Advertisement

Tokoh penting lain dalam perkembangan antropologi abad kesembilan belas adalah Lewis Henry Morgan (1818-1881). Dia sarjana hukum di utara New York Amerika Serikat dan menaruh perhatian terhadap bangsa Indian suku Iroquois setempat serta menjadi sahabat seorang Indian Seneca terpelajar bernama Ely Parker, yang kemudian menjadi Komisaris Urusan orang Indian di waktu pemerintahan Grant. Bersama Parker, Morgan berkunjung ke cagar alam Tonawanda dan sangat mengagumi tradisi-tradisi serta adat-istiadat orang-orang Iroquois (suku Indian), yang m^sih dipertahankan. Setelah membela kaum Seneca dalam perkara pembagian tanah, oleh orang Indian yang berterima kasih itu Morgan diterima dalam puak Tonawanda. Hal ini mempermudah penerimaannya dalam masyarakat dan memperdalam pengetahuannya mengenai mereka sehingga menghasilkan penerbitan League of the Ho-de-no -sau -nee or Iroquois dalam tahun 1851, studi lapangan lengkap yang pertama mengenai suatu suku bangsa Indian Amerika. Dalam bidang penulisan jenis ini, Morgan telah didahului oleh orang lain dan di antaranya yang paling terkenal adalah Henry Rowe Schoolcraft, seorang petugas urusan Indian yang ditempatkan di Sault Sainte Marie, yang kawin dengan seorang wanita Chippewa dan yang pertama-tama membuat kumpulan sistematis dari cerita-cerita rakyat Indian Amerika. Tetapi karya Morgan tentang suku Iroquois merupakan suatu studi etnografi yang lebih teratur daripada karya-karya tulis tebal Schoolcraft dan pelopor-pelopor lain dalam bidang ini.

Sewaktu mempelajari kehidupan suku Iroquois, Morgan takjub ketika mengetahui bahwa mereka mempunyai pranata-pranata keluarga dan istilah-istilah kekerabatan yang berlainan dengan yang di dunia Barat. Suku Iroquois menganut sistem matrilineal (garis keturunan menurut ibu, kebalikan dari garis keturunan menurut bapa). Mereka juga menganut apa yang oleh Morgan dinamakan sistem kekerabatan berdasarkan klasifikasi, berlawanan dengan sistem deskriptif orang-orang Eropa dan Amerika. Dalam sistem deskriptif, istilah-istilah yang diterapkan terhadap kerabat dari garis keturunan lurus tidak diterapkan terhadap kerabat dari garis samping tetapi dalam sistem klasifikasi, istilah-istilah seperti bapa, ibu, saudara lelaki, saudara perempuan, putera dan puteri dapat diperluas penggunaannya terhadap banyak orang yang bukan termasuk kerabat garis langsung. Morgan berpendapat bahwa sistem terakhir ini merupakan bentuk yang mendahului sistem deskriptif, yang baru berkembang pada waktu yang lebih mutakhir. Pembedaan tersebut kemudian dikecam oleh ahli-ahli antropologi, terutama oleh A.L. Kroeber yang menyatakan bahwa beberapa dari istilah-istilah kita seperti paman, bibi dan saudara sepupu juga termasuk istilah klasifikasi, karena juga diterapkan terhadap orang-orang yang berhubungan kekerabatannya berlainan sifatnya. Baru-baru ini pendapat Morgan malah dibenarkan.

Advertisement

Sehubungan dengan kepentingan keuangan dalam pembuat jalan kereta api, Morgan mengadakan beberapa perjalanan ke Wisconsin pada tahun-tahun 1850-an. Di sana ia mengunjungi daerah Indian suku Chippewa dan menyelidiki sistem kekerabatan mereka. Sistem kekerabatan Chippewa berbeda sekali dari sistem kekerabatan Iroquois; orang Chippewa memiliki suku-suku (Klen) dengan sistem yang keturunan lebih bersifat patrilineal daripada matrilineal. Tetapi Morgan lebih terkesan oleh persamaan daripada perbedaan di antara kedua sistem ini. Ia ingin mengetahui apakah sistem Klen dan sistem klasifikasi merupakan ciri khas masyarakat, Indian Amerika pada umumnya. Untuk mengetahui ini Morgan mengirimkan daftar pertanyaan (questionnaire) kepada semua petugas-petugas urusan Indian di Amerika Serikat. Hasilnya membenarkan dugaannya; tetapi lebih dari itu, Morgan mendengar dari kenalannya di kalangan penyiar agama, bahwa orang-orang Tamil dari India Selatan menganut sistem klasifikasi. Ini sebabnya maka ia mengirimkan questionnaire secara meluas dengan harapan akan mencakup bagian-bagian lain dari India dan Mongolia, Siberia, Cina, Jepang, Australia, Kepulauan Pasifik, Afrika dan Amerika Selatan. Daftar-daftar pertanyaan ini dikirimkan kepada konsul-konsul dan wakil-wakil diplomat Amerika Serikat di bawah asuhan Smithsonian Institution. Daftar-daftar hasil serta analisa-analisa Morgan, pada tahun 1870 diterbitkan sebagai Systems of Consanguinity and Affinity of the Human Family oleh lembaga tersebut. Ini merupakan suatu karya yang penting karena dengan itulah dimulai studi perbandingan dari sistem-sistem kekerabatan suatu bidang penelitian yang baru, yang sejak itu menjadi salah, satu bidang perhatian utama dari banyak ahli antropologi sosial. Systems, karya Morgan, juga mengungkapkan penyebaran secara luas dari sistem kekerabatan berdasarkan klasifikasi, yang dapat dibagi dalam berbagai jenis.

Survei global ini menyiapkan Morgan untuk penulisan karyanya, Ancient Society (1877), yaitu karyanya yang paling terkenal. Karya itu mengemukakan suatu bagan evolusi kebudayaan, yang menunjukkan bahwa teknologi, pemerintah dan organisasi keluarga telah melewati berbagai tahap Keliaran, Kebiadaban dan Peradaban. Tahap-tahap ini sesuai dengan tahap yang dikemukakan Tylor, tetapi Morgan membagi dua tahap pertama lebih lanjut dalam Tingkat Rendah (Lower), Tingkat Pertengahan (Middle) dan Tingkat Atas (Upper) Dalam masa Keliaran Tingkat Rendah, orang-orang hidup dari buah-buahan dan kacang-kacangan tanpa mengenal api. Mereka menggunakan api dan menambahkan ikan pada menunya dalam masa Pertengahan dan mendapatkan busur dan panah dalam masa Tingkat Atas. Periuk-belanga dibuat dalam masa Kebiadaban Tingkat Rendah. Dalam masa Pertengahan orang-orang memelihara ternak di Benua Lama dan menanam jagung di Benua Baru. Alat-alat dari besi muncul dalam masa Kebiadaban Tingkat Atas, abjad dan penulisan mulai dikenal dalam perioda peradaban. Banyak kelemahan terdapat dalam bagan ini. Manusia merupakan pemburu semenjak ribuan tahun; adanya tahap kacang-kacangan dan buah-buahan, kemudian tahap ikan, rasanya tidak masuk akal. Kalau kita mengikuti bagan Morgan, orang-orang Polinesia sama tingkat evolusi kebudayaannya dengan penduduk asli Australia, sedangkan orang-orang Inka dan Maya lebih rendah daripada suku-suku Afrika yang mulai mengenal besi. Hal-hal ini dan banyak kecaman lain dikemukakan mengenai garis-garis besar teori Morgan; tetapi paling tidak untungnya adalah bahwa dalam bagan itu dikemukakan suatu pola sementara dari perkembangan evolusi.

Berbagai tahap menurut Morgan ditandai oleh bentuk keluarga dan organisasi kekerabatan yang berbeda. Pemikiran-pemikiran Morgan tentang hal ini dipengaruhi oleh dan sekaligus merupakan sumbangan terhadap pemikiran- pemikiran penulis-penulis lain dari abad kesembilan belas, termasuk Johann Jakob Bachofen (1815-1887), John F. McLennan (1827-1881), dan Tylor. Pada umumnya waktu itu orang percaya, bahwa manusia-manusia pertama hidup dalam keadaan kebebasan seks dan kemudian dalam perkawinan kelompok yang agak terkontrol. Karena dengan sistem demikian seorang anak tidak akan pernah mengetahui siapa bapanya, istilah “bapa” digunakan bagi semua pria dari generasi penurun yang pertama. Istilah “ibu” juga diucapkan kepada semua wanita generasi penurun pertama yang semuanya mungkin menjadi ibu tiri. Dengan demikian Morgan yang mulai mengungkapkan sistem kekerabatan Hawai. Waktu sistem-sistem kekerabatan yang unilineal muncul, sistem yang mula-mula adalah matrilineal, karena paling tidak seorang anak dapat mengetahui siapa ibunya; tetapi lambat laun suku-suku matrilineal berubah menjadi patrilineal, karena pasangan pengantin menjadi kesatuan yang lebih stabil dan karena berkembangnya suatu pengertian tentang milik pribadi. Bagi Morgan dan penulis-penulis lain di abad kesembilan belas, keluarga monogami dari dunia Barat merupakan perkembangan paling tinggi dalam evolusi keluarga. Mengenai pengertian milik, Morgan menulis: “Pengaruhnya yang besar …. atas segala nafsu lain menandakan permulaan peradaban”.

Mengingat hal-hal itu, aneh juga bahwa Morgan demikian ditampung oleh kaum Marxis dan kemudian dijadikan pahlawan di Uni Soviet. Karl Marx mendalilkan bahwa Morgan tanpa berkaitan dengan pendapat lain telah menemukan konsep yang materialistis terhadap sejarah. Friedrich Engels, yang bekerja sama dengan Marx dalam mengarang Communist Manifesto, menulis The Origin of the Family, Private Property and the State (1884) yang merupakan ringkasan untuk pembaca dari Ancient-Society hasil karya Morgan, tetapi berdasarkan versi kiri.

Kaum Marxis memberikan interpretasi baru pada pemikiran-pemikiran Morgan. Sebagaimana kapitalis dan milik pribadi, menurut pendapat mereka, bukan merupakan tahap terakhir daripada perkembangan ekonomi, maka begitu pula monogami akan diganti dengan perubahan dalam keadaan sosial. Gerombolan-gerombolan primitif bersifat komunis; ikatan di antara mereka menghilang dengan berkembangnya ide milik pribadi. Tetapi demikian mereka, masyarakat di kemudian hari akan menjadi komunis lagi dan gejala terpencilnya keluarga borjuis akan menghilang. Pandangan ini mengingatkan kita kembali kepada gagasan tentang tahap kebebasan seks. Pada nyatanya Uni Soviet membela integritas keluarga yang berdiri sendiri; bila Engels meramalkan, bahwa keluarga lambat laun akan hilang dalam komunisme, tidak demikian keadaannya di Rusia. Cara kaum Marxis mengagungkan teori Morgan, mengakibatkan bahwa banyak doktrin-doktrinnya diterima sebagai hukum-hukum, termasuk penerimaan umum bahwa sistem matrilineal di mana-mana mendahului sistem patrilineal. Sebagian besar dari bidang arkeologi di Uni Soviet dipengaruhi oleh konsepsi-konsepsi Morgan. Di Amerika Serikat, ide-ide Morgan mendapat sambutan yang berbeda dan dengan lebih banyak fluktuasi.

Incoming search terms:

  • 7 tahap teknologi menurut Lewis Henry Morgan
  • arti: league of ho de no sau nee or iroquois
  • biografi lh morgan
  • klasifikasi sistem thefore morgan
  • lewis morgan materi perubahan sosial budaya

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • 7 tahap teknologi menurut Lewis Henry Morgan
  • arti: league of ho de no sau nee or iroquois
  • biografi lh morgan
  • klasifikasi sistem thefore morgan
  • lewis morgan materi perubahan sosial budaya