Advertisement

Tokoh jurnalistik dan pergerakan nasional Indonesia. Ia menjabat ketua Perdi (Persatuan Djurnalis Indonesia) Jakarta yang berasaskan nasionalisme (1939-1940).

Tabrani lahir di Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Sejak muda ia telah berkecimpung dalam dunia pers, sementara latar belakang pendidikannya sendiri ikut menunjang. Di Universitas Berlin dan Universitas Koin, Jerman, ia mendalami ilmu jurnalistik dan ilmu persuratkabaran. Selain itu, ia mengikuti pendidikan stenografi bahasa Jerman yang diselesaikannya pada tahun 1929 di Den Haag, Belanda.

Advertisement

Pada tahun 1925 ia menjadi anggota redaksi dan kemudian ketua redaksi harian Hindia Baroe Jakarta. Antara tahun 1926-1930 ia membina sejumlah surat kabar dan majalah di Eropa. Pulang ke tanah air, ia menjadi pemimpin majalah mingguan Revue Politik di Jakarta (1930- 1932), pemimpin Sekolak Kita di Pamekasan (1932-1936), dan selanjutnya direktur dan kepala redaksi harian Pemandangan dan mingguan pembangoenan, Jakarta, pada tahun 1940 ia bekerja di Dinas Penerangan Pemerintah bagian jurnalistik di Jakarta dan kemudian pindah di bagian kartotek dan dokumentasi. Pada tahun 1942 ia menjadi anggota pusat redaksi harian Tjahaja.

Atas anjurannya, diselenggarakan Kongres Pemuda Indonesia yang pertama (1926). Pada tahun 1935 ia menjabat Ketua Partai Rakjat Indonesia (PRI) Jakarta. Sebagai pejuang kemerdekaan, berkali-kali ia melontarkan gagasan demi perjuangan kemerdekaan bangsanya. Lewat surat kabar Pemandangan yang dipimpinnya, ia memperjuangkan Petisi Sutardjo (1936) yang berisi tuntutan kepada pemerintah Hindia Belanda agar Indonesia diberi kesempatan membentuk parlemen sendiri. Lewat surat kabar perjuangan itu ia pun mendukung gagasan konsentrasi nasional.

Advertisement