Advertisement

Mempunyai sejarah yang tidak dapat dipisahkan dari perintis dan pendirinya, yakni Soenarto Mertowardojo. Tuntunan kejiwaan diterimanya untuk pertama kali pada tahun 1932 berupa Sabda Suksma Kawekas yang diturunkan dengan perantaraan Suksma Sejati dan diterima oleh Soenarto dalam pusat sanubari. Sabda yang turun terus-menerus hingga tahun 1933 dicatat oleh R. Tumenggung Hardjoprakosa dan R. Trihardono Soemodihardjo. Terhimpunlah sabda tertulis dalam tujuh buku yang dikenal dengan sebutan P^nadang Pelajaran Sang Guru Sejati.

aguyuban Ngesti Tunggal sebagai perkumpulan baru dibentuk pada tahun 1949 di Surakarta oleh Soenarto bersama tujuh pengikutnya. Pada tahun 1954, tujuh buku pelajaran Pangestu dijadikan satu buku dengan nama Sasangka Jati (Pepadang Sejati). Pangestu pusat berkedudukan di Jakarta dengan pimpinan Soedjarwo. Menjelang Kongres VIII Pangestu pada tahun 1976, tercatat 135 cabang dengan jumlah anggota 66.327 orang yang terdiri atas 35.823 pria dan 30.504 wanita.

Advertisement

Sasangka Jati terdiri atas tujuh tuntunan, yaitu (1) mengajarkan hasta-sila yang terdiri atas tri-sila: sadar, percaya dan taat, dan panca-sila: rela, narima, jujur, sabar dan budi luhur; (2) mengajarkan paliwara (pokok-pokok larangan Tuhan bagi manusia), yaitu jangan menyembah selain kepada Allah, berhati-hatilah dalam hal syahwat, janganlah makan atau meng-gunakan makanan yang memudahkan kerusakan raga, taatilah undang-undang negara dan peraturannya, jangan berselisih; (3) mengajarkan gumelaring dumadi, yaitu terjadinya alam semesta, terjadinya manusia (Adam dan Hawa), turunnya Roh Suci setelah ada manusia, terjadinya hewan dan tumbuh-tumbuhan, terjadinya dewata/dewa atau sebangsa lelembut (jin, setan, dll.); (4) mengajarkan tunggal sabda, yaitu keadaan sabda abadi dan terbabarnya, kewajiban utusan, tingkat derajatnya dan kewajiban hamba, berbagai utusan di dunia; inti sari sabda abadi yang tersimpan di dalam kitab suci berdasarkan wejangan Sang Guru Sejati (Suksma Sejati), alam dewata dan keadaannya, jalan yang gawat, keadaan tatanan di alam dewata, tingkat derajatnya, pemerintahannya dan pembagian pekerjaannya dari lapisan orang pertama hingga lapisan ketujuh (terbawah); (5) mengajarkan jalan rahayu, yaitu paugeran Tuhan kepada hamba, panembah, budi darma, mengekang nafsu, budi luhur; (6) meng-ajarkan sangkan paran, yaitu perjalanan hamba jika tiba saatnya dipanggil ke hadirat Tuhan, hal-hal yang menyebabkan rintangan kematian atau kelakuan yang tidak menyelamatkan perjalanan menuju ke tujuan asal, keterangan pahala dan pidana Tuhan, datangnya piweleh dan leburnya dosa, pembalasan terhadap perbuatan buruk; (7) mengajarkan panembah, yaitu tuntunan, arti yang berkaitan dengan panembah raga (hamba) kepada roh suci, arti yang berkaitan dengan panembah roh suci kepada Suksma Sejati, arti yang berkaitan dengan panembah Suksma Sejati kepada Suksma Kawekas, keterangan dan peralatan lain yang berkaitan dengan panembah tiga tingkatan, sabda penutup dan peringatan.

Incoming search terms:

  • paugeran pangestu

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • paugeran pangestu