Advertisement

Terdengar sangat berbeda dari musik Barat, karena titi-nada yang digunakan berbeda. Kalau titi-nada yang berlaku dalam musik Barat terdiri atas delapan tingkat, musik Cina lima. Melodi menjadi unsur terpenting dalam musik Cina. Bunyi alat musik dan suara mengikuti irama melodi yang sama, bukannya berbaur dalam harmoni. Sejenis kecapi, yakni alat musik berdawai banyak, merupakan alat musik yang populer di negeri itu.

Kini para musikus Cina juga memainkan alat musik Barat dan karya-karya komponis besar Barat, golongan masyarakat yang berpendidikan tinggi di Wa umumnya merupakan pengagum musik klasik Eropa, termasuk para komponisnya seperti Beethhoven, Franz List, dan Johann Sebastian Bach.

Advertisement

Kehidupan Keluarga sejak dulu menempati posisi penting dalam kebudayaan Cina. Sebelum kaum komunis berkuasa, sebagian orang Cina hidup dalam kesatuan-kesatuan keluarga yang besar. Sampai sekitar 100 orang bersaudara atau lebih tinggal bersama di bawah pimpinan seorang pria tertua. Ketika itu, yang paling baik adalah “lima generasi hidup satu atap.” Tetapi, cara hidup demikian hanya dilakukan terutama oleh keluarga-keluarga tuan tanah yang kaya di daerah pedesaan, para pedagang kaya, atau para pejabat pemerintahan. Yang berlaku di antara orang kebanyakan adalah satu rumah tangga orang tua dan anak-anak, kadang-kadang dengan kakek-nenek dan paman-bibi. Unit keluarga lebih kecil seperti inilah yang kini berlaku di Cina.

Dulu, hanya kaum pria yang boleh bekerja di luar rumah. Namun saat ini hampir semua orang dewasa mempunyai pekerjaan di luar rumah. Anak-anak biasanya diurus oleh kakek atau neneknya. Kini semakin banyak anak memasuki berbagai kelompok bermain, sehingga para ibu mempunyai waktu yang cukup untuk bekerja di luar rumah.

Keluarga Cina secara tradisional jauh lebih menghargai anak lelaki daripada anak perempuan. Dulu sering anak-anak perempuan dibunuh begitu lahir, karena dianggap tidak ada gunanya. Seorang suami dibenarkan menceraikan istrinya, jika sang istri tidak memberinya anak laki-laki. Laki-laki kaya biasanya juga memelihara gundik atau wanita
Pengaruh Seni Budaya Cina di Indonesia cukup banyak. Pengaruh itu meliputi mode pakaian, musik, adat perkawinan, tarian, dan seni bentuk. Di Jakarta misalnya, tari Topeng Betawi serta musik gambang kromongnya, terasa adanya pengaruh budaya Cina. Pakaian penari Topeng Betawi dan Topeng Jantuk tidak jauh berbeda dengan pakaian adat perkawinan di daratan Cina. Demikian pula irama dan titi nada musik Gambang Kromong Betawi, dipengaruhi oleh musik Cina. Pakaian pengantin wanita pada adat Betawi pun juga terasa adanya pengaruh Cina.

Bahasa Betawi dan beberapa bahasa daerah lainnya juga banyak dipengaruhi oleh kata-kata dan idiom yang berasal dari bahasa Cina. Bahkan angka-angka bilangan, terutama yang menyangkut jumlah uang, bukan hanya dimengerti tetapi juga banyak digunakan oleh penduduk asli. Dalam sandiwara boneka Si Unyil, misalnya, sering dipakai istilah ce pek untuk menyebut “seratus rupiah”. Di samping itu, banyak kata dari bahasa Cina yang luas dipakai dalam pergaulan, misalnya lu (kamu), gua (saya), kamsia (terima kasih), hoki (keberuntungan), dan lain-lain.

Masyarakat di berbagai kota besar di Indonesia juga mengenal wayang Po Te Hi, sejenis sandiwara boneka yang mengambil cerita Cina klasik. Pada Wayang Menak di Jawa Tengah juga dikenal tokoh Puteri Cina.
Di bidang seni ukir, budaya Cina juga berpengaruh. Bentuk ranjang dan ukiran Madura, banyak dipengaruhi seni ukir Cina. Pahatan patung singa pada keris berdapur Singa Barong mirip sekali dengan patung Kilin, binatang penjaga dalam mitologi Cina.

Incoming search terms:

  • mengapa dalam kebudayaan cina dikenal adanya istilah keluarga seratus
  • dalam budaya cina apakah anak wanita dibunuh sewaktu lahir

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • mengapa dalam kebudayaan cina dikenal adanya istilah keluarga seratus
  • dalam budaya cina apakah anak wanita dibunuh sewaktu lahir