Advertisement

MENGENAL KODIYAT (1890-1968) – Seorang dokter kelahiran Muntilan yang menyandang gelar Am, lebih tinggi daripada Indisch Arts (dokter Hindia). Dari 32 dokter Indonesia yang paling terpandang di masa pemerin­tahan Belanda, ia menempati peringkat ke-4. Walau­pun demikian ia justru terkenal sebagai dokter yang tidak kenal lelah dalam melakukan berbagai peneli­tian serta pemberantasan jenis penyakit berbahaya yang menjangkiti rakyat banyak, khususnya patek (frambusia), di hampir seluruh pelosok Indonesia.

Kodiyat masih keturunan bangsawan (raden). Pendidikannya yang pertama ia tempuh di Sekolah Jawa (Inlandsche School). Setelah empat tahun di sekolah itu ia masuk Sekolah Dasar Belanda (Europeesche Lagere School) di Magelang, Jawa Tengah. Pada ta­hun 1905 hingga 1914 ia masuk sekolah dokter STO- VIA di Jakarta. Setelah lulus dan menyandang Indisch Arts ia berpraktik sebagai dokter di Surabaya. Selama masa ini (1914-1917) ia sangat giat dalam pemberantasan wabah kolera di Gresik, Bali, dan Ma­dura; juga pemberantasan wabah malaria di Sidoarjo dan di lokasi pembangunan irigasi Bedadung (Jem­ber). Pada tahun 1917 ia dipindahkan ke Saparua dan bertugas di tempat ini hingga tahun 1920. Kodiyat ke­mudian ditugaskan ke Centraal Burgerlijke Ziekenin- richting (CBZ atau RSCM sekarang), Jakarta, dari ta­hun 1920 hingga 1922.

Advertisement

Pada tahun 1922 Kodiyat meneruskan pendidikan dokternya ke Universitas Amsterdam, Belanda, hing­ga lulus dan menyandang gelar Arts (1925). Sekem­bali ke Indonesia ialangsung ditempatkan di CBZ Se­marang dan bekerja di tempat ini selama lima tahun (1926-1930). Selama masa itu ia bertugas sebagai pe­jabat kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang serta pemimpin Tim Pemberantasan Penyakit Pes di Boyo­lali dan Banjarnegara. Pada tahun 1930 ia diangkat sebagai Residentie Arts (dokter keresidenan) Kediri berpangkat Gouvernements Arts lste klasse. Selain itu Kodiyat adalah juga anggota Vereeniging tot Be- vordering der Geneeskundige Wetenschappen in Ne- derlandsch-Indie (Persatuan untuk Pengembangan Pengetahuan Kedokteran di Hindia Belanda).

Pada tahun 1942 (kedatangan Jepang) Kodiyat ditugaskan di Surabaya sebagai inspektur kesehatan untuk Propinsi Jawa Timur. Setahun kemudian ia di­pindahkan ke Jakarta. Pada tahun 1950 (ketika RI ber­daulat) ia adalah sekretaris jenderal Departemen Ke­sehatan. Dalam masa ini jabatannya yang juga penting, antara lain, anggota Dewan Pertimbangan MIPI (kini LIPI). Pada tahun 1956 ia menerima gelar Doktor honoris causa dari Universitas Indonesia.

Kodiyat menyandang banyak tanda penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri; dari Filipina, misalnya, ia menerima Magsaysay Award (1961). Se­jak 1934 ia menggunakan sistem aktif, berlawanan dengan sistem pasif yang digunakan D.V.G. (Dinas Kesehatan Rakyat Hindia Belanda), dalam membe­rantas patek.

Incoming search terms:

  • apa maksudnya bcbz
  • arti cbz

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • apa maksudnya bcbz
  • arti cbz