Advertisement

Michel Foucault adalah seorang filsuf Perancis yang sangat berhasil dalam karirnya sebagai dosen, dan guru besar pada Clermont-Ferrand. Paris-Vincennes. dan juga sebagai guru besar sejarah sistem pemikiran pada College de France seiak tahun 1970. Dilihat dari sejarah jabatannya itu, mungkin orang mengira Foucault aktif terlibat dalam sejarah gagasan. Sesungguhnya ia sendiri tidak mau mendapat label apa pun. Karyanya yang berjudul L’Archeologie du savoir (1969) atau “Arkeologi Pengetahuan , memang bisa disebut sebagai karya tentang sejarah gagasan. Namun ia sendiri berkeberatan dengan label terbatas seperti itu karena ia menghendaki karyanya dipandang sebagai suatu kajian totalitas. Dalam buku itu ia mengkritik aspek-aspek tertentu dari karyanya sendiri sebelumnya. Antara lain ia mulai meragukan adanya suatu “subyek umum sejarah” atau Sejarah kegilaan dan peradaban”. Sedangkan dalam karya lainnya yang berjudul Les Mots et les choses (1966) atau “Tatanan segala sesuatu”, Foucault menyatakan bahwa kemanusiaan merupakan suatu penemuan modern dan di masa mendatang bisa hilang. Pendapat seperti ini bisa mendorong kita untuk menyebutnya sebagai seorang strukturalis karena ia menempatkan gagasan manusia dalam kerangka struktur pengetahuan atau savoir. Namun dalam karyanya yang berjudul L’Archeologie du savoir ia justru mempersoalkan nuansa strukturalis dalam tulisan-tulisannya terdahulu. Konsep berikutnya yang diperdebatkannya sendiri adalah konsep epistemi yang kurang lebih bisa diartikan sebagai suatu struktur pengetahuan, atau dalam istilahnya sendiri, suatu formasi diskursif”, yakni suatu sudut pandang tentang segala sesuatu yang ada di dunia berdasarkan fakta-fakta yang dipahami oleh orang yang melihatnya. Dapatkah studi sejarah tentang formasi epistemik itu didasarkan pada konsep epistemi sebagai suatu perangkat penjelas? Jika tidak, lantas apa yang dapat menjelaskan tatanan epistemik itu? Foucault bersikeras bahwa penjelasannya pasti berada pada “rezim materialitas” yang ditafsirkannya sebagai kumpulan institusi di mana hubungan-hubungan materi menjadi lan- dasan struktur peristiwa-peristiwa diskursif. Karena itu pengetahuan harus dijelaskan berdasarkan institusi dan peristiwa yang berlangsung dalam institusi tersebut, baik itu yang bersifat teknis, ekonomis, sosial maupun politik. Namun institusi-institusi itu sendiri tidak dapat berfungsi tanpa adanya kekuasaan. Itu berarti Foucault mengadakan analisis kekuasaan, yang karena bersifat institusional tidak akan bersifat personal. Namun tidak seperti kaum Marxis, Foucault tidak mempelajari kekuasaan dalam suatu proses mekanistis, di mana kekuasaan itu dipandang sebagai perwujudan atau konsekuensi logis dari kepemilikan ekonomis, melainkan sekedar sebagai strategi untuk melaksanakan sesuatu. Istilah strategi yang dimaksudkannya bukanlah suatu rencana atau disain individu atau sekelompok individu dalam melaksanakan sesuatu melainkan “dampak dari suatu posisi strategis”. Gagasan epistemis yang bersifat deskriptif dan strukturalis itu diletakkannya di bawah konsepsi historis dari munculnya konfigurasi epistemis yang baru, yang mencakup pula ilmu-ilmu pengetahuan baru yang bersifat materialis. Foucault berpendapat bahwa kekuasaan itu berada pada strategi yang dioperasikan pada setiap tingkatan. Jadi kekuasaan itu bukan monopoli kalangan atau kelas tertentu. Kekuasaan bersifat produktif (bahkan bisa pula memproduksi pengetahuan). Ia memperkenalkan istilah “mikro fisik kekuasaan”, yakni kekuasaan yang terkandung dalam masyarakat secara keseluruhan. Ia juga melihat adanya perbenturan, namun tidak antara satu kalangan atau kelas dengan kelas atau kalangan yang lain, melainkan antara satu strategi dengan strategi yang lain. Apa yang dipentingkan olehnya adalah hasil dari perbenturan itu, dan bukan pada proses perbenturan atau pun mekanisme umum yang melandasi munculnya kekuasaan. Karena keyakinannya yang begitu kuat pada metafisik kekuasaan. ia sering dikecam tidak memberikan sumbangan teoretis yang berarti kecuali sekedar memunculkan konsep itu.

Namun kritik tersebut tidak bisa mengecilkan arti sumbangan ilmiah yang diberikannya. Konsep tersebut merupakan fokus studi dari suatu kalangan yang sering disebut sebagai “kaum filsuf nouveaux” (misalnya Andre Gluckmann) yang sama sekali berbeda dari konsep metafisik Marxis.

Advertisement

Incoming search terms:

  • mengenal michel foucoult

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • mengenal michel foucoult