Advertisement

Guru besar ilmu hukum kenamaan pada Universitas Gajah Mada, Yogya. Ia dikenal eksentrik tetapi ramah. Meskipun sudah berputra empat orang, ia berhasil menyelesaikan studinya di RHS (Sekolah Tinggi Kehakiman), Jakarta. Kariernya dalam bidang hukum dimulai sebagai pegawai yang diperbantukan pada Pengadilan Negeri di Yogya sebelum ia pindah ke Sragen, Yogya, Purworejo, Pekalongan, dan pada jaman Jepang ke Jakarta. Setelah kemerdekaan, ia bermukim di Yogya. Setelah Perguruan Tinggi Gajah Mada didirikan, Djojodiguno memberi kuliah di sana. Pada masa penjajahan Belanda ia sudah menulis berbagai karya ilmiah, antara lain Boeaeltoescheiding in Midden Java (Pembagian Warisan di Jawa Tengah), Het Adatprivaatrecht van Midden Java (Hukum Privat Adat Jawa Tengah) bersama Mr. Tirtawinata. Djojodigoeno juga banyak menulis di majalah berbahasa Jawa, antara lain Kejawen (Jakarta), Mekar Sari (Yogya), Jaya Baya (Surabaya). Dialah pelopor penerjemahan karya pujangga besar luar negeri seperti Schiller, Heinrich Heine, Shakespeare berupa kata-bersayap (aforisma) ke dalam bahasa Jawa. Surat al Fatihah, al Ikhlas juga diterjemahkannya dengan rangkaian kata yang puitis sambil berusaha mendekati apa yang tertulis dalam Al Quran. Yang dilakukannya itu merupakan hal baru dalam kesusastraan Jawa masa itu, sekaligus memperkaya khasanah kesusastraan daerah tersebut.

Nama samaran yang dipakainya adalah Asmawikana, artinya “Entah Bernama Siapa”, dan Jayadi, yang merupakan singkatan dari Djojodigoeno.

Advertisement

 

Advertisement