Advertisement

Max Weber  (1864-1920)

Max Weber, anak dari seorang ayah anggota Reichstag dan ibu aktivis Protestan, dibesarkan di Berlin dalam rumah yang penuh napas intelektual dan sering dikunjungi tokoh-tokoh politik dan intelektual masa pemerintahan Bismarck. Setelah menjalani pendidikan menengah dengan baik sekali dalam berbagai bahasa, sejarah dan sejarah klasik, ia mempelajari hukum, ekonomi, sejarah dan filsafat di Universitas Heidelberg, Strasbourg, Gottingen dan Berlin. Kendati tempat kuliah awalnya di Universitas Freiburg (1894) dan Heidelberg (1897) adalah Fakultas Ekonomi, ia terkenal sebagai salah seorang pendiri utama sosiologi modern dan sebagai salah seorang tokoh intelektual dalam kajian antar disiplin. Weber sudah menjelajahi semua sejarah tertulis, mulai dari bangsa Yunani kuno hingga awal masa Hindu, dari rasul-rasul Perjanjian Lama hingga pujangga Konfusius, dari organisasi ekonomi Timur Dekat masa peradaban awal hingga ekonomi perdagangan Barat abad pertengahan, dan dari asal-usul hukum kontinental hingga analisis komparatif tentang munculnya negara modern.

Advertisement

Keragaman tema ini hanya sebagian kecil contoh saja tidak seharusnya membuat kita menganggap Weber sebagai sarjana dengan energi tidak terbatas yang meloncat ke sana kemari demi kemashurannya sendiri. Sebaliknya, bila diamati secara cermat akan terlihat suatu desain besar dalam tulisan-tulisannya, meskipun mungkin masih belum tuntas dan koherensinya yang terpenting hanya bisa ditempatkan dalam kerangka tekanan-tekanan batiniah yang dialami penulisnya. Weber dan sarjana-sarjana Jerman lain yang segenerasi dengannya memandang munculnya industrialisasi dan era modern lebih sebagai sesuatu yang di dalamnya mengandung ambivalensi yang parah daripada sebagai langkah pertama menuju era kemajuan baru. Meskipun menyambut baik kemungkinan-kemungkinan yang ditawarkannya untuk mengembangkan individualisme dan untuk melepaskan diri dari rantai feodal masa lampau, Weber hanya melihat sedikit petunjuk arah yang bisa membimbing masyarakat modern menetapkan makna komprehensif hidup mereka atau bahkan kegiatan sehari-hari mereka (Weber 1946). Selain itu, demi mendapatkan birokrasi yang kuat, organisasi masyarakat industri diberi kemampuan untuk menciptakan masyarakat yang lemah secara politik dan menggantikan potensi kreatif dengan rutinitas yang membosankan dan hubungan-hubungan yang sekadar fungsional.Berbagai perkembangan ini mengancam paham individualisme yang sedang berkembang.

Hanya kebimbangan-kebimbangan semacam itulah yang ada di belakang semua tulisan Weber, terutama tulisan-tulisan yang dibuat setelah tahun 1903. Dalam berbagai kajian ini ia berharap bisa mendefinisikan secara tepat keunikan peradaban Barat dan memahami bagaimana caranya masyarakat dalam skala universal yang dipengaruhi oleh konstelasi-konstelasi sosial merumuskan makna bagi kehidupan-kehidupan mereka sehingga mereka melakukan tindakan tertentu. Ada keingintahuan dalam berbagai pertanyaan yang diajukannya dan ini memberikannya suatu kemampuan luar biasa untuk menempatkan dirinya sendiri setelah ia membangun “citra mental” era dan peradaban lain ke dalam pikiran banyak orang yang sama sekali berbeda dengan dirinya. Tujuannya adalah memahami bagaimana nilai-nilai, tradisi dan tindakan memberikan makna bagi para pelakunya betapapun asingnya mereka di mata ilmuwan sosial yang menelitinya dan ini telah membentuk landasan sosiologi verstehende Weber.

Barangkali sensitivitas inilah dan juga tipisnya penghormatan terhadap makna-makna yang telah diformulasikan selama berabad-abad yang mendorong Weber membangun salah satu aksiomanya yang paling terkenal, aksioma yang hingga sekarang diperdebatkan dengan sengit. Menurut pendapatnya, semua penilaian ilmiah harus bebas nilai; begitu para peneliti sudah menyeleksi tema-tema penelitian mereka, maka nilai-nilai, preferensi dan prasangka pribadi tidak boleh mencampuri kumpulan dan evaluasi data empiris itu (Weber 1949). Setiap peneliti yang terlibat dalam karya ilmiah harus menghindari pencampuradukan yang gegabah antara nilai-nilai mereka dengan nilai-nilai para pelaku yang sedang diteliti. Menurut pendapat Weber, para ilmuwan yang termasuk kelompok Calvinis pun terikat dengan kewajiban selama mereka berniat menuntut ilmu untuk menggambarkan, misalnya, praktek-praktek suku secara akurat dan menafsirkannya sesuai dengan signifikansi kultural asli mereka, meskipun secara pribadi tampak begitu aneh. Aksioma ini juga mengimplikasikan pemisahan secara ketat antara yang ada (masalah yang akan dianalisis secara ilmiah) dan yang seharusnya (wilayah nilai-nilai pribadi).

Dengan memberi batasan eksplisit pada ranah ilmu yang sah dan menafikkan hak ilmu menentukan tujuan dan nilai-nilai, Weber memiliki rencana besar dalam benaknya. Ia berharap bisa membentuk wilayah yang tidak dapat diganggugugat di mana di dalamnya individu-individu akan dipaksa mengkonfrontasikan dirinya sendiri dan memuki kewenangan untuk merumuskan seperangkat nilai pribadi yang punya kemampuan mengarahkan berbagai tindakan mereka dan memberinya makna. Tidak ada banyak kendala dalam abad di mana birokratisasi dan pandangan dunia ilmiah mengancam untuk melampaui batas pengambilan keputusan, yang dengan demikian mengancam individualisme. Keteguhan Weber terhadap pengetahuan yang bebas nilai, terutama dalam kajiannya tentang masyarakat-masyarakat pra-modern dan non-Barat, penjelajahannya ke berbagai cara makna membentuk dan menciptakan pola, dan cakupan penelitiannya yang bersifat universal historis, memungkinkannya menulis meskipun sepotong-potong, tidak lengkap dan tidak tertata baik sosiologi peradaban komparatif historis yang unik dalam sejarah sosiologi.

Meskipun minatnya tertuju pada perbandingan antar peradaban dan analisis-analisis kausal mengenai berbagai perbedaan, namun penekanan Weber atas makna individual dan tindakan terpola mencegahnya menggunakan aliran Hegelian, organisasi produksi dan perjuangan kelas Marxis, atau “fakta-fakta sosial” dari Durkheim sebagai titik awalnya, ia juga tidak memiliki kecenderungan karena aksentuasinya yang berkesinambungan pada konflik-konflik antara berbagai bidang kehidupan (keagamaan, politik, ekonomi, hukum, estetik)dan sentralitas kekuasaan dan dominasi untuk memandang masyarakat. sebagaimana Parsons, sebagai satu kesatuan yang pada dasarnya terintegrasi. Sebenarnya, orientasi Weber kepada individu dan makna yang diberikan individu pada tindakannya sekilas tampak akan menjerumuskan Weber dalam subyektivisme radikal. Ada dua prosedur yang membuatnya tidak terjerumus.

Pertama, dalam kajian substantifnya, yang menjadi sorotan adalah tindakan-tindakan terpola dari individu dalam kelompok, jadi bukan individu-individu yang bertindak sendiri-sendiri. Hanya tindakan yang reguler saja yang, menurut Weber, terbukti signifikan secara kultural dan kuat secara historis. Individu-individu cenderung bersatu padu menjadi kelompok-kelompok terutama melalui enam macam cara: pengakuan atas kepentingan material bersama (seperti yang terjadi ketika kelas-kelas terbentuk), pengakuan atas “kepentingan ideal” bersama (sebagaimana yang terjadi ketika muncul kelompok-kelompok status), keterikatan dengan suatu pandangan bermatra-tunggal (sebagaimana yang terjadi pada kelompok-kelompok keagamaan), pengakuan atas perasaan-perasaan afeksi (sebagaimana yang terdapat pada kelompok-kelompok yang berorientasi perorangan, seperti rumah tangga, suku dan pemukiman), kesadaran akan adanya hubungan-hubungan dominasi yang sah (sebagaimana yang terjadi dalam bentuk-bentuk dominasi karismatik, patriarkal, feodal, patrimonial dan birokratik), dan pengakuan atas adanya berbagai tradisi. Betapa pun suatu lembaga itu tampak begitu masif dan andal namun menurut Weber lembaga tidak boleh dipahami lebih dari sekadar orientasi individu-individu yang melakukan tindakan bersama.

Weber menjelaskan kegunaan tipe ideal untuk mengkonfrontasikan masalah yang sulit ini. Alat analisis murni ini memungkinkan untuk memegang realitas melalui simplifikasi. Namun, prosedur-prosedur untuk melaksanakan simplifikasi tidak bersifat arbitrer tapi melibatkan suatu pembesaran esensi (exaggeration of the essence) atas fenomena yang sedang dikaji dan rekonstruksinya dalam suatu bentuk yang memiliki kesatuan internal yang lebih besar daripada realitas empiris yang pernah ada. Dengan demikian, konseptualisasi Weber, misalnya mengenai birokrasi atau kelompok Calvinis, tidak dimaksudkan untuk menggambarkan secara akurat semua birokrasi atau para Calvinis, tetapi hanya untuk menarik perhatian terhadap berbagai aspek esensialnya saja. Sebagai konstruksi artifisial, tipe ideal merupakan abstraksi dari realitas dan gagal merumuskan segala fenomena khusus. Meski begitu, tipe ideal memenuhi tujuan-tujuan penting; memungkinkan kita begitu semua rentetan tipe ideal yang sesuai dengan tema kajian sudah terbentuk untuk melakukan perbandingan-perbandingan dan  ketika digunakan sebagai alat ukur heuristik untuk mendefinisikan suatu birokrasi atau gereja Calvinist tertentu dan memperkirakan penyimpangannya memungkinkan isolasi dan konseptualisasi yang jelas terhadap ciri-cirinya yang khas. Hanya setelah melakukan sejumlah “eksperimen” ideal-tipikal maka kita dapat melanjutkan ke masalah sebab-sebab empiris murni dari berbagai keunikan kasus tertentu. Bagi Weber, masalah-masalah kausal tetap merupakan persoalan inti, jadi bukan sekadar masalah definisi semata.

Meskipun ia menyusun sebuah metodologi hanya disinggung secara tidak langsung di atas yang memungkinannya menyelidiki cara individu-individu merumuskan makna dalam berbagai lingkungan peradaban dan kurun waktu, serta memungkinkannya mendefinisikan secara tepat keunikan Barat modern, namun harus disimpulkan bahwa bila dilihat dengan mengacu pada tujuan-tujuan besar ini berbagai tulisannya sebenarnya terdiri dari fragmen-fragmen. Sebagian besar, termasuk kajian komparatifnya tentang Economic Ethics of the World Religions (EEWR)  yang meliputi The Religion of China (1951). The Religion of India (1958) dan Ancient Judaism (1952)  dan Economy and Society (E&S) (1968 [1922]). diterbitkan dalam bentuk yang belum tuntas. Namun demikian, berbagai elemen dari kesatuan ini telah berdiri sendiri dan akhirnya menjadi. Singkatnya, karya-karya Weber terbagi menjadi dua. di satu sisi adalah beberapa penyelidikan empiris sedangkan di sisi lain adalah model-model analisis (E&S).

Yang jelas, bukunya yang paling terkenal  tak henti-hentinya diperdebatkan dan d ibaca orang The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (1930 [1922]), termasuk kategori yang disebut sebagai penyelidikan empiris. Dalam buku klasik ini, Weber berusaha memahami akar dari kapitalisme modern. Menurutnya, bentuk kapitalisme ini berbeda dari organisasi kerja sistematis, yaitu penggantian “etika ekonomi tradisional” di antara para pekerja dan pengusaha melalui tenaga kerja metodik dan upaya sistematis untuk meraih laba. Jadi, Weber melihat adanya sikap (attitude) tertentu terhadap kerja dan laba “semangat kapitalisme” sebagai sesuatu yang penting, dan menolak pandangan bahwa arus logam mulia, perdagangan yang semakin meningkat, kemajuan teknologi, pertumbuhan penduduk, pengembangan teknik perbankan. impian universal menjadi orang kaya, atau upaya untuk menjadi “supermen ekonomi” (Carnegie, Rockefeller, Fugger) sudah cukup memadai untuk menjelaskan asal-usul kapitalisme moderen itu.

Kecemasan mendalam yang ditanamkan oleh doktrin takdir dari agama tentang tidak berartinya upaya penyelamatan diri sendiri telah memberi bukti yang begitu kuat pada orang-orang beriman sehingga mereka tidak pernah mempertentangkannya dengan akal sehat. Sebagai akibat dari berbagai revisi yang dilakukan oleh Richard Baxter, seorang pemimpin gereja abad ke-17, keberhasilan duniawi akhirnya dianggap sebagai suatu tanda bahwa Tuhan sudah menganugerahkan pertolongannya dan pada gilirannya sekaligus sebagai bukti adanya pilihan-pilihan takdir. Dalam prinsip ini, orang saleh bisa meyakini dirinya sebagai kelompok kecil orang terpilih sehingga mengurangi kecemasan, dan keberhasilan duniawi itu sendiri akhirnya diberkati sebagai suatu “keutamaan” religius. Kesediaan tenaga kerja metodis (Bemf) terbukti merupakan jalan paling pasti menuju keberhasilan duniawi, sebagaimana reinvestasi kekayaan secara berkesinambungan konsekuensi tak terduga dari sikap ini jadi bukan penghamburan demi kesenangan duniawi. Menurut Weber, asketisisme keakhiratan para pendeta di abad pertengahan akhirnya, bersama-sama dengan Calvinisme, berubah menjadi “asketisisme keduniaan yang batiniah.”

Untuk menarik perhatian pada penyebab kultural kapitalisme modern ini, Weber (1930 [1922]) sama sekali tidak bermaksud mengganti penjelasan idealis dengan penjelasan materialis. Sebaliknya, ia hanya bermaksud menunjukkan segi idealis yang sejak dahulu diabaikan untuk menekankan bahwa penjelasan komprehensif mengenai asal-usul kapitalisme modern itu harus mencakup pertimbangan etika ekonomi dan bentuk ekonomi. Selain itu, tanpa bermaksud menyatakan bahwa Calvinisme menimbulkan kapitalisme modern dalam model sebab-akibat tunggal, Weber (1961 [127]) menegaskan bahwa munculnya tipe kapitalisme ini hanya bisa dijelaskan secara memadai melalui model-model multidimensional (Cohen 1981; Collins 1980; Kalberg 1983). Sebagaimana dikemukakan Weber (1930 [1922]) dalam pembahasannya mengenai “backwoods Pennsylvania” dan sebagaimana sudah diketengahkan oleh Gordon Marshall (1980; 1982) dalam kasus Skotlandia, konstelasi faktor-faktor material itu hadir dalam bentuk sedemikian rupa sehingga suatu konteks kondusif bisa dirumuskan, sebab tanpa konteks ini semangat kapitalisme tidak berdaya sama sekali untuk memunculkan kapitalisme modern. Namun, setelah diberi batas-batas yang jelas, kapitalisme modem meletakkan dirinya di atas landasan proses-proses sosialisasi sekular dan mekanisme kursif, dan tidak memerlukan lagi semangatnya yang asli.

Meski menjelaskan kemunculan kapitalisme modem dengan cara yang baru, namun The Protestant Ethic tidak mampu menangkap ma-salah komparatif yang lebih luas: kekhususan Occident (barat), Weber sadar betul bahwa ini tidak dapat didefinisikan melalui serangkaian perbandingan dengan peradaban-peradaban non-Barat. Ketika menyinggung Qna dan India, ia juga mengambil isu kapitalisme modern sebagai pusat perhatiannya, meskipun di sini ia dihadapkan dengan pertanyaan negatif mengenai mengapa dalam peradaban-peradaban ini tipe kapitalisme ini tidak dapat berkembang. Selain itu, tanpa bermaksud menilai apakah ajaran-ajaran Kong Hu Cu, Taoisme, Hindu dan Budha melaksanakan atau melarang tindakan ekonomi metodis, kajian ini juga mengarah ke sisi materialis dan berusaha membahas etika ekonomi agama-agama dunia non-Barat dalam konteks berbagai dimensi sosio-struktural dan organisasional. Prosedur komparatif ini juga memungkinkan Weber mengisolasi posisi faktor-faktor material di Barat yang terbukti kondusif bagi perkembangan kapitalisme. Kajian-kajian empiris ini, selain penyelidikan-penyelidikannya terhadap agama Yahudi kuno, mengantarkannya menuju langkah besar dalam usahanya memahami keadaan tertentu dimana konfigurasi sosial mempengaruhi pembentukan makna.

Meski demikian, sebagaimana ditekankan berkali-kali oleh Weber sendiri (1930 [1922]; 1972 [1920]), kajian-kajian ini sama sekali tidak sempurna, terutama bila dipertimbangkan dalam kaitannya dengan tujuan besar yang diharapkannya. Selain itu, kajian-kajian ini tidak terorganisasi dengan baik sehingga tidak memberi kita pendekatan khas Weberian untuk memecahkan relasi-relasi rumit antar berbagai gagasan dan kepentingan. Penyelidikan-penyelidikan empiris ini harus dibaca melalui kacamata kategori dan model analisis yang dikembangkan Weber untuk menganalisis tindakan sosial berdasarkan skala universal historis dalam salah satu karya klasik dari ilmu sosial modern, Economics and Society (E&S) (1968 [1922]).

Secara selintas, buku yang terdiri dari tiga jilid ini mengungkapkan keseluruhan tujuan besar Weber. Bagian Pertama terutama berkaitan dengan artikulasi seperangkat konsep sosiologi yang luas. Meskipun bersifat empiris, masing-masing tipe ideal ini karena dirumuskan berdasarkan skala universal historis tetap berada pada abstraksi tingkat tinggi. Namun, setiap tipe ideal ini bisa dimanfaatkan sebagai alat ukur heuristik yang berfungsi sebagai titik referensi bagi pendefinisian kasus-kasus tertentu. Tipe-tipe ideal pada Bagian Dua tidak terlalu banyak cakupannya dan pada umumnya terkait dengan kurun waktu dan peradaban tertentu saja (Mommsen 1974). Bagian ini pada setiap halamannya mengemukakan bagaimana penulisnya, dalam membahas beberapa contoh historis, menyerap esensinya dan membangun tipe-tipe idealnya. Pergerakan terus-menerus antar tingkat historis dan tipe ideal disamping ketidaksediaan Weber untuk merumuskan tipe ideal sebelum membahas berbagai kasus secara rinci inilah yang menyebabkan Weber bersifat sepotong-potong. Kegagalannya dalam membahas tema-temanya yang tidak populer dalam suatu model sinoptik juga mengurangi minat orang membaca E&S.

Adanya berbagai kelemahan ini rupanya telah membutakan sebagian besar ilmuwan spesialis pengkaji Weber akan adanya alat “analitik” terhadap tindakan sosial yang terkubur dalam buku ini dan kegunaannya untuk kajian komparatif dan historis atas semua peradaban (Kalberg 1980; 1983; 1990; 1994). Akibatnya, semua bab dibaca dan diperdebatkan dalam konteks yang terlepas dari tujuan-tujuan besar yang terangkum dalam semangat Weberian dan dalam model ahistoris. Namun demikian, bab-bab tertentu dianggap klasik untuk berbagai sub bidang sosiologi, seperti sosiologi agama, sosiologi perkotaan, sosiologi stratifikasi, sosiologi ekonomi, sosiologi modernisasi dan pembangunan, sosiologi hukum, dan sosiologi politik. Pada setiap bab Weber menyusun sesuai dengan problematika spesifik yang terkait analisis universal historis yang mencakup berbagai pembahasan mengenai cara-cara di mana pada setiap tahap tindakan sosial dipolakan dalam rangka merespons berbagai kekuatan internal maupun eksternal dan mempelajari berbagai kelompok status dan organisasi spesifik sebagai “social carriers”.

Hanya tipologi kepenguasaan (Herrschaft = typology of rulership) yang bisa diberi catatan khusus di sini. (Terjemahan bahasa Inggrisnya rulership ini dikemukakan oleh Benjamin Nelson dan bagi saya tampak lebih baik dibandingkan domination yang mengesankan unsur kekuatan tapi mengabaikan pengertian legitimasi, atau authority yang mengandung arti legitimasi tapi meremehkan komponen kekuatannya). Pada bagian yang panjang ini Weber hendak mendefinisikan dasar-dasar empiris untuk legitimasi kepenguasaan dan menegaskan hubungan-hubungan tipikal di antara para penguasa, badan-badan administratif, dan rakyat yang diperintah. Kepenguasaan karismatik didasarkan atas adanya kualitas personal yang luar biasa, kepenguasaan tradisional (patriarkal, feodal, dan patri-monial) didasarkan pada adat-istiadat dan kepercayaan bahwa “masa dahulu kala” itu sendiri memberi justifikasi terhadap kekuasaan yang berkelanjutan; dan kepenguasaan rasional-legal (birokratik) disahkan melalui berbagai hukum, ketetapan dan peraturan yang diundangkan. Keberlangsungan semua tipe itu bergantung setidak-tidakny pada kepercayaan minimal rakyat bahwa kepenguasaan tersebut telah dijustifikasi; hanya dengan begitu kepatuhan akan diubah. Meskipun banyak ahli berkeberatan atas tipe-tipe ideal ini, namun Weber merancangnya secara eksklusif sebagai alat ukur heuristik.

Pada semua bagian E&S, dan juga EEWR, terdapat pandangan yang subtil dan dialektis mengenai hubungan-hubungan antara tindakan berorientasi nilai, berorientasi kepentingan dan berorientasi tradisi. Berbeda dengan kajian EEWR, hubungan-hubungan ini dalam E&S dibicarakan sebagai model-model yang tidak hanya menggabungkan tipe-tipe ideal dalam hubungan-hubungan “afinitas elektif’, tetapi juga memetakan ‘relasi antagonisme’ terpola antara tipe-tipe ideal khas dan bidang-bidang kehidupan tersendiri. Dalam hal ini E&S tidak sekadar formasi konsep dan klasifikasi terhadap tingkat interaksi antar konstelasi yang dinamis. Pada tingkat “kontekstual ini Weber berkali-kali bergeser bolak-balik di antara tipe-tipe ideal yang beragam, yang semuanya dimaksudkan untuk mengartikulasikan “tuntutan perkembangan”: yaitu, seluruh rangkaian tipe-tipe ideal berdasarkan dimensi perkembangan dan sebagai fokus bidang-bidang kehidupan agama, ekonomi, hukum dan kekuasaan berupaya mengonseptualisasi perubahan zaman. Kendati pembahan itu dijadikan hipotesis berdasarkan berbagai instrumen penelitian yang memang terjadi dalam sejarah pada masa dan peradaban tertentu, tapi bagi Weber hal ini tetap merupakan persoalan empiris, persoalan yang bagaimanapun juga melibatkan kekuatan strata “penyebar” (carrier), keberhasilan berbagai kelompok dan organisasi baru dalam membangun kepenguasaan. dan sekadar kekuasaan (Kalberg 1994). Meskipun Weber menyadari infleksibilitas dari tradisi dan pola pemeliharaan sejarah panjang ribuan tahun tetap berada dalam “jalur” peradaban atau sudut pandang dunia, namun keyakinan Weber bahwa kekuasaan dan “kebetulan” sejarah senantiasa bisa melakukan penyusunan ulang yang signifikan terhadap konfigurasi-konfigurasi telah mencegahnya menciptakan rumusan-rumusan global yang mampu meramalkan perkembangan masyarakat. Menurut Weber, interpretasi materialis terhadap sejarah sebagai contoh hanya akan memberikan hipotesis yang berguna, bukan penjelasan ilmiah.

Sketsa atas sosiologi Weber ini hanya menyentuh sebagian kecil dari peta pemikirannya. Intensitas kesungguhan Weber menghadapi kompleksitas besar, berbagai paradoks tak terpecahkan, dan bahkan penyimpangan-penyimpangan realitas sosial yang kontradiktif, dan penolakannya untuk menyederhanakan atas nama pandangan-pandangan doktrinal atau ideologis, hanya bisa diapresiasi oleh mereka yang berkonfrontasi langsung dengan tulisan-tulisannya. Untungnya, ketika dilakukan analisis- analisis sistematis terhadap tema-tema besar yang melandasi buku-bukunya sebagai satu kesatuan, pencerahan Weber berlangsung terus (Weiss 1989) sehingga memberi harapan untuk menyatukan fragmen-fragmen dan mengungkapkan berbagai perhatian dari seorang sarjana abad ke-20 yang paling menonjol.

Incoming search terms:

  • max webet seorang bapak sosialisasi modern
  • menurut max weber apabila individuyang bertindak
  • pengertian sosialisasi modern
  • sosialisasi webber

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • max webet seorang bapak sosialisasi modern
  • menurut max weber apabila individuyang bertindak
  • pengertian sosialisasi modern
  • sosialisasi webber