Niccolo Machiavelli (1469-1526)

Machiavelli adalah pahlawan, abdi masyarakat danteoretisi politik asal Fiorentina. Saat mengabdi di Council of Ten yang memerintah republik Florence di tahun 1498, ia dikirim ke luar negeri untuk suatu misi diplomatik yang memberikan banyak pengalaman dan di kemudian hari diolahnya menjadi nasehat-nasehat politik dan strategi militer. Pada 1512 republik ambruk dan keluarga Medici yang telah lama mendominasi politik Fiorentina, kembali berkuasa. Dalam peralihan kekuasaan ini, Machiavelli ditangkap dan disiksa. Begitu bebas, Machiavelli diasingkan dari kota. Kemudian, Machiavelli beristirahat di daerah pertanian Sant’ Andrea, kira-kira sepuluh kilometer di selatan kota. Berbagai pengalaman yang menyakitkan itu dituangkan dalam tulisan. Sebagian dari tulisan itu bertujuan membujuk pengu¬asa baru untuk mengembalikan Machiavelli ke pusat pemerintahan.

The Prince (1513), ditulis tak lama setelah kejatuhannya, adalah karya pendek mengenai nasehat kepada penguasa yang difokuskan pada bab terakhir tentang problem lokal akibat usaha Italia membebaskan diri dari dominasi negara asing. Beberapa penulis (terutama Spinoza dan Rousseau) menganggap karya tersebut sebagai satire terhadap monarki, namun tidak bisa ditutupi adanya upaya mengambil hati pemerintah yang berkuasa. Dalam pengasingannya, Machiavelli bertani dan menulis The Discourses on the First Ten Books of Titus Livius [(1532) 1950], suatu rangkaian refleksi mengenai kemampuan politik, yang secara umum dicontohkan dalam republik Romawi. Simpatinya terhadap kaum republik bisa ditemukan dalam karya ini, tapi dalam pembahasan terbuka mengenai kejahatan dan pilihan-pilihan amoral, yang membuatnya sangat terkenal, juga banyak ditemui di sini seperti halnya The Prince. Tahun 1520 ia menyelesaikan karya The Art of War dan mulai menulis The History of Florence. Karya komedinya yang berjudul Mandragola merupakan salah satu karya sastra klasik Italia. Tahun 1525, rezim Medici jatuh dan kaum republik berkuasa, tapi rezim baru ini tidak bisa menarik Machiavelli kembali, la meninggal 1526.

Machiavelli mengritik para penulis politik masa sebelumnya yang dianggap terlalu terpaku pada negara-negara ideal dan imajiner. Machiavelli mengklaim dirinya sebagai ahli yang berkonsentrasi pada “kebenaran efektif” (verita effettuale)politik. Dipengaruhi terutama oleh tradisi humanisme sipil, ia sangat tertarik pada konstitusi perkotaan dan sejarah keberhasilan para pahlawan. Kontribusinya terhadap realisme pada periode ini adalah penegasannya bahwa para negarawan besar tidak selaiu mengikuti petunjuk-petunjuk moral dari komunitas Kristen saat itu. Bahkan ia juga menegaskan bahwa beberapa aturan konvensional yang menekan para penguasa justru bisa menyebabkan kehancuran mereka. Karena itu seorang penguasa harus mengetahui, kata Machiavelli, bagaimana caranya untuk tidak bersikap baik dan menggunakan pengetahuan ini sesuai keperluan. Namun, lepas dari itu, Machiavelli menyatakan bahwa para penguasa yang sedang dalam proses mengkonsolidasi kekuatannya harus mengetahui bagaimana cara menguasai imajinasi orang banyak. Salah satu penguasa yang melaksanakan teori itu adalah Cesare Borgia, seorang penguasa yang menjadi atasan Machiavelli ketika mengabdi pada republik Fiorentina. Borgia pernah menggunakan seorang letnannya, Ramirro da Orca, untuk menenangkan dengan segala kekerasan yang dibutuhkan omagna yang baru saja ditaklukkan. Pada saat itu ia memerintahkan da Orca dibunuh, dan mayatnya dipotong jadi dua lalu ditinggalkan begitu saja di piazza Cesena. Tindakan kejam ini untuk memuaskan segala kepedihan dan menguasai imajinasi orang banyak. Kekejaman tontonan ini, ia tulis di Bab VII The Prince, menyebabkan masyarakat ‘puas sekaligus kagum’. Seringkah dikatakan bahwa Machiavelli percaya bahwa ada perbedaan antara moralitas untuk kehidupan pribadi dengan moralitas untuk negarawan. Lepas dari semua sinisme terhadap Machiavelli, paling-paling ia hanya bisa disebut seorang relativis berkenaan dengan pandangannya yang begitu terus-terang mengenai kebajikan dan kejahatan. Para penguasa tidak dianugerahi suatu moralitas yang berbeda, mereka semata-mata ditafsirkan sebagai penjaga moralitas itu sendiri dan diberi izin untuk melanggar norma-norma moral ketika dibutuhkan. Pengubahan idiom nasehat kepada penguasa menjadi karakterisasi munculnya negara modem (di mana Machiavelli merupakan seorang pengamat yang tajam) inilah yang menjadi dasar berdirinya suatu negara (reason of state).

Machiavelli sama sekadi tidak terkesan berusaha mendorong segala bentuk kejahatan. Para negarawan adalah pencipta peradaban, dan ambisi mereka tidak bisa tercapai bila tanpa disertai kemauan untuk mengabdi demi kebaikan masyarakat. Machiavelli mengungkapkannya secara terselubung untuk sebagian hal mengenai penggunaan kekejaman dalam politik. Tes terhadap perlunya kekejaman adalah apakah kekejaman tersebut ekonomis atau tidak. Kombinasi nilai guna kekejaman ini dengan suatu etika sangat menonjol dalam pandangan Machiavelli. “Jika tindakan mencurigainya (penguasa), maka sebaliknya hasil tindakan tersebut justru memakluminya (penguasa).” tulis Machiavelli dalam suatu kalimatnya yang sering diterjemahkan dengan “hasil menjustifikasi alat”. Yang dipedulikan Machiavelli adalah ketepatan penilaian para pelaku dan sejarawan, jadi bukan justifikasi moralnya. Dari sudut pandang ini, agama adalah penting karena mengikat masyarakat kepada komitmen dan mengintensifikasi kebajikannya. Machiavelli sangat anti administrasi gaya Latin dan seringkali memusuhi Kristen secara langsung karena kerendahan hati dalam etika Kristen bersifat melemahkan pemerintahan dan sangat menafikan kekejaman militer, inti kekaguman Machiavelli tertuju pada peiaku kepahlawan di dunia ini, jadi bukan penganut kebajikan.

Karya Machiavelli Discourses kurang dikenal tapi lebih lama bertahan. Pada karya ini kita temukan suatu teori konflik masyarakat, disertai perjuangan manusia untuk bersama-sama mempertahankan negara melawan kecenderungan pembubaran. Machiavelli meninggalkan suatu ide klasik bagi para pemikir selanjutnya bahwa setiap konstitusi yang tahan lama harus bisa menyeimbangkan elemen-elemen monarki, aristokrasi dan demokrasi. Untuk menciptakan dan mempertahankan negara semacam ini, di mana keasyikan pribadi dan keluarga ditransendensikan ke bentuk kewarga negaraan, merupakan prestasi tertinggi umat manusia, tapi juga mengandung sumber kehancuran. Negara harus menciptakan perdamaian, dan perdamaian memungkinkan terjadinya kemakmuran, dan jika masyarakat terbiasa dengan perdamaian dan kemakmuran, mereka kehilangan kebajikan sipil dan memperturutkan gairah diri pribadi: kebebasan meminjam istilah Machiavelli, memberi jalan bagi terjadinya korupsi. Tradisi pemikiran ini, dengan penekanan pada partisipasi warga negara tidak pernah berhenti digali bahkan dalam monarki absolut di masa-masa awal Eropa Modern, dan menjadi dominan pada masa sesudah Revolusi Perancis. Sebagian besar tradisi ini terdiri dari apa yang pada dunia modem disebut “demokrasi”.

Namun, imajinasi Machiavelli yang terkenal ini selalu menjadi bahan yang menyenangkan bagi pelaku manipulasi dan penyalahgunaan kekuasaan. Banyak petualang revolusioner mendapatkan formula kesadaran dari Machiavelli mengenai cara menyikapi apa yang mereka anggap sebagai insting. Dalam hal ini, Machiavelli diingat oleh ahli psikologi sosial dalam mengkonstruksi suatu kuesioner untuk mengukur kecenderungan manipulatif dari suatu kepribadian. Mereka yang mendapat nilai tinggi akan disebut “mach tinggi”, sementara orang yang kurang manipulatif disebut “mach rendah”.