Advertisement

MENGENAL LEO KRISTI – yang bernama lengkap Leo Imam Sukarno, seorang penyanyi Indonesia terkenal. Ia mengangkat keindahan alam, kebesaran budaya In­donesia, juga permasalahan sosial sebagai tema po­kok lagu-lagunya. Musiknya hanya mampu menarik sedikit penggemar, pada­hal banyak pengamat mu­sik menilai musiknya ber­bobot.

Leo Kristi dilahirkan di Surabaya. Selama tiga ta­hun Leo menempuh pendi­dikan arsitektur di Suraba­ya. Beberapa jenis pe­kerjaan pernah pula ia ja­lankan.. seperti penagih utang, penjual buku, tu­kang cat, dan mandor pelabuhan. Ia pun mengenyam sekolah formal untuk bermain gitar di Sekolah Musik Rakyat Surabaya pimpinan Tino Kerdijk. Ia lulus tingkat dasar gitar pada tahun 1962.

Advertisement

Beberapa pengamat musik menilai karya Leo seba­gai ungkapan perasaannya saat ia tinggal bersama penduduk suatu daerah. Albumnya, seperti Gulagalu- gu Suara Nelayan dan Lenggang Lenggung Badai Lautku, membuktikan pendapat itu. Hampir dalam se­tiap pentasnya ia memainkan gitar, berkostum hitam- hitam atau hitam-putih, dan menyertakan berbagai alat musik tradisional Indonesia. Leo paling kerap berpentas di Taman Ismail Marzuki (TIM) dan Pasar Seni Jaya Ancol, terutama pada malam menjelang tanggal 17 Agustus (Hari Proklamasi) atau 10 No­vember (Hari Pahlawan). Atas prakarsa Wakil Presi­den Adam Malik, Leo mengadakan pentas di Istana Merdeka dalam rangka pengumpulan dana bencana alam pada tahun 1980.

Hingga kini (1989) Leo menulis lebih dari 70 lagu dalam 7 album, baik berupa kaset maupun piringan hitam. Sebelum menjadi pemimpin Konser Rakyat Leo Kristi (sejak 1976), ia pernah bergabung dalam 5and Jakarta Loyd, menyanyi di bar, hotel, atau res­toran.

Karyanya yang lain mencakup Biru Emas Bintang Tani, Dayung Hati Didayung, Isatani, Nyanyian Fa­jar,Nyanyian Malam, Di Deretan Rel, Komedi Badut- badut, ra r a bra Desember, dan Tepi Surabaya. Di penghujung tahun 1989 ini ia bersama Konser Rakyat leo Kristi sibuk menyusun lagu untuk film Nyoman dan Presiden. Untuk keperluan ini ia bersama kelompoknya tinggal bersama rakyat Bali selama le­bih dari empat bulan. Ia menyebut musiknya untuk film ini “diapenta” atau gabungan antara diatonis dan pentatonis.

 

Advertisement