Advertisement

MENGENAL LIEM SWIE KING – Pemain bulu tangkis In­donesia dan tiga kali menjadi juara All England (1978, 1979, dan 1981). Ia kemudian memilih ber­main ganda (dengan Kartono) setelah merasa diri tidak mampu bermain tunggal.

Liem Swie King dila­hirkan di Kudus, Jawa Te­ngah. Pendidikannya hingga sekolah menengah atas dan awal kariernya dalam bulu tangkis ia jala­ni di kota kelahirannya itu.

Advertisement

Ia dilatih langsung oleh ayahnya dan kakak ipar­nya yang menjadi pelatih di Klub Djarum. Namanya sebagai pemain bulu tang­kis naik sejalan dengan menurunnya prestasi Rudy H; rtono, maestro bulu tangkis dunia. Pada tahun itu juga (1974) Liem Swie King menjadi juara nasional. Dua tahun kemudian, atau dua tahun setelah tamat SMA, ia langsung masuk Pelatnas Bulu Tangkis di Ja­karta.

Sejak tahun 1976 itulah Liem Swie King diikutser­takan dalam Kejuaraan Asia, All England, Piala Tho­mas, Swedia Terbuka, dan SEA Games. Ia dinilai se­bagai pemain serba lengkap dalam hal teknik, namun ia juga dinilai sebagai pemain yang mudah frustrasi. Pada tahun 1978 ia menjadi juara All England untuk pertama kalinya, setelah menundukkan Rudy Hartono. Setahun kemudian ia menjadi juara All England untuk kedua kalinya, namun gagal pada tahun 1980 (kalah oleh Prakash Padukone dari India).Pada tahun 1979 Liem Swie King terkena hukuman tidak boleh bermain selama tiga bulan, yang dijatuh­kan oleh PBSI karena ia dinilai tidak disiplin sehingga kalah walk over (WO) dari pemain Singapura dalam SEA Games.

Dalam masa itulah ia menerima tawaran bermain dalam film Sakura dalam Pelukan, bersama Eva Arnaz. Keputusannya untuk bermain film ini menda­tangkan banyak kritik. Karena itu ia kembali memu­satkan diri dalam bulu tangkis. Pada tahun 1981 ia menjadi juara All England untuk ketiga kalinya.

Liem Swie King juga ikut memperkuat regu Piala Thomas Indonesia pada tahun 1979, 1982, 1984, dan 1986. Permainan gandanya bersama Kartono terbukti tangguh, antara lain menjadi juru kunci kemenangan regu Indonesia dalam All England tahun 1984 dan menjadi juara Piala Dunia Alba tahun 1984 di Jakarta.

Advertisement