Advertisement

Tempat kelahiran salah satu kebudayaan paiing tua di dunia. Kebudayaan yang sudah maju ini berkembang sekitar 5.000 tahun yang lalu di sekitar Sungai Nil di Afrika Utara. Peradaban ini berlangsung selama lebih dari 2.000 tahun dan merupakan salah satu peradaban yang terpanjang hidupnya di dunia.

Satu setengah abad lalu dunia belum memahami sepenuhnya kebesaran sejarah Mesir Kuno. Pengetahuan yang diperoleh hanya berasal dari catatan sejarah Herodotus dan Strabo, seorang penulis Yunani. Namun catatan asli Strabo hancur sehingga sejarawan hanya memperolehnya dari kutipan penulis lain seperti Flavius Josephus, Eusebius dari Caesarea, Sextus Julius Afrikanus.

Advertisement

Catatan atau naskah yang menggunakan tulisan hieroglif, huruf asli Mesir, baru dapat dipahami artinya ketika Perancis menyerbu Mesir dan menemukan batu Rosetta di muara Sungai Nil. (Lihat juga CHAMPOLLION, JEAN FRANCOIS). Sejak itu terbukalah sejarah Mesir Kuno.

Seluruh sejarah Mesir Kuno merupakan rekaman sejarah Sebelum Masehi. Jaman tertua dalam sejarah Mesir Kuno disebut Jaman Batu (12000-5000 SM), diikuti Jaman Pradinasti (5000-3200 SM), Protodinasti (3200-2780 SM). Dalam Jaman Protodinasti muncul dan berkuasa Dinasti I dan II yang berpusat di Thinis. Raja-raja Dinasti I dan II membangun kuil untuk Ptah, dewa dari kota Memphis. Pada masa ini mereka menemukan sistem irigasi, penggunaan mata bajak yang ditarik sapi, serta tulisan hieroglif. Setelah periode ini, muncul sejumlah kerajaan yang diberi nama menurut periode dalam sejarah yaitu Kerajaan Kuno, Menengah, dUn Baru.

Kerajaan Kuno (2780-2280 SM). Kerajaan ini diperintah oleh sejumlah dinasti. Di bawah Dinasti III, yang berpusat di Memphis, didirikan Piramide Tangga atau Piramid Zoser (2750 SM). Di bawah Dinasti jV, yang berpusat di Memphis, didirikan piramide besar Khufu atau Cheops (2650 SM). Dinasti V dan VI, berpusat di Heliopolis, tidak menghasilkan karya monumental.

Jabatan raja diwariskan secara turun temurun dan diberikan kepada anak tertua permaisuri. Beberapa permaisuri hanya melahirkan anak wanita, dan beberapa dari anak wanita ini menuntut haknya atas takhta. Sejarah mencatat empat wanita menjadi ratu.

Kerajaan Menengah 2280-1574 SM. Dinasti VII mengawali pemerintahan Kerajaan Menengah. Ketika Dinasti X mulai berkuasa, ibu kota kerajaan dipindahkan dari Memphis ke Herakelpolis. Raja-raja dinasti ini adalah orang kuat. Mereka segera memulihkan kekuasaan dan kemakmuran Mesir. Dinasti XI terdiri atas enam raja dengan tahun pemerintahan yang pasti, yaitu Intef I, II, III, Mentuhotep I, II, III. Pusat pemerintahan dinasti ini ialah Thebe.

Raja-raja Dinasti XII menaklukkan Nubia dan meluaskan perdagangannya hingga ke Asia Barat Daya. Pusat pemerintahan dinasti ini ialah It-tawi. Delapan raja dari dinasti ini ialah Amenemhet, Sesostri, Amenemhet II, Sesostri II, III, Amenemhet III, IV, dan Sobknefru. Dinasti berikutnya, Dinasti XIII sampai dengan XVII tidak mempunyai raja-raja terkenal.

Kerajaan Baru (1574-1085 SM) berusia hampir 500 tahun. Pada masa ini Mesir menjadi negara yang terkuat di dunia. Kejayaannya sudah dimulai sejak awal periode, yaitu tahun 1570 SM, di bawah Dinasti XVIII. Tentara Hykos yang masih menguasai sebagian wilayah Mesir berhasil diusir ke luar. Thebe menjadi penting kembali. Amon diangkat menjadi dewa kota yang kemudian identik dengan Re sehingga disebut Amon-Re.

Pada awal pemerintahan Dinasti XVIII, Mesir membangun tentara yang kuat. Mereka menggunakan kereta kuda dan peralatan yang diperkenalkan orang Hykos. Pasukan Mesir menyerbu hingga ke Asia Barat Daya. Thutmosis I memperluas kerajaan hingga keSungai Eufrat. Ratu Hatshepsut, putrinya, turut memimpin pasukan dalam pertempuran. Kerajaannya mencapai puncak kejayaannya pada 1400 SM di bawah Raja Thutmosis III. Secara berurutan, raja yang memerintah dalam dinasti ini ialah Amasis I, Amenhotep I, Tutmosis I, Ratu Hatshepsut, Amenhotep II, Tutmosis IV, Amenltotep III, Akhenaton atau Amenhotep IV, Semenkhare, Tutankhamen, Ay, dan Horemheb.

Sejarah Mesir mengalami perubahan di bawah pe-merintahan Amenhotep IV tahun 1367 SM. Ia memperkenalkan penyembahan kepada dewa matahari yang disebut Aton. Aton dilukiskan sebagai cakram matahari. Juga ia memaklumkan bahwa Aton menggantikan Amon serta segala dewa lain kecuali Re. Ia sendiri percaya bahwa Re bagian sinar matahari yang keluar dari Aton. Juga ibu kota dipindahkan ke Akhetaton, 500 kilometer di utara Thebe.

Reformasi agama yang dilakukan Akhenaton menyebabkan timbulnya karya seni dan ukir yang memuliakan Aton. Namun perubahan yang dilakukan Akhenaton menimbulkan kemarahan banyak orang Mesir. Oleh para sejarawan, reformasinya disebut Revolusi Amama, karena reruntuhan kota kuno itu sekarang terdapat di kota Tell el Amarna.

Penggantinya segera menghentikan kemarahan orang Mesir. Raja Tutankhaton membuang aton dari namanya dan menggantinya dengan amen sehingga menjadi Tutankhamen. Agama lama dipulihkan kembali. Horemheb, raja terakhir Dinasti XVIII menghapus seluruh agama yang diperkenalkan Akhenaton.

Raja-raja Dinasti XIX yang penting ialah Ramses I dan II. Kejayaan Ramses II disebutkan juga dalam Kitab Kejadian, namun di inasa pemerintahannya, Nabi Musa membawa umat Israel ke luar dari Mesir.

Mesir Kuno mulai merosot pamornya pada masa pemerintahan Dinasti XX. Perselisihan berkepanjangan antara para imam dan keluarga kerajaan memecahbelahkan negara ke dalam beberapa kerajaan kecil.

Selama 700 tahun berikutnya, lebih dari 10 dinasti memerintah Mesir. Kebanyakan dinasti itu berasal dari Nubia, Asiria, dan Persia. Tahun 332, ketika Aleksander Agung menyerbu Mesir, takhta kerajaan diduduki Dinasti XXXI.

Studi tentang Mesir Kuno disebut egiptologi dan para ahlinya disebut egiptolog. Pengetahuan mereka diperoleh dari peninggalan Mesir Kuno. Informasi pertama tentang adanya Kerajaan Mesir Kuno diperoleh dari tulisan yang dibuat oleh orang Mesir sendiri atau oleh penulis Yunani. Namun setelah mereka dijajah bangsa Roma, huruf-huruf ini segera dilupakan orang.

Selama lebih dari 1000 tahun para ahli mencoba menemukan cara membaca sistem tulisan ini namun gagal. Suatu perkembangan baru terjadi ketika tahun 1799, ditemukan sebuah batu dengan naskah tulisan yang menggunakan huruf Yunani dan hieroglif di Rosetta, sebuah kota dekat Aleksandria. Seorang ahli Perancis, Jean Francois Champollion akhimya berhasil memecahkan rahasia tulisan hieroglif. Semenjak itu, dikembangkanlah sebuah kamus yang memungkinkan para ahli menerjemahkan pelbagai naskah pada monumen kuno dan kuil. Kemudian diketahui bahwa tulisan hieroglif yang lebih sederhana ialah tulisan hieratik dan demotik.

Seni dan llmu Pengetahuan. Piramide Mesir merupakan bangunan terbesar dan tertua di dunia. Reruntuhan 35 piramide utama masih terlihat sepanjang Sungai Nil. Tiga piramide raksasa di Giza dikenal sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Bangunan ini dibuat 4.500 tahun yang lampau. Tingginya 140 meter, fondasinya 5 hektar. Duajutabalok batu diperlukan untuk bangunan ini, masing-masingnya seberat 2,3 ton. Mereka juga membangun kuil.

Lukisan dan karya seni banyak tersimpan di kubur dan kuil. Seniman biasa menghiasi dinding kubur dengan lukisan kehidupan sehari-hari. Namun gambar-gambar ini sekaligus mencerminkan keyakinan masyarakat tentang kehidupan di dunia lain. Pematung mengukir batuan raksasa menjadi sfinks. Patungpatung ini mengabadikan raja atau dewa Mgsir. Sfinks Agung, misalnya, dipahat untuk Raja Khafre atau Dewa Re-Harakhte. Patung ini berkepala manusia dan berbadan singa. Tingginya 20 meter dan panjangnya 73 meter. Umurnya sekitar 4.500 tahun.

Alat musik pengiring nyanyian meliputi harpa dan suling. Lirik lagu diambil dari puisi yang romantis. Berkaitan dengan ilmu pengetahuan, mereka melakukan pengamatan di bidang geografi dan astronomi. Sebuah kalender yang terdiri atas 365 hari berhasil disusun. Patokan awal tahun adalah kemunculan kembali bintang Sirius, sekitar tanggal 20 Juni. Sistem penanggalan mereka membantu para ahli untuk memperkirakan peristiwa yang terjadi di bagian dunia lain.

Tabib Mesir merupakan orang pertama di bumi yang meneliti badan manusia secara ilmiah. Mereka mempelajari struktur otak dan mengetahui bahwa denyut nadi berkaitan dengan jantung. Mereka dapat menyembuhkan penyakit, menyambung tulang yang patah, dan mengobati luka.

Mumi. Salah satu keahlian masyarakat Mesir Kuno ialah mumifikasi atau pengawetan mayat. Pada masa pemerintahan Dinasti V, pengetahuan ini mulai berkembang luas. Otak dan isi perut dikeluarkan, lalu sisa mayat diawetkan dengan damar. Bibir dan pipi diwarnai lalu diberi biji mata palsu. Puncak keahlian mumifikasi dicapai pada masa pemerintahan Dinasti XXI dan XXII.

Mumi dari Mesir Hilir hampir seluruhnya rusak namun yang dari Mesir Hulu lebih awet karena udaranya lebih kering. Mumi para raja (firaun) Mesir yang awet sempurna ialah Tutankhamen, Tutmosis III, Tutmosis IV, Amenhotep II, Seti I, dan Ramses II; semuanya tersimpan di Museum Arkeologi Kairo.

Advertisement