Advertisement

Seperangkat kondisi perking yang mempengaruhi konsistensi adalah apakah sikap itu merupakan sikap yang kuat dan jelas. Ketidakkonsistenan justru timbul dari sikap yang lemah dan ambivalen. Seperti yang telah diungkapkan, Kelley dan Mirer (1974) menemukan bahwa sebagian besar ketidakkonsistenan sikap-voting muncul dari pemilih yang mulai dengan pilihan sikap yang lemah atau bertentangan. Demikian pula, perilaku yang konsisten tidak akan muncul bila komponen afeksi dan kognisi sikap bertentangan. Segala sesuatu yang mendukung sikap yang kuat pasti meningkatkan konsistensi sikap-perilaku. Tentu saja, salah satu faktornya adalah berapa kali kita terdorong untuk berlatih dan mempraktekkan sikap kita. Fazio dan kawan-kawannya (1982) memperlihatkan bahwa pada saat orang memikirkan dan mengekspresikan sikap mereka, perilaku mereka selalu lebih konsisten dengan sikapnya, nampaknya karena hal ini membantu dalam memperkuat sikap. Pengalaman pribadi yang diperoleh yang langsung berkaitan dengan suatu persoalan membuat kita lebih banyak memikirkan dan membicarakannya daripada jika hal ini jauh dari kita. Oleh sebab itu, salah satu hipotesis yang diformulasikan adalah bahwa kita akan memiliki sikap yang lebih kuat terhadap suatu objek sikap bila kita memiliki pengalaman langsung dengan objek itu, daripada bila kita hanya mendengar, tentang objek itu dari orang lain, atau hanya membacanya. Bila kita memiliki sikap yang lebih kuat terhadap suatu hal, maka sikap itu. juga akan konsisten terutama dengan perilaku yang relevan.

Regan dan Fazio (1977) memperlihatkan hal ini bersama para mahasiswa Universitas Cornell selama masa kekurangan perumahan. Banyak mahasiswa baru yang harus menghabiskan beberapa minggu pertama pada Semester awalnya di perumahan sementara, biasanya berupa sebuah alas tidur di ruang dtiduk asrama. Berbeda dengan mahasiswa yang langsung memperoleh perumahan yang permanen, mereka memperoleh pengalaman pribadi langsung yang berkaitan dengan kekurangan tersebut. Selama keadaan ini berlangsung, para peneliti mengukur sikap kedua kelompok mahasiswa itu terhadap masa krisis dan minat mereka dalam perilaku yang mungkin, seperti menandatangani dan menyebarkan petisi atau bergabung dalam kepanitiaan untuk mempelajari masa krisis sikap dan perilaku ini jauh lebih erat hubungannya pada mahasiswa yang mempunyai pengalaman pribadi langsung yang berkaitan dengan masa krisis itu (r = 0,42) dibandingkan dengan mahasiswa yang hanya mempunyai pengalaman tidak langsung, seperti mem-bicarakannya dengan teman atau membacanya di makalah mahasiswa (r = 0,04). Fazio dan Zanna (1981) memberikan beberapa contoh lain tentang hubungan yang kuat antara perilaku dan sikap, yang didasarkan pada pengalaman langsung yang terjadi saat itu.

Advertisement

Pengalaman langsung masa lalu yang berkaitan dengan suatu masalah juga akan memperkuat sikap, dan oleh sebab itu, meningkatkan kekuatan sikap seseorang terhadap perilakunya. Manstead dan kawan-kawannya (1983), misalnya, menyelidiki hal-hal yang dapat digunakan untuk memprediksi apakah para ibu akan menyusui bayinya atau memberinya susu botol. Mereka menemukan bahwa sikap ibu itu sendiri merupakan alat prediksi yang lebih baik tentang pilihan mereka jika mereka telah memiliki anak dan mempunyai pengalaman pribadi dengan menyusui bayinya. Perilaku wanita yang baru menjadi ibu relatif lebih tergantung pada penilaian orang lain dan kurang tergantung pada sikap mereka sendiri. Sumber kekuatan sikap yang lain nampaknya muncul dari adanya kepentingan tetap atau kepentingan diri sendiri dalam suatu masalah. Sivacek dan Crano (1982) menemukan dukungan untuk dugaan ini dengan menggunakan masalah usia minimal untuk ‘minum’ Rencana pemungutan suara di Michigan tahun 1978 akan menaikkan usia hukum dari 18 tahun menjadi 21 tahun. Nampaknya para siswa yang berusia di bawah 21 tahun mempunyai kepentingan diri yang lebih besar dalam masalah itu daripada siswa-siswa yang lebih tua. Memang, sikap terhadap usulan itu jauh lebih erat hubungannya dengan perilaku (suka rela untuk memberi suara) orang-orang yang mempunyai kepentingan tetap daripada orang-orang yang tidak mempunyai kepentingan apa pun. Tentu saja ada alasan-alasan lain mengapa sikap itu kuat. Tetapi contoh ini melukiskan pokok umum: Kekuatan hubungan sikap-perilaku sebagian bergantung pada sikap orang yang menjadi kuat itu sendiri.

Incoming search terms:

  • contoh sikap kuat
  • Contoh dari sikap kekuatan
  • definisi sikap kuat
  • kekuatan ambivalen
  • pengertian kekuatan sikap

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • contoh sikap kuat
  • Contoh dari sikap kekuatan
  • definisi sikap kuat
  • kekuatan ambivalen
  • pengertian kekuatan sikap