MENGENAL PENYEBAB DEPRESI PADA ORANG LANJUT USIA – Banyak pasien lanjut usia yang memiliki kesehatan fisik yang buruk mengalami depresi. Sebuah survei terhadap 900 orang lanjut usia yang tinggal di tengah komunitas menemukan bahwa 44 persen dari orang-orang yang mengalami simtom-simtom depresi menderita penyakit fisik. Dalam sebuah studi terhadap pasien medis berusia lanjut yang dirawat di rumah sakit, sekitar 15 persen ditemukan mengalami depresi klinis. Para laki-laki lanjut usia yang pertama kalinya mengalami depresi pada usia tua kemungkinan telah menjalani operasi sebelum terjadinya episode depresi tersebut, memiliki tingkat penyakit kronis yang luar biasa tinggi, dan memiliki masalah medis yang lebih banyak daripada orang lain. Banyak dokter yang merawat pasien medis berusia lanjut tidak sensitif terhadap kemungkinan terjadinya depresi bersamaan dengan penyakit fisik. Sering kali mereka tidak mendiagnosis dan karena itu tidak menangani, masalah psikologis yang terjadi. Pengabaian ini tidak hanya dapat memperburuk depresi yang terjadi, namun jifga masalah medis itu sendiri.

Penyakit fisik dan depresi saling terkait karena alasan selain aspek yang memprihatinkan dari suatu penyakit. Suatu diathesis genetik bagi depresi dapat berperan dalam hal ini. Prevalensi depresi yang lebih tinggi ditemukan di kalangan kerabat pasien penyakit Alzheimer yang menjadi depresi setelah terjadinya penyakit tersebut. Obat-obatan yang diresepkan untuk menangani penyakit kronis dapat memperparah depresi yang sudah terjadi, menyebabkan terjadinya depresi, atau menimbulkan simtom-simtom yang mirip dengan depresi, namun bukan depresi yang sebenarnya. Obat-obatan yang paling mungkin menimbulkan efek tersebut adalah obat-obatan antihipertensi; kemungkinan lain mencakup obat-obatan hormon, kortikosteroid, dan anti parkinsonisme. Di sisi lain, berbagai studi longitudinal dan retrospektif menemukan bahwa para individu yang mengalami depresi dapat memiliki predisposisi untuk menderita penyakit fisik. Dan karena kondisi pikiran mereka yang negatif serta tidak bersemangat, mereka mungkin tidak berupaya mendapatkan penanganan medis yang tepat bagi simtom-simtom raag mereka alami, contohnya, rasa lemah pada anggota badan, lesu, atau sering meagalami rasa mual yang tidak dapat diprediksi, yang dapat merupakan tanda-tanda masalah kardiovaskular yang serius.

Seiring pertambahan usia hampir tanpa terhindarkan kita akan mengalami sejumlah peristiwa dalam hidup yang dapat menyebabkan depresi. Kraaij dan DeWilde (2001) menemukan bahwa peristiwa kehidupan yang negatif yang dialami sepanjang hidup memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap kesehatan dan berhubungan dengan depresi pada usia tua. Berbagai studi lain mencatat tingkat terjadinya penyakit dan kematian yang lebih tinggi di kalangan orang-orang yang hidup menjanda atau menduda, dan rasa dukacita dihipotesis sebagai faktor pemicu umum bagi depresi yang menyebabkan orang lanjut usia dirawat di rumah sakit. Meskipun demikian, berbagai studi menemukan angka terjadinya depresi yang relatif rendah pada para individu yang berduka (Musetti dkk., 1989), dan disimpulkan bahwa simtom-simtom depresi pada individu semacam itu pada umumnya tidak terlalu parah dan lebih sedikit dibanding simtom-simtom pada para individu yang dirawat di rumah sakit karena depresi. Dengan demikian, tampaknya hanya sedikit orang lanjut usia yang mengalami penyakit depresi yang melemahkan setelah meninggalnya orang yang dicintai. (Sangat menyedihkan bila orang yang dekat dengan kita meninggal, namun seiring kita bertambah tua, sebagian bear di antara kita dapat menerima kenyataan bahwa orang-orang yang kita cintffi pada waktunya akan meninggalkan kita).

Sebagaimana pada orang dewasa yang lebih muda, stres psikologis juga berperan dalam depresi yang dialami orang lanjut usia, namun suatu stresor yang dapat memicu atau memperparah episode depresi pada orang yang berusia lebih muda mungkin tidak berlaku pada orang lanjut usia. Contohnya, hubungan isolasi sosial dan depresi pada usia lanjut tidak seerat pada usia paruh baya (Musetti dkk., 1989), mungkin karena orang-orang lanjut usia tidak terlalu merasa terganggu bila tidak berinteraksi dengan orang lain selama berhari-hari dalam satu waktu. Pentingnya faktor ras dan sosioekonomi tampaknya bersifat sekunder bagi variabel-variabel seperti masalah kesehatan; yaitu, orang-orang lanjut usia dari kalangan etnis minoritas dapat mengalami masalah kesehatan yang lebih serius atau mendapatkan perawatan kesehatan yang lebih buruk, dan tampaknya faktor-faktor inilah, bukan prasangka rasial atau tekanan finansial, yang paling berkontribusi ter-hadap depresi. Banyak orang yang berusia lebih dari 65 tahun—serta tentu saja orang-orang yang berusia lebih muda dihadapkan pada tantangan stres karena merawat keluarga yang sakit, dan beberapa studi menunjukkan adanya kadar depresi yang tinggi (serta kecemasan) pada orang-orang yang merawat tersebut, terutama pada mereka yang merawat keluarga yang menderita penyakit Alzheimer.

Meskipun masa pensiun diasumsikan memiliki konsekuensi negatif, penelitian tidak secara umum mendukung asumsi ini (. Setiap pengaruh negatif masa pensiun mungkin lebih berkaitan dengan kesehatan yang buruk dan pendapatan rendah pada beberapa pensiunan dan kurang berkaitan dengan masa pensiun itu sendiri. Keputusan untuk pensiun dan pengalaman selama masa pensiun cenderung didasari oleh sumber daya ekonomi individual, hubungan sosial, dan sumber daya pribadi. Status perkawinan serta kualitas perkawinan diketahui memiliki hubungan positif dengan penyesuaian dalam masa pensiun. Selain itu, tingkat pendidikan yang tinggi, prestise pekerjaan yang tinggi yang dimiliki sebelum pensiun, dan efektivitas diri serta harga diri yang tinggi juga memfasilitasi keberhasilan penyesuaian dalam masa pensiun. Bagi banyak orang lanjut usia, masa pensiun membawa mereka ke periode kehidupan.yang memuaskan. Setiap orang lanjut usia membawa sejarah perkembangannya ke masa tuanya yang menjadikannya memiliki reaksi unik terhadap berbagai masalah yang umum terjadi. Keterampilan coping dan kepribadian setiap orang menentukan seberapa efektif individu tersebut akan merespons berbagai peristiwa baru dalam hidup (Butler & Lewis, 1982). Tidak salah bila kita berasumsi bahwa adaptasi bukannya depresi merupakan reaksi umum terhadap berbagai peristiwa kehilangan dan stres pada masa tua.

Filed under : Bikers Pintar,