Advertisement

Pendiri dan presiden direktur pertama Bank Negara Indonesia. Setelah menyelesaikan studinya di Sekolah Menengah Pamong Praja (OSVIA), ia bekerja pada Bank Rakyat di Jakarta tahun 1921. Oleh pemerintah Belanda ia pernah dikirim ke Negeri Belanda untuk dipekerjakan pada kementerian jajahan di sana. Sekembalinya ke Indonesia, Raden Mas Margono bekerja sebagai Inspektur (penilik) Jawatan Koperasi, dan pernah pula menjadi Ketua Gabungan Pusat Koperasi Indonesia, Jakarta. Dalam perjalanan pulang ke Indonesia, ia ditugasi mewakili Hindia Belanda pada Kongres Koperasi Internasional di Glasgow, Skotlandia. Pada jaman Jepang, Margono mula-mula bekerja di kantor Bung Hatta, yang kala itu diangkat menjadi penasihat Pemerintah Militer. Tetapi ia kemudian kembali bekerja pada Bank Kredit Rakyat Umum yang oleh Jepang namanya diganti menjadi Shomin Ginko, artinya Bank Rakyat. Setelah kemerdekaan, nama itu diganti lagi oleh pemerintah Indonesia menjadi Bank Rakyat Indonesia.

Pada awal kemerdekaan ia diangkat menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Agung RI yang pada kala itu beranggotakan sembilan orang, termasuk ketuanya. Jabatan ini tidak lama dipegangnya, karena ditugasi mendirikan serta memimpin Bank Negara Indonesia. Surat kuasa untuk pengangkatan itu ditanda-tangani oieh Sukarno-Hatta atas nama pemerintah RI tanggal 15 September 1945. Setelah mendapat surat kuasa tersebut, Margono, atas nasihat seorang notaries sahabatnya, mendirikan yayasan bernama Pusat Bank Indonesia dengan modal seratus rupiah uang Jepang. Dengan modal tersebut ia mulai mengadakan kontak dengan berbagai kalangan. Dari Dr. Soeharto, yang waktu itu mengelola Dana Bantuan Kemerdekaan, ia mendapat tawaran sebesar 350 ribu rupiah uang Jepang sebagai modal pertama. Bersama kepindahan pemerintah RI dari Jakarta ke Yogya pada awal tahun 1946, Bank Negara juga ikut pindah ke Yogya dan menempati bekas gedung De Javasche Bank. Dengan keputusan presiden tanggal 5 Juli 1946, pusat Bank Indonesia diresmikan menjadi Bank Negara Indonesia. Tanggal itu kemudian dianggap sebagai kelahiran BNI. BNI terus berkembang, sementara tenaga-tenaga kader perbankan terus dididik oleh Margono. Beberapa di antara mereka dikirim ke luar negeri dan sekembalinya di tanah air menduduki jabatan kepemimpinan dalam BNI. Karena melihat pergolakan di dalam negeri semakin hangat dan salah seorang putranya, yakni Prof. Dr. Soemitro, berulang kali mendapat panggilan dari Polisi Militer (CPM) di Bandung, Margono memutuskan untuk hidup di rantau untuk sementara waktu. Ia dan keluarganya pindah ke Kuala Lumpur dan menjadi penasihat berbagai usaha di sana. Baru setelah Soeharto menjadi presiden, Margono sekeluarga kembali ke Indonesia. Pengalaman hidupnya ditulis dalam bahasa Belanda berjudul Herinneringen uit 3 Tijdperken, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Beberapa buku mengenai perkoperasian juga ditulisnya.

Advertisement

Advertisement