indische Partij tanggal 6 September 1912, bersama-sama Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo. Mereka dikenal sebagai tiga serangkai pimpinan partai revolusioner itu.

Di tahun 1913, akibat tulisannya yang berjudul Als ik een Nederlander was, Dewantara dibuang ke Belanda bersama kedua teman akrabnya, yakni Tjipto Mangoenkoesoemo dan Douwes Dekker. Tetapi selama di pembuangan, mereka meneruskan perjuangan politiknya dengan menulis di berbagai surat kabar di Belanda dan di Indonesia. Selain itu, ia juga terus menuntut ilmu terutama dalam dunia pendidikan. Pada tahun 1916, ia berhasil mendapatkan ijazah guru.

Pada tahun 1917 hukuman pembuangannya dicabut, tetapi ia tidak langsung pulang ke Indonesia. Ia tetap tinggal di Belanda. Di tahun 1918, ia mendirikan kantor berita Indonesische Persbureau di Nederland, yang sekaligus menjadi tempat berkumpulnya pemuda Indonesia yang sedang menuntut ilmu di negara itu. Selain itu kantor itu juga merupakan kantor propaganda bagi pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Sementara itu Dewantara menjadi redaktur majalah Hindia Poetra, terbitan Indiche Vereniging, yang kemudian menjadi Perhimpoenan Indonesia; ia juga membantu De Indier, majalah Het Indonesische Verbond van Studerenden.

Dewantara kembali ke Indonesia tahun 1919. Mulanya ia diangkat menjadi sekretaris, kemudian ketua, Pengurus Besar Nationaal Indische Partij; selain itu ia juga masih mengasuh De Express, De Beweging, dan Persatoean Hindia, yang berkedudukan di Semarang.

Pada tahap ini, Dewantara mulai yakin bahwa pendidikan adalah satu-satunya cara untuk meningkatkan taraf hidup rakyat. Maka mulai tahun 1921, ia terjun sepenuhnya ke dunia pendidikan. Semula ia menjadi guru di Adhi Darmo, sekolah yang didirikan kakaknya, Raden Mas Soerjopranoto. Tahun 1922, ia mendirikan sekolah sendiri dengan nama “Taman Siswa”. Ia mendapat bantuan dari beberapa anggota perkvimpulan Sarasehan Selasa Kliwon. Tanggal 3 Juli 1922, mulailah didirikan sebuah taman kanak-kanak. Kemudian sekolah ini berkembang menjadi sekolah-sekolah yang tersebar di seluruh tanah air.

Perguruan ini dipandang sebagai perintis pendidikan nasional. Sistim pendidikannya disebut among, dijiwai prinsip-prinsip in g ngarsa sung tulada, in g madia mangun karsa, tut wuri handayani. Ing ngarsa sung tulada berarti yang di depan harus memberi teladan; ing madia mangun karsa berarti di tengah kelompok membangun motivasi, sedangkan tut wuri handayani berarti dari belakang memberi semangat. Jadi, guru adalah “pamong” yang harus senantiasa memberikan teladan yang baik.

Tahun 1942, Dewantara ditunjuk oleh pemerintah Jepang untuk ikut memimpin Pusat Tenaga Rakyat (Putera) bersama Sukarno, Mohammad Hatta dan Kiai H. Mansyur; mereka kemudian dikenal sebagai “empat serangkai”. Setelah Putera dibubarican tahun 1944, Dewantara diangkat menjadi anggota Naimuhu Bunkyokyoku Sanyo (Kantor Urusan Pengajaran dan Pendidikan).

Setelah Proklamasi Kemerdekaan tahun 1945, Dewantara diangkat menjadi menteri pengajaran pada kabinet pertama Indonesia. Kemudian, pada tahun 1946 ia mengetuai panitia penyelidik pengajaran, yang dibentuk pemerintah untuk menentukan garis-garis baru di bidang pendidikan dan pengajaran sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia. Pada tahun 1948 ia mengetuai Badan Penasihat Pembentukan Undang-undang yang menempatkan dasar-dasar bagi pendidikan dan pengajaran. Dengan demikian, sebagian besar cita-citanya tercermin dalam pendidikan dan pengajaran yang diselenggarakan Republik Indonesia dan dalam Undang-undang nomor 4/1950 tentang dasar-dasar pendidikan dan pengajaran di sekolah.

Atas jasa-jasanya, Dewantara dianugerahi Bintang Mahaputra. Ia juga mendapat gelar doctor honoris causa dalam bidang kebudayaan dari Universitas Gajah Mada. Di kemudian hari, tanggal kelahiran Ki Hajar Dewantara, 2 Mei, ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional. Dewantara meninggal pada tanggal 26 April 1959. Pada tahun ini juga, secara anumerta ia diangkat sebagai Ketua Kehormatan PWI. Di tahun 1976 gelar Perintis Pers Indonesia diberikan kepadanya oleh pemerintah RI.

Advertisement