MENGENAL PERBUDAKAN DI SELATAN AMERIKA SERIKAT

152 views

MENGENAL PERBUDAKAN DI SELATAN AMERIKA SERIKAT – Meskipun perbudakan di Selatan Amerika Serikat dimulai pada akhir abad xvii, bagian Selatan Amerika Serikat tidak muncul sebagai masyarakat budak utama sampai awal abad xix. Sesudah waktu itu, komoditas utama adalah kapas, yang sebagian besar diekspor ke Inggris yang memasok pabrik-pabrik tekstil yang tumbuh subur. Pada pertengahan abad xix perbudakan telah meluas, yang bermula di Mariland dan Virginia, mengelilingi Deep South, dan menyebar ke Barat sampai Texas.

Orang-orang berkulit hitam selalu merupakan minoritas dalam angka dalam sistem perbudakan Amerika Serikat. Di koloni-koloni bagian selatan dalam tahun 1960 mereka masih berjumlah 3 persen dari total penduduk, sementara pada tahun 1770 persentase mereka telah meningkat menjadi 40 persen (Fogel dan Engerman, 1974). Angka-angka ini bertentangan dengan apa yang terdapat dalam banyak sistem perkebunan lainnya, di mana orang-orang berkulit hitam sering merupakan mayoritas dalam jumlah yang besar. Lagi pula, ukuran rata-rata perkebunan di Amerika Serikat lebih kecil daripada masyarakat penghasil gula utama. Jumlah rata-rata budak di Virginia dan Maryland pada akhir abad xviii adalah kurang dari 13 budak (Fogel dan Engerman, 1974). Pada periode antibellum (1800-1860), hanya para pemilik kebun besar yang mempunyai budak sebanyak 100 sampai 200 orang, dan mayoritas perkebunan memiliki kira-kira 30 budak. Angka-angka itu cukup kecil bila kita perhatikan bahwa banyak perkebunan gula di Hindia Barat dan Brazil mempunyai 500 budak. Sistem perbudakan bagian Selatan Amerika Serikat didominasi oleh kelas pemilik kebun yang kaya dan berkuasa, perbudakan yang ada hanya terdiri dari minoritas pemilik budak. Kelas pemilik kebun ini mengontrol perekonomian melalui pemilikan tanah dan orang, mendominasi sistem politik, dan menciptakan hukum perbudakan Selatan untuk melayani tujuan mereka sendiri. Banyak sejarawan berpendapat mengenai pemilik kebun besar itu pada hakikatnya adalah kelas aristokrat dengan ideologi yang bersifat antagonistik terhadap pandangan kalkulatif para penguasa kapitalis (Genovese, 1965, 1969). Akan tetapi, dalam tulisan mereka yang terkenal mengenai ekonomi perbudakan Selatan, Time on the Cross (1974), Robert Fogel dan Stanley Engerman secara meyakinkan memperlihatkan bahwa para pemilik perkebunan adalah “kalanganbisnis kapitalis yangbijaksana” yang mempunyaipandangan sangat rasional dan penuh perhitungan. Sesungguhnya, dengan adanya sistem ekonomi yang lebih besar di mana mereka merupakan bagiannya, memang demikianlah seharusnya. Karena mereka berproduksi untuk pasar ekonomi dunia, dapat dipahami bahwa mereka bersikap ketat terhadap persoalan laba dan rugi. Di bagian Selatan Amerika Serikat hubungan antara tuan dan budak dikuasai oleh suatu struktur sosial dan ideologi paternalisme. Perkebunan merupakan suatu dunia swasembada di mana tuan dan budak hidup dalam kontak yang erat dan terus -menerus antara yang satu dengan lainnya. Interaksi sosial antara ras diatur oleh etiket yang sangat berkembang. Para budak diharapkan untuk tunduk terhadap para tuan mereka dengan menggunakan istilah-istilah hormat maupun sikap dan bahasa yang menunjukkan rendahnya kedudukan mereka, tetapi para tuan memanggil para budak dengan nama depan. Sementara itu hubungan seksual antara pria berkulit hitam dengan wanita berkulit putih sangat dilarang, tapi sebaliknya tuan-tuan yang berkulit putih sering melakukan hubungan seks dengan para wanita budak berkulit hitam. Pemuda-pemuda berkulit putih sering mempunyai pengalaman seksual pertama mereka dengan gadis-gadis budak, dan adalah hal yarig umum bagi \para tuan untuk memelihara beberapa wanita budak sebagai gundik. Secara ide ologis, orang kulit putihmempunyai stereotip yang luas mengenai inferiori_ tas orang berkulit hitam. Orang kulit hitam dipandang sebagai anak-anak dewasa yang belum bisa bertanggung jawab. Para tuan memperlakukan bu_ dak-budak seperti seorrang bapak yang keras tapi penuh kasih memperlakukan anak-anaknya (van den Berghe, 1967).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *