MENGENAL MUNCULNYA SUATU MASYARAKAT PASCA-INDUSTRI – Salah satu karya sosiologis yang paling berpengaruh dalam tahun-tahun terakhir ini ialah karya Daniel Bell, The Cohling of Post-Inthistrial Society (1973): Sejak dipublikasikannya karya Bell itu, ungkapan masyarakat pasea-industri telah sering dimunculkan dan diterima dalam sejumlah bilkU teks sosiologi dan karya-karya lairmya.

Bell merathalkan munculnya di masa datang yang dekat ini suatu masyarakat pasea-Industri, suatu tipe masyarakat yang telah maju yang terutama di Amerika Serikat tapi juga akan berkembang di rnasyarakat-masyarakat industri maju lainnya. Ciri yang paling fundamental ke-munculan masyarakat ini ialah penekanan pada produksi jasa, bukan-nya barang, dan khususnyajenis-jenis jasa tertent-u. Sementara masyarakat inclustri mernberi jasa-jasa dalam bidang-bidang seperti transp ortasi, pelayanan, dan telekomunikasi, masyarakat pasca-industri menekankan jasa-jasa yang rneliputi kesehatan, ilrnu pengetahuan dan pendidikan.

Munculnya sua.tu masyarakat pasca-industri akan mencakup terj adinya Suatu tra_nsforrnasibesa.r dalam dasar masyarakat. Suatu masyarakat industri, tandas Bell, didasarkan pada harta benda; suatu rnasyarakat pasca in.dustri, di pihak lain, bertumpu pada pengetahuan, khususnya pengetahuan teoritis. Sebagaimana yang agak provokatif dikemukakan oleh Bell, n-tunculnya suatu masyarakat pasca-industri akan menanclai terjadinya transisi dari suatu teori nilai kerja sampai kepacia suatu “teori nilai pengetahuan”. Perubahan dalam dasar kehidupan sosial ini juga ditandai oleh adanya suatu perubahan dalarn struktur kelas. Kelas sosial baru yang dominan buka11 lagi suatu borjuis pemilik harta-benda, tetapi suatu “inteligensia sosial”: suatu kelas individuindividu yang berpendidikan th-tggi yang dominansi sosialnya bert-umpu pada dimilikinya oleh mereka bentuk-bentuk pengetalutan teoritis yang maju. Anggota-anggota kelas ini yang paling penting adalah para guru, para d okter, pengacara, ilmuwan, dan insinyur yakni orang-orang yang kepada siapa pekerjaan itu menjadi suatu “kompetisi antar orang” bukannya suatu kompetisi antar orang dan barang. Jadi, bagi Bcll masyarakat pasca-industri ialah rnasyarakat yang karakter menyeluruhnya adalah jauh berbeda d-ari masyarakat industri atau “kapitalis”. Keinginan untuk mernperoleh laba bukan lagi merupakan kekuatan penggerak kehidupan ekonomi dan sosial. Kehidupan menj adi terorientasi sekitar akumulasi pengetahilan dan peng-gunaannya untuk kebaikan manusia. Perusahaan-perusahaan akan tersubordinasi di bawah apa yang Bell sebut sociologizing- modc. Ini berarti bahwa penekanan rnereka bergese_r ke arah pemberian keuntungan yang ekstensif kepada para karyawanmereka maupun ke arah “tanggung jawab sosial” mereka. Sebagai tambahan pada dart dalam hubungan dengan perubahan itu, masyarakat pasca-industri memberi suatu penekanan baru kepada waktu luang. Orang memperoleh bentuk-bentuk pendidikart yang maju bukan saja untuk kegunaan sosial yang penting, tapi untuk peningkatan kesenangan dan intelektual. Pada umumnya suabj masyarakat pasca-industri jatth lebih baik pendidikannya daripada suatu masyarakat industri. Meskipun ide-ide Bell telah secara luas di.terima di kalangan ahli sosiologi kontemporer, masih ada penyebab untuk bersikap skeptis terhadap kebanyakan ide-ide itu. Kesulitan-kesulitan dasar dalam ana-lisis Bell itu telah dilukiskan secara jelas oleh Stepher Berger (1974). Berger mengemukakan bahwa banyak perkembangan yang dibahas oleh Bell tidak mewakiIi kemunculan suatu tipe masyarakat yang baru yang bertentangan dengan kapitalisme, tapi malah suatu tahap baru dalam perkembangan kapitalisme. Ekspansi pelayanan pemerintah, misalnya, dapat dipahami sebagai suatu langkah yang harus dalam manajemen politik suatu masyarakat kapitalis maju. Lagi pula, Berger tandaskan, motivasi sejati di balik ramalan teknologi adalah bersifat militer, dan kebanyakan daripada ekspansi ilmu pengetahuan akhirakhir ini adalah disebabkan oleh keterlibatan pemerintah dalam pertahanan dan penjelajahan ruang angkasa. Argtimen sentral dari Berger yang menentang Bell paling baik dinyatakan sebagai berikut (1974:102): Saya hendak menandaskanbahwa per ubahan-peruba han itu, jika memang rie.1, hanya menunjukkan operasi logika industri yang dilanjutkan.  eatatan-catatan Berger itu dapat ditambahkan berbagai komentar kritik. Orang ragu terhadap pengertian Be11 bahwa suatu inteligensia tanpa harta milik akan muncul sebagai kelas yang dominan. Saya -percaya, suatu interpretasi yang lebih baik akan mengmggap bahwa kelompok demikian, sampai sejauh keberadaannya, tidak memiliki kekuasaan sosial yang nyata dan karena itu tidak mempunyai kemampuan pelayanan bag-i sistem kapitalis. Bagaimanapun, kebanyakan guru, ilmuwan, dan insinyur dipekerjakan dalam birokrasi pemerintahan yang besar. Seperti dieatat oleh Berger, birokrasi-birokrasi pemerintahim itu dapat dipandang dari perspektif eksp-ansi pe.merintahan yang didorong oleh kapitalis. Komentar kedua meliputi pembahasan Bell tentang ekspansi pendidikan. Dalam hubungan izli Bell agaknya membaurkanpendidikan dan “pengajaran” (scholing) (Berger, 1974). Sementara mernang benar bahwa pengajaran telah meluas dengan suatu skala yang besar di Amerika Serikat kontemporer, tapi ini janganlah ditafsirkan, seperti yang agaknya dilakukan oleh Bell, sebagai akibat dari kebutuhan dan keinginan yang semakin besar untuk memperoleh pengetahuan. Interpretasi yang lebih baik ialah bahwa pengajaran (schooliitg) telah meluas sebagai akibat adanya proses inflasi surat kepercayaan yang karakteristik pada masyarakat Amerika.

Filed under : Bikers Pintar,