MENGENAL PERBUDAKAN DI BRAZIL – Salah satu dari sistem perkebiman Dunia Baru yang paling besar dan paling penting telah dikembangkan oleh orang-orang Por tugis di Brazil. Budak-budak pertama dipasok ke Brazil dari Afrika sekitar pertengahan abad xvi, dan pada abad xvii telah berlangsung suatu sistem perbudakan yang berkembang dengan baik. Mayoritas budak Brazil bekerja di perkebunan gula, kopi, kapas dan coklat. Gula mendominasi perbudakan Brazil selama abad xvii. Sekurangkurangnya 80 budak diperlukan untuk mengerjakan suatu perkebunan gula dengan berhasil, dan sebagian perkebunan itu mempekerjakanbeberapa ratus budak (van den Berghe, 1967). Ketika arti ekonomi gula merosot, Brazilberalih ke pengembangan perkebunan kopi berskala besar, dan kopi merupakan tanaman uang kontan yang dominan pada abad ke xviii dan xix.

Brazil sangat bersandar pada perdagangan budak Atlantik. Seperti dicatat di muka, perbudakan di Brazil merupakan 38 persen dari total budak yang diimpor ke seluruh Dunia Baru. Perbudakan di Brazil didasarkan pada operasi berskala besar, dan jumlah budak berkulit hitam melampaui jumlah orang kulit putih selama periode perbudakan Brazil. Dalam tahun 1789, dari total penduduk sebesar 2,3 juta, 1,5 juta adalah budak Afrika. Dalam tahun 1872, orang kulit putih berjumlah hanya 38 persen dari total penduduk (van den Berghe, 1967). Sebaliknya dari Selatan Amerika Serikat, Brazil mempunyai angkatan kerja budak yang tidak mereproduksi sendiri. Karena adanya pemasukan budak yang terus-menerus, maka sedikit saja perhatian yang diberikan kepada kekuatan reproduksi- kaum wanita budak, dan mereka sedikit saja melahirkan anak. Para budak ini dipekerjakan habis-habisan dan digantikan oleh budak-budak baru bila mereka meninggal.

Sistem budak Brazil sangat paternalistik dan mempunyai banyak persamaan dengan masyarakat budak bagian Selatan Amerika Serikat. Van den Berghe mengemukakan suatu uraian informatif mengenai kehidupan perkebunan Brazil (1967:65-66): Jelas bahwa fazenda (perkebunan tebu) adalah suatu contoh klasik mengenai hubungan ras paternalistik. Perkebunan adalah mikrokosmos yang swasembada yang memasok bahan makanan, bengkel rep arasi, gereja, pendeta, pekuburan, rumah sakit, dan sekolah sendiri. Sebagai kediaman, rumah besar (casa grande), dihuni oleh keluarga pemilik dan oleh budak rumah tangga, mendominasi tempat tinggal budak di dekatnya (senzala) yang menampung para pekerja lapangan dan tukang yang terampil. Hubungan di antara para tuan dan budak rumah tangga adalah erat, yakni, secara spatial dan emosional adalah dekat, tapi secara sosial sangat jauh. Anakanak kulit putih diasuh oleh pengasuh Negro (amas) dan diberi seorang budak yang seusia dan seks yang sama sebagai teman bermain. Apabila seorang anak lelaki kulit putih mencapai kematangan seksual, ia memulai hubungan seksual dengan salah seorang budak bapaknya dan terus terlibat dalam pergundikan campur aduk dengan budak-budak wanita selama hidup aktif seksualnya. Pergundikan antar ras dengan budak-budak wanita sepenuhnya diterima bagi pria-pria berkulit putih, dan , sesuai dengan standar dual moralitas seksual, perkawinan tidak dipandang sebagai rintangan bagi memelihara harem budak. Malah golongan agama Katolik secara ekstensif kawin dengan wanita kulit berwarna.

 Pembagian kerja menurut garis ras cukup jelas. Kaum aristokrat Portugis adalah kelas yang bebas, yang hampir seluruhnya terlibat dalam perang dan percintaan. Jarak sosial di antara tuan dan budak dipertahankan melalui etiket yang berguna dan dominasi yang teliti. Aturan-aturan pengurusan belanja, bentuk-bentuk sapaan, dan isyarat simbolik mengatur pergaulan sosial di antara orang-orang yang statusnya sangat berbeda yang berkontak secara tetap dan erat antara yang satu dengan yang lainnya. Sebagai contohbilabepergian ke tempattempat umum para tuan diusung di atas tandu dan diiringi oleh seorang budak pengiring yang diatur menurut suatu prosesi yang teratur baik. Ada banyak stereotip mengenai orang Negro yang dikembangkan selama periode perbudakan dan masih merupakan bagian dari cerita rakyat Brazil. Orang Afrika -Brazil dipandang sebagai pelacur, tidak menarik secara fisik, anak dewasa yang serampangan. Dengan sedikit modifikasi di sana-sini kata-kata itu, uraian van den Berghe mengenai paternalisme Brazil itu dapat berlaku sama seperti uraian mengenai kehidupan perkebunan di bagian Selatan Amerika Serikat.

Filed under : Bikers Pintar,