MENGENAL PERKEMBANGAN HUBUNGAN RAS KOMPETITIF DI AMERIKA SERIKAT – Pierre van den Berghe (1967) glah mengemukakan suatu diskusi yang berharga mengenai muncul dan berkembangnya hubungan ras kompetitif di Amerika Serikat. Seperti yang dicatatnya, akhir daripada perbudakan telah menandai bermulanya suatu tahap yang sama sekali baru di dalam hubunganhubungan di antara orang kulit hitam dan kulit putih. Orang kulit hitam tidak lagi dilihat sebagai “seorartg budak yang gembira dan bernyanyi-nyayi melainkan semakin dipandang sebagai uppity dan pushy, kelompok masyarakat yang tidak tahu “tempatnya”, sebagai pesaing ekonomis kulit putih, dan sebagai pemerkosa kaum wanita kulit putih.

Secara ekonomis, perbudakan membuka jalan bagi sis tem bertani bersama dan pekerja bayar hutang. Banyak orang-bebas menemukan bahwa mereka harus tetap tinggal di tanah itu agar dapat mencari nafkah. Para pemilik perkebunan membagi-bagi tanah mereka menjadi persil-persil kecil yang dapat diolah penyewa individual. Orang bebas diberi pinjaman bahan makanan, benih, alat-alat, dan barang-barang lainnya yang perlu agar dapat menanami bagian tanah mereka. Para pemilik perkebunan mengatur hal-hal sehingga penyewaberkulit hitam tidak dapat membayar kembali hutang-hutang, dan karena itu mareka akan jatuh ke dalam suatu sistem ijon, di mana mereka secara kokoh terikat pada tanah seperti ketika berada dalam perbudakan. Perempat akhir abad xix, orang berkulit putih kelas bawah menemukan diri mereka semakin berkontak dan bersaing dengan jutaan orang kulit hitam yang bebas. Orang kulit hitam dan kulit putih “dipaksakan oleh kondisi ekonomi untuk saling berkonfrontasi, berbenturan, dan bersaing dalam skala besar untuk memperoleh pekerjaan” (W. Wilson, 1978:56). Ancaman ekonomi yang semakin meningkat yang diperhadapkan oleh orang-orang berkulit hitam terhadap yang berkulit putih telah menyebabkan hilangnya hak politik dan berkembangnya suatu sistem segregasi “Jim Crow”. Di Selatan sekurangkurangnya, segregasi itu mulai merembes ke dalam setiap suasana kehidupan sosial: “menjadi suatu pelanggaran yang dapat dihukum menurut hukum atau mores bila ada orang kulit putih dan Negro bepergian, makan, buang air, menunggu, dikuburkan, bercinta, bermain, bersantai, dan berbicara bersama, kecuali dalam konteks interaksi tuan dan pelayan yang telah ditetapkan” (van den Berghe, 1967: 89-90). Sebagai tambahan pada kehilangan hak pilih dan segregasi, juga telah timbul suatu taktik lain yang dirancang untuk menyingkirkan atau menetralisasi ancaman ekonomi yang diperhadapkan oleh orang-orang berkulit hitam: terorisme. Ku Klux Klan muncul dan secara luas menggunakan intimidasi, kekejaman, dan pembunuhan terhadap orang-orang berkulit hitam. Kelompok-kelompok untuk berjaga-jaga juga telah dibentuk dan mereka juga terlibat dalam tindakan terorisme agar membuat orang-orang Negro “berada di tempat”. Hukum gantung menjadi ciri kehidupan sosial yang penting untuk mempertahankan supremasi kulit putih.

Sekitar Perang Dunia I orang kulit hitam mulai bermigrasi ke-Utara untuk memperoleh pekerjaan dan ekonomi industri Utara yang semakin meluas. Di sini orang kulit hitam bersaing dengan yang kulit putih untuk memperoleh pekerjaan. Selama masa ini orang kulit hitam sering digunakan oleh kalanganbisnis kulit putih sebagaipendobrak pemogokan. Meningkatnya arus orang kulit hitam telah menimbulkan kekurangan perumahan di kotakota bagian utara, dan persaingan juga timbul untuk mendapat fasilitas rekreasi dan istirahat, seperti taman-taman dan pantai umum. Peristiwa-peristiwa itu telah menciptakan permusuhan di antara orang kulit putih dengan kulit hitam, dan permusuhan ini telah pecah dalam sejumlah kerusuhan ras, dan yang paling serius ialah yang terjadi di East St. Louis dalam tahun 1917 dan di Chicago dalam tahun 1919. Sebagaimana dicatat oleh William Wilson (1978:76), “Dalam analisis akhirnya, kerusuhan itu berfungsi untuk menggarisbawahi dampak perubahan-perubahan ekonomi di arena antar-ras, karena semua kerusuhan antar-ras yang besar mempunyai kaitan langsung ataupun tidak langsung dengan usaha industri”. Pada tahun 1930-an kota-kota utama di Utara mempunyai pemusatan orang kulit hitam yang besar, dan ghetto orang kulit hitam sedang menuju kepada terkonsolidasi. Kebanyakan orang kulit hitam dibagian Utara terpusat di ghetto-ghetto itu. Pada akhir Perang Dunia II, menurut Willson (1978), telah timbul suatu era hubungan ras Amerika yang baru, suatu era di mana nasib sosial dan ekonomi golongan kulit hitam lebih banyak ditentukan oleh kelas dibandingkan dengan faktor rasial.

Filed under : Bikers Pintar,