MENGENAL MASYARAKAT HORTIKITLTUR ADALAH – Dalam studi utama mereka mengenai hubungan-hubungan antara jenis kelamin, Kay Martin dan Barbara Voorhies (1975) telah menganalisis posisi kaum wanita dalam masyarakat hortikultur. Mereka tidak membedakan petani hortikultur yang sederhana dan yang intensif.

Kaum wanita pada umumnya melanjutkan peranan mereka yang pen-ting dalam produksi ekonomi di kalangan petani hortikultur. Dalam menganalisis suatu sampel sebanyak 515 masyarakat hortikultur yang ditarik dari Ethnographic Atlas (Murdock, 1967), Martin dan Voorhies mencatat bahwa kaum wanita yang mendominasi masyarakat bertani adalah 41 persen dari total masyarakat itu; pria mendominasi petani 22 persen; dan 37 persen pria dan wanita mempunyai bagian yang sama dalam melakukan tugas bertani. Lagi pula, semakin penting tanaman itu dalam total bahan makanan, semakin banyak laki-laki dilibatkan dalam bertani itu.

Status kaum wanita di kalangan petani hortikultur tak dapat dianalisis terpisah dari pola-pola kekeraba tan, karena pola-pola itu mempunyai hubungan yang kuat dengan sifat kegiatan kaum wanita. Dengan menggunakan sampel sebanyak 104 masyarakat hortikultur, Martin dan Voorhies menemukan bahwa 56 persen mempunyai asal-usul patrilineal, dan 24 persen lairmya mempunyai asal-usul matrilineal. Pada umumnya, status kaum wanita lebih tinggi di kalangan petani hortikultur, yang mempraktekkan keturunan matrilineal. Di kalangan petani hortikultur I11atTllllleal kaum wanita merupakan fokus struktur sosial keseluruhan, dan hal ini mengangkat kedudukan sosial mereka. Hubungan kekerabatan ditelusuri melalui wanita, dan pria menelusuri hubungan genealog,is mereka melalui ibu dan saudara perempuan, bukan melalui ayah mereka. Dalam masyarakat demikian kedudukan wanita sentral dalam melakukan kegiatan ekonomi. Tanah dimiliki secara matrilineal dan wanita menanamnya untuk kepentingan hubungan matrilineal mereka sendi-ri, yang berarti bahwa wanita sering mempunyai pengaruh yang besar atas masalah-masalah politik. Akan tetapi, politik dalam masyarakat hortikultur matrilineal tetap berada di tangan laki-laki, kecuali dalam hal ini laki-laki menj alankan wewenang dalam peran mereka sebagai s audara laki-laki wanita, bukan sebagai suami. Jadi, walaupun masyarakat matrilineal pada umumnya menempatkan kaum wanita dalam pandangan yang cukup tinggi, kaum wanita tetap berada di bawah secara politis terhadap pria. Matrilini memang mengurangi dominasi pria, tapi tidak menghilangkannya.

Karena masyarakat patrilineal menelusuri asal-usul melalui pria, maka laki-laki menjadi fokus struktur sosial di kalangan petani hortikultur. Tanah dimiliki dan diwariskan melalui laki-laki, dan wanita memegang suatu hu-bungan yang lebih periferal dengan sumber daya ekonomi bila dibandingkan dengan masyarakat hortikultur matrilineal. Kaum wanita di kalangan petani hortikultur patrilineal adalah produsen ekonomi bagi kelompok kerabat yang diorganisasi melalui dan didominasi oleh suami mereka. Karena itu akibatnya ialah status kaum wanita dalam masyarakat tersebut demikian pada umurrmya -cukup rendah, dan tentunya lebih rendah daripada di kalangan petani hortikultur yang diorganisasi secara matrililzeal. Dalam masyarakat patrilineal suami memperoleh hak atas seorang wanita sebagai individu yang memberi anak, dan setiap keturunan digolongkan menurut garis bapak dan kelompok kerabatnya. Wanita merupakan investasi bagi garis keturunan patrilineal suami atau ayah mereka. Dalam garis keturunan patrilineal ayal-u-tya, seorang wanita remaja memberikan jasa tenaga kerja yang bernilai, dan pada waktu ia menikah ia menjadi bernilai karena jasa tenaga kerjanya maupun jasa reproduksinya dalam garis keturunan patrilineal suaminya. Kaum wanita sering beralih keanggotaan kelompok kerabatnya, pada waktu nikah, dari garis keturunan patrilineal ayahnya ke garis keturunan patrilineal suaminya, dan bila hal ini terjadi maka perkawinan berarti bahwa wanita memasuki dunia orang asing. Kaum wanita biasanya mempunyai status yang sangat rendah dalam dunia baru ini. Mereka tidak memperoleh penghargaan dan pengaruh sampai mereka mencapai usia tua, dan malah mereka hanya memperolehnya melalui hubungan dengan anak laki-laki atau sanak saudara laki-laki.

Suatu tingkat variasi yang besar dalam status wanita dijumpai di kalangan petani hortikultur. Di satu pihak kita jumpai kelompok-kelompok seperti Iroquois, suatu masyarakat Indian Amerika Utara di mana kaum wanita mempunyai status dan pengaruh yang sangat tinggi (J. Brown, 1975). Pada pihak lain, kita jumpai masyarakat, seperti Yanomamo, di mana subordinasi wanita adalah intens dan di mana kehidupan sosial berpusat pada laki-laki (Chagnon, 1983). Masyarakat Iroquois jauh lebih dekat dengan petani hortikultur ketimbang dengan masyarakat Yanomamo, karena wanita pada masyarakat Yanomamo cenderung mempunyai status yang sangat rendah. Tentu saja sleralasa_n untuk mengatakan bahwa kaum wanita hortikultur pada umumnya memiliki status yang lebih rendah daripada rekan-rekannya di kalangan pemburu-peramu. Tapi pada masyarakat agrarislah status kaum wanita paling rendah.

Filed under : Bikers Pintar,