Advertisement

Terletak di Jalan Dwikora No.2 Kota Madia Yogyakarta, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Museum ini dibangun di atas tanah seluas 6.448 meter persegi. Luas bangunannya 2.172 meter persegi, bergaya arsitektur tradisional Jawa Tengah, yang diilhami bangunan mesjid Kasepuhan, Cirebon.

Sejarah. Museum Sono Budoyo didirikan pada tanggal 6 November 1935 oleh Java Instituut, dengan restu Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Pada tahun 1942 museum ini juga dikelola oleh pemerintah Jepang. Setelah Indonesia merdeka, museum ini ditangani oleh Dinas Wiyotoprojo (1945-1949). Akademi Seni Rupa Indonesia pernah menggunakannya sebagai kampus sebelum akademi itu menempati kampus di Gampingan, Yogyakarta. Pada tahun 1950-1973 Museum Sono Budoyo dikelola oleh Inspeksi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Daerah Istimewa Yogyakarta, tetapi sejak tanggal 11 Desember 1974 mulai di bawah pengawasan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Advertisement

Koleksi. Museum ini mempunyai beberapa koleksi. Koleksi prasejarah terdiri atas kapak batu, manik-manik masa neolitik, tembikar, dll. Koleksi arkeologi meliputi prasasti, arca peninggalan kebudayaan Hin- du-Budha yang terbuat dari batu dan logam. Koleksi numismatik terdiri atas mata uang logam dan alat tukar yang pernah ada di Indonesia. Koleksi keramik asing berasal dari peninggalan Dinasti Cina, Jepang, Kambodia, Thailand dan Belanda. Koleksi naskah berupa naskah beraksara dan berbahasa Jawa, sedangkan koleksi etnografi meliputi benda-benda hasil kebudayaan daerah di Indonesia. Museum ini terbagi menjadi 13 ruangan, yaitu ruang pendopo, ruang dalam, ruang batik, ruang Cirebon, ruang perunggu, ruang wayang, ruang pertunjukan, ruang kapal, ruang Jawa Tengah, ruang Bali I, ruang Candi Bentar, ruang Bali II dan ruang senjata. Masing-masing mempunyai koleksi yang khas dan unik. Misalnya, di ruang pendopo terdapat maket Mesjid Demak, maket Candi Borobudur, patung Arjuna dan Sri Kresna; di ruang batik dipajang koleksi kain batik dari Yogyakarta, Surakarta, Pekalongan dan Cirebon, serta perlengkapan dan cara membatiknya; di ruang Bali dipamerkan lukisan, patung, ukiran, kain tenun dari Bali; di ruang senjata dipamerkan berbagai macam senjata tradisional di Indonesia; ruang perunggu memajang patung perunggu peninggalan jaman Flindu dan prasejarah; ruang wayang memajang koleksi wayang dari berbagai daerah dan perlengkapan untuk pertunjukan Wayang.

Advertisement