MENGENAL MASYARAKAT PEMBURU DAN PERAMU ADALAH – peranan ekonomi utama dalam masyarakat pemburu dan peramu sangat bertipe jenis kelamin seks. Berburu tercakup sebagaibidang kaum pria, sementara meramu pada dasarnya adalah tugas kaum wanita. Sementara kaum wanita dapat pula kadang-kadang berburu binatang kecil dan menangkap ikan, perburuan hewan besar sedang menangkap ikan laut secara universal dimonopoli oleh pria. Demikian pula, sementara kaum pria kadang-kadang berpartisipasi dalam kegiatan meramu, peramuan itu kebanyakan menjadi perhatian kaum wanita. Masyarakat-masyarakat pemburu dan peramu berbeda-beda dalam proporsi subsistensi yang diberikan oleh bahan makanan daging maupun tanaman. Di kalangan sebagian pemburu dan peramu, misalnya Eskimo, perburuan memenuhi hampir seluruh kebutuhan subsistensi. Bahan makanan yang diperoleh melalui peramuan dapat memenuhi lebih dari setengah subsistensi keselunthan. Kenyataan ini menggarisbawahi sangat pentingnya peramuan bagi kebanyakan pengumpul bahan makanan, dan menunjukkan bahwa kaum wanita pada umurrmya Memainkan suatu peran produksi yang besar dalam masyarakat.demikian.

Dalam menilai status relatif jenis kelamin di kalangan pemburu-peramu, Ernestine Friedl (1975) mencatat bahwa kaum pria pada umumnya mempunyai kesempatan yang lebih besar daripada yang dipunyai kaum wanita untuk memperoleh pengakuan dan pres tis, dan kesempatan yang lebih besar itu terutama berasal dari peranan mereka sebagai pemburu. Berburu memberi pria kesempatan untuk tukar-menukar daging di luar rumah, yakni makanan yang paling berprestis di kalangan pengumpul bahan makanan. Karena pria menyediakan bahan makanan berupa daging lebih banyak, seperti di kalangan orang-orang Eskimo, maka status mereka lebih tinggi daripada status kaum wanita. Karena itu, bila kaum pria sedikit saja melakukan perburuan dan apabila kontribusi kaum wanita untuk subsistensi lebih tinggi, maka status kaum pria dan wanita hampir sama.

Kontribusi pria untuk subsistensi melalui perburuan juga ternyata memberi mereka kesempatan untuk mengontrol kaum wanita. Apabila kaum pria sedikit saja terlibat dalam perburuan atau apabila monopoli kaum pria atas daging adalah rendah, maka kaum pria kecil kontrolnya atas kaum wanita. misalnya, jarang terdapat dalam masyarakat-masyarakat tipe Tetapi apabila perburuan kaum pria memberi sejumlah besar bahan makanan, maka agresi kaum pria terhadap kaum wanita menjadi menonjol dan akan terdapat suatu pola keunggulan pria dan subordinasi kaum wanita. Kaum wanita diperlakukan sebagai obyek seks, sedangkan soal nasib adalah sekunder. Dengan demtkian, Friedl menyimpulkan bahwa dominasi kaum pria Sdalah paling besar apabila pria memonopoli produksi ekonomi, dan kesamaan berdasarkan jenis kelamin hampir tercapai dalam masyarakat pengumpui bahan makan di antara pria dan wanita bekerja sama dalam kegiatan subsistensi.

Menggeneralisasi peranan jenis kelamin dalam masyarakat-masyarakat pemburu dan peramu bukanlah tugas yang mudah, dengan pola-pola variabel tertentu yang sudah ditemukan. Di kalangan sebagian pengumpul bahan makanan, misalnya orang-orang Eskimo atau berbagai kelompok orang Aus_ tralia, dominasi kaum pria secara jelas tampak dan terdapat suatu kompleks supremasi pria yang sesungguhnya. Di kalangan kelompok-kelompoknya, misalnya Kung, kesetaraan jenis kelamin hampir tercapai. Di balik polapola variabel itu, ternyata bahwa generalisasi berikut ini dapat ditentukan: (1) Kaum pria cenderung memonopoli pengambilan keputusan politik dan sekurang-kurangnya mempunyai status yang agak lebih tinggi di dalam semua kelompok pemburu dan peramu. (2) Dalam kebanyakan kelompok, tentu saja tidak semua, kaum wanita memperoleh tingkat otonomi dan status yang relatif tinggi. (3) Kesamaan atas dasar jenis kelamin hampir tercapai di kalangan pengumpulbahan makananbila dibandingkan dengan semua tipe kemasyara-katan lainnya.

Filed under : Bikers Pintar,