Advertisement

Terletak di desa Marga, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Propinsi Bali. Monumen ini didirikan guna mengenang sekaligus menghormati jasa para pahlawan Bali di bawah pimpinan Letkol I Gusti Ngurah Rai yang turut mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dari ancaman penjajah Belanda (NICA). Desa Marga dipilih sebagai tempat berdirinya monumen ini karena pada tanggal 20 November 1946, di desa ini telah terjadi pertempuran paling dahsyat antara pasukan Ciung Wanara pimpinan Ngurah Rai dan tentara Belanda (NICA), yang lebih populer sebagai Puputan Margarana.

Pertempuran serta perjuangan bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaannya terjadi jug i di Bali. Pada tanggal 15 April 1946 terjadi perten puran di Panebel, 21 April 1946 di Pucik, 29 April 1946 di Mundukmalang. Pertempuran serta serangan umum terhadap NICA ini mencapai puncaknya di desa Marga. Sebelumnya, Overste Termeulen, komandan Pasukan Gajah Merah KNIL mengajak Letkol I Gusti Ngurah Rai untuk mengadakan perundingan di Detasemen Plaga, namun ditolak Ngurah Rai.

Advertisement

Pada tanggal 18 November 1946 salah seorang pejuang wanita, yaitu Ny. Lasti, beserta Komandai Polisi Wagimin dengan dukungan pasukan Ciung Wanara dari Resimen Sunda Kecil, berhasil melucuti satu pasukan polisi NICA di malam hari, di markasnya sendiri. Pada tanggal 20 November 1946 menjelang fajar datang laporan bahwa pasukan NICA telah berada ui sebelah selatan desa Marga. Ngurah Rai lalu memerintahkan agar induk pasukan pindah ke daerah sawah Uma Kaang yang medannya berbukit-bukit, menanti kedatangan pasukan NICA. Sekitar pukul 9.00 pagi, pasukan Ciung Wanara melepaskan tembakan gencar ke arah pasukan NICA yang kian mendekat. Korban di pihak musuh berguguran, sisanya terpukul mundur. Beberapa waktu kemudian, muncul pesawat musuh yang membombardir pasukan Ciung Wanara, sementara pasukan darat NICA terus mengepung. Untuk menghindari kepungan NICA, pasukan Ciung Wanara maju menyerbu. Melihat kekuatan pasukan yang tidak seimbang, baik dalam personel maupun persenjataan, sementara satu demi satu pasukannya tewas, Letkol I Gusti Ngurah Rai berseru, “Puputan!”, yang berarti habis-habisan.

Semangat puputan menjalar ke seluruh tubuh pasukannya, dan tak satu pun yang mau menyerah kepada musuh. Maka gugurlah I Gusti Ngurah Rai bersama 96 anggota pasukannya sebagai pahlawan bangsa.

Di bekas tempat terjadinya pertempuran puputan ini dibangun monumen yang dinamakan Taman Pujaan Bangsa Margarana atau Candi Pahlawan Margarana. Marga adalah nama desa tempat terjadinya pertempuran, dan rana berarti perang. Monumen yang diresmikan pada tanggal 20 November 1960 ini terletak di atas areal seluas 9 hektar. Bangunan utamanya berupa sebuah monumen yang berbentuk seperti candi. Di belakang monumen ini berjejer ke timur 1.372 candi kecil mirip “makam” yang menunjukkan jumlah pejuang yang gugur di seluruh Bali selama tahun 1945-1950.

Tiap bagian dari bangunan tugu ini mempunyai arti tersendiri. Tingginya 17 meter, melambangkan tanggal 17; atap tugu bersusun 8, melambangkan bulan Agustus; dasar tugu terdiri atas 4 tangga dengan 5 pilar yang tegak di tiap-tiap sudutnya, melambangkan tahun diproklamasikannya kemerdekaan RI. Setiap sudut pada tingkat-tingkat segi lima berbentuk stupa yang mencerminkan kebesaran jiwa Pancasila. Stupa pada puncak tugu yang berbentuk bulatan melambangkan kesatuan tekad seluruh bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan RI yang baru direbut dari penjajah. Pada bagian badan tugu ini dipahatkan surat jawaban Letkol I Gusti Ngurah Rai ‘K pada Belanda (Termeulen) yang isinya menolak i,, ipromi dengan Belanda (NICA), dan sekaligus menggambarkan kebesaran jiwa patriotisme bangsa Indonesia.

Kompleks monumen ini dilengkapi pula dengan sebuah gedung sejarah yang cukup besar. Di dalam ruang tengah gedung ini dapat disaksikan lima patung dada dari para pimpinan pasukan Ciung Wanara, yakni Letkol I Gusti Ngurah Rai, Mayor I Gusti Putu Wisnu, Kapten I Gusti Ngurah Bagus Sugianyar, Kapten I Gusti Gde Debes, serta Komandan Polisi Wagi- m;n. Di sisi tembok berjejer rapi lemari kaca yang m ;yimpan berbagai alat perjuangan.

Di sebelah selatan gedung sejarah ini terdapat sebuah taman yang disebut Taman Suci, tempat menyucikan diri sebelum mengikuti upacara keagamaan di Taman Pahlawan Margarana ini. Di depan Candi Margarana terhampar sebuah lapangan hijau luas yang biasa digunakan untuk upacara memperingati Hari Puputan setiap tanggal 20 November. Di depan pintu masuk, terdapat sebuah monumen lain yang disebut monumen Panca Bhakti. Pada bagian atas monumen Panca Bhakti ini terpahat lima buah patung yang terdiri atas patung seorang petani, pejuang, pemuda, alim ulama, serta seorang wanita. Kelima patung ini melambangkan keterlibatan semua unsur golongan masyarakat Indonesia dalam berjuang bersama mempertahankan sekaligus mengisi kemerdekaan yang telah direbut dari penjajah.

Incoming search terms:

  • deskripsi taman puputan margarana
  • resume monumen ngurah rai

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • deskripsi taman puputan margarana
  • resume monumen ngurah rai