MENGENAL PENANGANAN GANGGUAN TIDUR – Obat-obat yang dijual bebas dan obat-obat resep dikonsumsi oleh banyak orang lanjut usia yang mengalami insomnia. Botol kecil berisi pil tidur menjadi pelengkap obat-obatan yang umum diletakkan di atas nakas. Orang lanjut usia adalah konsumen utama obat tidur; lebih dari 60 persen pengguna obat tidur resep berusia lebih dari 50 tahun. Meskipun demikian, efektivitas obat tidur cepat hilang dan bila digunakan terus-menerus bahkan dapat membuat tidur menjadi tidak lelap dan terputus-putus. Tidur pemulihan REM, yaitu meningkatnya tidur REM setelah lama bergantung pada obat untuk dapat tidur, menjadi terganggu. Obat-obatan tersebut bahkan dapat menimbulkan kondisi yang disebut insomnia ketergantungan obat. Obat yang dianggap alat bantu tidur tersebut juga dapat menimbulkan rasa lemas yang timbul setelah minum obat dan meningkatkan kesulitan bernapas, yang sangat berbahaya bagi orang lanjut usia, mengingat meningkatnya prevalensi apnea tidur.

Terdapat banyak bukti bahwa obat-obat penenang bukan penanganan yang tepat bagi pasien berusia berapa pun yang mengalami insomnia kronis, khususnya pasien berusia lanjut yang mengalami insomnia. Efek samping obat penenang seperti benzodiazepin mencakup masalah dalam mempelajari informasi baru dan sangat sulit untuk berpikir jernih keesokan harinya. Meskipun demikian, obat-obat penenang diresepkan untuk sebagian besar penghuni panti-panti wreda, dan dalam banyak kasus obat tersebut diberikan setiap hari bahkan tanpa ada bukti terjadinya gangguan tidur.

Melatonin, hormon yang diproduksi oleh kelenjar pineal, berperan penting,dalam mengatur tidur dan diketahui berkurang seiring terjadinya penuaan. Oleh karena tidak mengherankan bila hormon tersebut digunakan untuk menangani gangguan tidur pada orang lanjut usia dan cukup memberikan hasil.

Secara umum, menjelaskan karakteristik tidur dan berbagai perubahan yang terjadi sebagai bagian normal dalam proses penuaan dapat mengurangi kekhawatiran yang dialami orang-orang lanjut usia tentang pola tidur mereka, kekhawatiran yang dapat mengganggu tidur itu sendiri. Terapis juga dapat meyakinkan pasien bahwa tidak dapat tidur dari waktu ke waktu bukanlah suatu bencana; hal itu tidak akan menyebabkan kerusakan otak yang tidak dapat dipulihkan atau penyakit mental, seperti yang ditakutkan beberapa orang. Tidak terlalu mengkhawatirkan masalah tidur biasanya justru membantu seseorang untuk tidur. Seperti halnya pada orang-orang dari segala usia, penanganan terhadap kondisi psikopatologis apa pun yang mendasari gangguan tidur, seperti kecemasan atau depresi, dapat membawa perbaikan pada masalah tidur.

Beberapa individu diberi pelatihan relaksasi untuk membantu mereka agar dapat tidur dan instruksi untuk membantu mereka mengembangkan kebiasaan tidur yang baik: hangun pada jam yang sama setiap hari; menghindari berbagai aktivitas menjelang tidur yang tidak sejalan dengan tidur itu sendiri; dan hanya merebahkan diri di tempat tidur bila sudah mengantuk, dan jika tidak dapat tidur, bangun dan pergi ke ruangan lain. Olahraga yang teratur juga dapat membantu mengatasi masalah tidur. Semua taktik tersebut dapat melonggarkan cengkeraman insomnia pada orang dewasa yang berusia berapa pun.

Filed under : Bikers Pintar,