Advertisement

Selain dikenal sebagai bangsa bahari, Indonesia juga dikenal sebagai bangsa agraris, dalam arti bahwa dalam mengusahakan pola mata pencariannya, mayoritas penduduk bercocok tanam padi di sawah yang basah dengan sistem irigasi. Sistem pertanian dengan irigasi ini memang sudah dikenal sejak dahulu, bahkan dalam sejumlah prasasti berbahasa Jawa Kuno dan gambar-gambar relief candi membuktikan bahwa sistem irigasi telah dikenal dan dipraktikkan orang pada masa Hindu-Buddha.

Pengetahuan dan teknologi pertanian sawah dengan pengairan secara irigasi menjadi sesuatu yang penting bagi masyarakat yang berpola mata pencarian bertani sawah, dan ini berbeda dengan pola lainnya. Dalam pola mata pencarian bertani sawah diperlukan model-model pengorganisasian sosial yang lebih rumit dalam pengolahan sawah. Selain itu, diperlukan pula pengetahuan mengenai cara menyimpan dan cara memupuk tanah yang berbeda dengan pola mata pencarian yang lain.

Advertisement

Pertanian dengan irigasi atau pertanian sawah merupakan perkembangan dari pertanian ladang. Faktor apa yang mendorong perubahan dari pertanian ladang ke pertanian sawah sulit diketahui dengan pasti. Beberapa ahli awalnya mengira bahwa pertambahan penduduk yang semakin pesat menyebabkan kebutuhan akan pangan meningkat, sedangkan lahan yang tersedia relatif tidak semakin luas. Karena itulah para petani melakukan intensifikasi agar dengan luas tanah yang sama dapat diperoleh hasil pertanian yang lebih banyak. Intensifikasi dilakukan antara lain dengan menggunakan pupuk dan irigasi. Namun, para ahli lainnya berpendapat bahwa perubahan dari pertanian ladang ke pertanian sawah terjadi bukan karena tuntutan kebutuhan, tetapi justru karena kemampuan petani untuk mengelola tanah dengan semakin baik, termasuk melalui inovasi teknologi pertanian. Upaya meningkatkan hasil lebih banyak didorong oleh keinginan untuk mendapatkan kelebihan hasil.

Ahli antropologi Marvis Harris (1971) memberikan contoh kinerja para petani sawah tradisional di Yunnan, Vietnam, yang mampu memperoleh hasil pertanian tujuh kali lebih besar daripada kebutuhan mereka. Artinya, kalau sekadar untuk memenuhi kebutuhan sendiri, petani Yunan sebenarnya tidak perlu mengupayakan hasil pertanian sebesar itu. Jika dibandingkan antara kehidupan para petani sawah dengan para pemburu-peramu terbukti bahwa para petani sawah bekerja jauh lebih keras dibandingkan para pemburu-peramu. Dalam hal ini, petani Yunan membutuhkan tenaga dan waktu lima kali lipat dibandingkan orang Bushman yang hidup sebagai pemburu peramu di sabana Afrika. Para petani sawah memiliki waktu bersantai mereka lebih sedikit dibandingkan para pemburu peramu. Hal ini terjadi karena petani sawah sebenarnya ‘menyumbangkan’ tenaga dan waktu mereka untuk para konsumennya. Karena itulah efisiensi teknologi yang terjadi di bidang pertanian sawah, tidak selalu menjadikan kehidupan para petani sawah menjadi lebih mudah.

Hingga kini belum dapat dipasdkan bila sebenarnya pertanian irigasi atau pertanian sawah mulai berkembang di Indonesia. Beberapa peneliti pertanian sering beranggapan bahwa pertanian sawah muncul sebagai akibat masuknya budaya India ke Indonesia yang mendorong munculnya kerajaan-kerajaan bercorak Hindu, antara lain di Kalimantan, Sumatra, Jawa, dan Bali. Dalam hal ini pertanian sawah dianggap sebagai unsur utama yang dibutuhkan untuk mendukung sistem birokrasi dan pengelolaan kerajaan. Dugaan ini barangkali cukup tepat untuk menjelaskan keadaan di Jawa dan Bali. Di kedua daerah ini, tampak adanya korelasi yang cukup nyata antara perkembangan sistem kerajaan dengan sistem pertanian sawah. Sistem pertanian sawah terbukti telah menjadi tulang punggung perekonomian kerajaan-kerajaan (Meer, 1979). Namun, penjelasan seperti itu menjadi sulit diterima, karena pada kenyataannya sistem pertanian sawah juga berkembang cukup pesat di daerah-daerah yang tidak terpengaruh oleh kebudayaan Hindu seperti: Kelabit dan Lun Dayeh di pedalaman Kalimantan, pertanian sawah berteras di Ifugao di Luzon, Filipina (Bellwood, 1997), dan pertanian sawah di Tana Toraja, Sulawesi Selatan Beberapa catatan penelitian antropologi yang dilakukan pada abad XVI khususnya di Sumatra, dituliskan adanya perkembangan antara perladangan dengan sistem bercocok tanam padi dengan irigasi. Pada masa itu dikenal adanya dua bentuk sistem mata pencarian pada suku bangsa Melayu di Sumatra Timur, antara bercocok tanam padi dengan sistem irigasi, dan antara berladang dengan cara membuka hutan. Pembukaan hutan untuk areal perladangan padi dilakukan bersama-sama dengan cara menumbangkan pohon besar pada satu sudut untuk kemudian pohon besar tumbang tersebut akan menjatuhi pohon-pohon lainnya yang lebih kecil sehingga lahan secara otomatis akan terbuka. Setelah itu dilakukan pembakaran terhadap pohon tumbang tadi hingga tanahnya kemudian menghitam. Lalu didiamkan agar mendapat guyuran hujan. Akan tetapi, pada perkembangannya banyak kesalahan perkiraan musim, yang seharusnya pada akhir musim panas menuju ke musim hujan, tetapi karena salah perkiraan ternyata musim panas masih terus berkelanjutan. Akibatnya banyak penduduk yang kemudian terus memanfaatkan lahan ladangnya untuk ditanami padi dengan sistem pengairan yang diperoleh dari air sungai. Menurut catatan tersebut penduduk mengolah lahan pertanian irigasi pada wilayah-wilayah dekat dengan sumber air (sungai), sehingga kemudian dapat diperkirakan bahwa kebutuhan akan air menjadi sangat penting guna membuat sistem persawahan irigasi. Oleh karena itu, pada awalnya persawahan irigasi selalu dekat dengan sumber-sumber air yang mengalir seperti sungai (Marsden, 1966).

Sementara itu, beberapa ahli sejarah pertanian lainnya cenderung melihat peralihan dari pertanian kering ke pertanian basah (sawah) di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, justru dipicu oleh inovasi dalam teknologi pertanian, terutama dikaitkan dengan munculnya alat-alat logam. Karena itu diduga pertanian sawah mulai muncul sekitar 3.000-2.500 tahun lalu di Asia Tenggara bersamaan dengan kehadiran alat-alat logam, terutama besi, dan kerbau sebagai hewan pembajak. Bukti-bukti arkeologis yang mendukung dugaan itu ditemukan antara lain di kompleks situs Ban Chiang di Thailand.

Di Indonesia, terutama di Jawa dan Bali, bukti keberadaan pertanian sawah terdapat dalam prasasti-prasasti yang muncul setelah abad V. Namun, diduga pertanian sawah sudah dilakukan jauh sebelum itu. Fragmen mata bajak dari logam pernah ditemukan dalam konteks tinggalan-tinggalan megalitik di daerah Bondowoso. Sementara itu, keberadaan nekara perunggu di Kepulauan Indonesia kadang ditunjuk sebagai bukti tidak langsung keberadaan pertanian sawah. Nekara perunggu sering kali dianggap sebagai hasil kebudayaan Dongson. Benda ini berbentuk seperti genderang, biasanya terdiri atas bidang pukul (timpanum) dan bagian badan yang bentuk dasarnya silindris. Pada bagian bidang pukul sering kali diberi hiasan berupa pola bintang dengan banyak segi di pusatnya dan patung-patung katak di tepian timpanum. Keberadaan patung katak ini dikaitkan dengan fungsi nekara sebagai alat upacara untuk meminta hujan (Bernet-Kempers, 1988). Adanya upacara-upacara minta hujan dianggap sebagai petunjuk adanya pertanian sawah. Jika dugaan ini benar, berarti nekara perunggu menjadi salah Nekara perunggu tidak saja menjadi bukti penting perkembangan sistem pertanian di Indonesia, tetapi juga bukti perkembangan teknologi logam. Pada awalnya, nekara perunggu dan beberapa benda logam lainnya, seperti kapak dan bejana perunggu, barangkali memang didatangkan dari daerah Dongson yang ketika itu menjadi pusat pembuatannya. Namun, pada masa yang kemudian nekara dan kapak perunggu dibuat sendiri di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan adanya sisa-sisa cetakan kapak dan nekara yang ditemukan di Indonesia. Cetakan kapak yang ditemukan menunjukkan kapak perunggu pada umumnya dibuat dengan teknik setangkup. Teknik ini menggunakan cetakan yang terbuat dari batu dan terdiri atas dua belahan yang masing-masing dipahat atau diceruk sesuai dengan bentuk satu muka kapak. Ketika akan mencetak, kedua belahan itu ditangkupkan sehingga terbentuk rongga berbentuk kapak. Di dalam rongga inilah kemudian dimasukkan cairan logam melalui saluran yang sudah dibuat sebeiumnya. Setelah logam dingin, cetakan setangkup (bivalve)dapat dibuka (Hodge, 1964).

Teknologi membuat nekara lebih rumit lagi, karena melibatkan beberapa teknik sekaligus. Pada umumnya, nekara dibuat dengan teknik cetakan banyak  (multi-mould technique)dipadukan dengan teknik sambung (atau teknik las = welding).Teknik ini dimulai dengan membuat badan nekara yang dicetak dengan beberapa bagian cetakan yang disatukan. Artinya, untuk membuat satu benda utuh digunakan beberapa bilah cetakan yang harus digabungkan menjadi satu agar terbentuk rongga kosong seperti benda yang dikehendaki. Cetakan itu sendiri terbuat dari batu yang dipahat atau diukir dengan pola-pola hias secara negatif. Setelah cetakan digabung, cairan logam dituangkan ke dalam rongga melalui lubanglubang yang sudah disiapkan. Ketika logam sudah dingin, cetakan dapat dibuka dan badan nekara sudah jadi. Pada jenis nekara tertentu, di bagian badan nekara sering dipasang bagian pegangan dengan cara disambung atau dilas. Demikian pula, beberapa patung katak yang dipasang di pinggiran timpanum ditempelkan dengan teknik sambung. Pada nekara yang khas dibuat di Indonesia, atau dikenal sebagai tipe Nekara Pejeng, bagian timpanumnya lebih lebar dari badan nekara. Bagian timpanum ini ditempelkan pada badannya dengan teknik sambung juga (Bernet-Kempers, 1988). Sisa-sisa cetakan nekara perunggu dari batu ditemukan di beberapa tempat antara lain di Manuaba, Bali. Pada dinding bagian dalam dari fragmen cetakan ini terdapat hiasan-hiasan yang mirip sekali dengan hiasan yang terdapat pada Nekara Pejeng yang kini disimpan di Pura Penataran Sasih, Gianyar (Bali).

Hingga kini, tidak diketahui dengan pasti bagaimana nekara digunakan dalam upacara yang terkait dengan pertanian. Dapat dikatakan, fungsi nekara perunggu dalam pranata pertanian sawah lebih terkait dengan aspek religi atau kepercayaan, yaitu keinginan untuk mendatangkan air yang sangat dibutuhkan untuk pengairan sawah. Namun, dapat diduga sistem pertanian sawah juga menggunakan alat-alat logam lainnya. Alat seperti cangkul, sabit, dan mata bajak memang digambarkan pada beberapa relief candi, tetapi bukti artefaktual belum banyak ditemukan. Karena itu, sejauh mana peran alat-alat dari logam dalam teknologi pertanian sawah belum dapat dijelaskan dengan pasti. Sementara itu, gambaran tentang teknologi pertanian sawah di Indonesia setidaknya dapat diungkapkan dari berbagai sumber prasasti dan juga relief candi. Dari kajian terhadap prasasti dan sumber tertulis dari masa pengaruh Hindu, diketahui bahwa pertanian sawah melibatkan serangkaian kegiatan berurutan, di antaranya adalah anggaru,   anggurit, atandur, amatun,dan ahani. adalah kegiatan menyiapkan sawah sebelum mulai ditanami dengan dibersihkan dari tanaman liar dan termasuk juga menyiapkan atau memperbaiki pematang.

Salah satu relief di Candi Borobudur menunjukkan petani yang sedang membajak dengan bajak yang ditarik oleh seekor sapi (BernetKempers, 1976). Kegiatan ini biasanya diikuti dengan cara meratakan tanah atau anggaru (menggaru). Jika tanah sudah siap ditanami, maka bibit yang disiapkan diambil. Untuk padi biasanya biji yang unggul sudah ditanam sebelumnya di satu petak kecil sawah, karena itu bibit berupa tanaman padi muda itu dicabuti. Kegiatan ini disebut anggurit atau andhautyang lalu diikuti dengan kegiatan atau atanam,yaitu menanamkan kembali bibit-bibit tersebut di sawah yang sudah disiapkan. Selama menunggui tanaman siap panen, petani biasanya menyiangi rumput dan semak yang disebut  atau agar tanaman liar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman mereka. Selain itu, mereka tentu juga menjaga agar tidak diserang oleh hama , sebagaimana digambarkan dalam relief candi. Ketika sudah masanya, padi kemudian dipanen, biasanya dengan alat potong padi atau ani-ani, sehingga kegiatannya dikenal sebagai ahani (= mengani-ani). Beberapa sumber prasasti juga menyebutkan proses pasca-panen, antara lain adalah anutu, yaitu mengupas biji padi dengan cara menumbuk (Subroto, 1985).

Dari berbagai sumber tertulis juga diperoleh gambaran tentang beberapa jenis sarana pengairan. Berbagai sarana pengairan ini biasanya dibangun oleh raja, tetapi juga atas inisiatif masyarakat desa. Beberapa jenis sarana irigasi yang sering disebutkan adalah dawuhart atau tambak. Dawuhan adalah dam atau bendungan besar, yang dalam prasasti sering kali disebutkan dibuat oleh raja. Memang tidak diketahui benar seberapa besar ukuran bendungan atau dam pada masa itu. Namun, Maclaine Pont yang mengukur bekas dam di daerah Pikatan (JawaTimur), menduga sekitar 175 m x 350 m, dengan kapasitas sekitar 350.000 m3. Biasanya dam dibuat dengan membuat dinding batu tebal untuk membendung aliran air. Tembok batu itu cukup tebal sehingga dapat dipakai sebagai jembatan menyeberang dan disebut sebagai wwatan (kata wwatan sekarang berkembang menjadi ‘jembatan’ (Meer, 1979). Ukuran tambak mungkin lebih kecil, namun sulit untuk memberikan gambaran besarnya tambak karena tidak ada informasi tentang itu. Pada beberapa prasasti lain, tambak dipakai juga untuk menyebut pematang, dinding kanal, atau tepian sungai. Istilah lain untuk dinding penahan air adalah tameng atau tamya yang diduga terbuat dari lapisan batu untuk membendung air, sehingga terbentuk danau-danau kecil (Meer, 1976).

Dalam sumber tertulis Jawa Kuno, sawah dengan pematang teratur disebut suwak dan organisasi pengelolanya disebut kesuwakan (kini menjadi subak di Bali). Pematang biasanya dibuat dari tanah yang ditinggikan, sehingga air dapat menggenangi petak-petak tanah yang dikelilingi pematang itu. Air yang ditampung dapat saja air hujan dalam pertanian tadah hujan atau air dari saluran irigasi. Salah satu saluran irigasi yang kadang disebut adalah talang yang merujuk pada saluran sempit atau bambu yang terbuka, sedangkan saluran air yang lebih besar disebut weluran (sekarang menjadi: saluran) di Jawa Kuno atau tlabah di Bali. Saluran air yang tertutup atau di bawah tanah disebut dengan arung atau wrung. Saluran seperti ini sering dibuat untuk mengalirkan air dari satu sisi ke sisi bukit lainnya dengan membuat terowongan.

Sebagai sarana pendistribusian air digunakan batang kayu besar atau batang kelapa yang diletakkan melintang di saluran air, parit irigasi, atau sungai kecil untuk menghambat arus air. Batang kayu itu diberi takik atau cekungan dengan berbagai ukuran untuk membagi air ke saluran air yang lebih kecil. Besar kecilnya takikan akan menentukan besarnya debit air yang disalurkan lewat takik tersebut. Batang kayu bertakik ini disebut tambuku atau temuku. Cara pengaturan volume air yang disalurkan dapat dilakukan berdasarkan waktu, yaitu berapa lama setiap sawah diairi, atau berdasarkan kebutuhan sawahnya (Meer, 1979). Cara-cara pertanian sawah dan pengaturan irigasi dari masa pengaruh Hindu sampai kini masih bertahan dalam bentuk perkumpulan subak di Bali.

Sistem irigasi secara tradisional juga berkembang di Indonesia sejak masa kerajaan, seperti masa pemerintahan Purnawarman yang membuat saluran irigasi dari daerah Bogor sampai ke daerah Cilincing pada sekitar tahun 450. Saluran yang dibuat oleh Purnawarman ini kemudian dialirkan ke daerah-daerah sekitarnya yang menjadi lahan pencetakan sawah irigasi.

Cara irigasi tradisional yang dilakukan oleh penduduk biasanya dengan cara membendung sungai secara bergantian untuk dialirkan ke sawah. Cara lain ialah mengalirkan air dari dataran yang lebih tinggi ke daerah lebih rendah dengan menggunakan pipa bambu atau diangkat dengan ember untuk memenuhi persawahan yang membutuhkan air. Ada juga cara lain dengan menimba air dari satu saluran yang lebih rendah ke persawahan yang lebih tinggi dengan menggunakan timba berbambu panjang dan diujungnya terdapat baskom besar atau bakul (anyaman dari bambu berbentuk cekung dan besar) untuk menyendok air dari daerah rendah ke daerah tinggi. Ada pula yang menggunakan kincir air dengan memanfaatkan arus sungai dan mengangkat air ke daerah yang lebih tinggi dari sungai.

Pada masa penjajahan Belanda, di Jawa sistem irigasi digunakan oleh Belanda dalam pelaksanaan sistem tanam paksa pada 1830-an. Pada masa itu, pemerintah Belanda mengusahakan agar semua persawahan dan perkebunan harus dapat menghasilkan panen yang optimal, dan oleh karena itu diciptakan sistem irigasi. Kemudian pada 1957 pemerintah Indonesia membuat waduk Jatiluhur di Kabupaten Purwakarta dengan nama waduk Ir. H. Juanda, dan menghasilkan sebuah danau seluas 8.300 ha. Kontraktor yang mengerjakannya berasal dari Prancis. Potensi air dari waduk Jatiluhur tersebut adalah sebesar 12,9 miliar m3 per tahun, yang merupakan waduk irigasi pertama di Indonesia. Dengan dibangunnya bendungan Jatiluhur, maka beberapa lahan pertanian dapat dialiri oleh air irigasi. Perlu dikemukakan di sini bahwa hasil pembangunan bendungan Jatiluhur bukan hanya air irigasi yang dihasilkannya, tetapi-juga sumber tenaga listrik bagi kepentingan masyarakat umum. Selain itu, danau yang terjadi dari akibat adanya penutupan aliran sungai Cisadane dapat dimanfaatkan sebagai peternakan ikan.

Di dalam pola hidup pertanian sawah dengan irigasi, penduduk yang terlibat dalam sistem ini pada umumnya bertempat tinggal secara menetap dengan pola dan sistem permukiman, mengikuti salah satu garis keturunan yang sangat terkait dengan penguasaan tanah pertanian sebagai pewarisan. Bermukimnya penduduk dengan pola menetap memungkinkan letak daerah pertanian jauh dari daerah permukiman, dan ini membutuhkan peralatan lain di samping pengolahan itu sendiri seperti: peralatan transportasi, peralatan penyimpanan, peralatan angkut hasil bumi, dan peralatan pendistribusian dalam kapasitas besar.

Sistem sosial masyarakat berteknologi irigasi sawah memungkinkan keterkaitannya secara langsung dengan pengetahuan teknologi ini, sehingga akan terjadi pembagian strata sosial tertentu seperti: pemilik alat pengupas butir padi dengan kulitnya, dan pemilik gudang untuk penyimpanan padi atau beras (pemilik huller, atau pemilik lumbung) mendapatkan strata yang lebih tinggi dari petani penggarap. Begitu juga proses pendistribusian hasil sawah akan menciptakan strata sosial lagi seperti saudagar pemilik modal dan sebagainya. Sistem teknologi sawah irigasi ini pada dasarnya akan berhubungan dengan sistem perdagangan jasa seperti pemilik modal dan peralatan pertanian.

Dengan adanya daerah garapan yang bersifat tetap, mau tidak mau teknologi penyuburan tanah sangat diperlukan bagi penduduk yang memilih mata pencarian pertanian sawah irigasi. Pada awal perkembangan, memang usaha penyuburan tanah setelah panen dilakukan dengan cara rotasi tanaman di wilayah yang sama, seperti lahan sawah digunakan sebagai tanaman palawija, atau penggunaan lahan untuk memelihara ikan. Usaha-usaha varietas pola tanam dan pendayagunaan lahan pada dasarnya demi meningkatkan kembali nilai kesuburan tanah sawah. Akan tetapi, pada perkembangan selanjutnya dengan adanya pengenalan teknologi dari pemerintah dan pihak lainnya serta adanya kebutuhan akan beras yang tidak saja dalam lingkup desa, tetapi sudah menyebar ke lingkup desa lain, kota dan bahkan nasional, maka sistem penyuburan tanah tidak lagi dilakukan melaiui diversitas tanaman dan pola pemanfaatan lahan. Penyuburan tanah dilakukan dengan menggunakan pupuk tertentu serta jenis-jenis padi dengan varietas unggul yang tahan terhadap serangan hama. Begitu juga halnya dengan sistem perawatan yang tidak hanya mengandalkan kebiasaan bertingkah laku yang terkait dengan tanaman padi dan sawah, akan tetapi juga berkaitan dengan sistem penyemprotan hama.

Sistem pengorganisasian sosial pada masyarakat ini berkembang sejalan dengan mata pencarian yang digelutinya. Pada pembagian kerja tampak bahwa pengolahan sawah dilakukan oleh kaum laki-laki, sedangkan penanaman serta pemeliharaannya dilakukan oleh kaum perempuan (Gambar 7.7). Sementara itu; anak-anak biasanya terlibat pada saat masa panen. Mereka dilibatkan untuk mengumpulkan butir-butir padi yang jatuh akibat tidak terpotong oleh ani-ani (alat pemotong batang padi tradisional Jawa). Begitu juga dengan sistem lainnya seperti religi yang menempatkan seorang dewa perempuan sebagai penjaga padi (seperti Dewi Sri), sehingga terdapat pemaknaan terhadap sistem mata pencarian. Lalu juga kesenian yang memberikan nuansa tersendiri bagi adanya upacara panen, menanam dan juga mengolah sawah yang muncul dalam kesenian-kesenian dari masyarakat yang bersangkutan.

Semua pranata sosial yang mendukung mata pencarian pokok ini memberikan warna dan nuansa tersendiri bagi sebuah kebudayaan, sehingga akan menjadi spesifik jika dilihat dalam kerangka sistem yang menyeluruh dan dari fungsifungsi pranata sosial yang ada. Gambaran ini akan memberi makna, misalnya sistem persawahan orang Jawa yang berbeda dengan sistem persawahan orang Bali. Perbedaan ini dapat dilihat ketika kita melihatnya dalam konteks sistem pranata sosial lainnya yang menunjang mata pencarian ini.

Dalam perkembangan sejarah, tampaknya sistem-sistem yang mendukung model mata pencarian ini semakin tergantikan dengan adanya teknoiogi baru yang menggantikan usaha memanen padi yang sekarang dilakukan oleh kaum lakilaki dengan menggunakan mesin pemotong padi serta adanya alat pemecah butir padi dari kulitnya yang kesemuanya dilakukan oleh kaum laki-laki, dan bahkan peranan anak-anak menjadi tidak ada lagi pada pemrosesan padi menjadi beras.

Sesuai dengan kondisi lingkungan di Indonesia, model pertanian sawah irigasi yang terdapat di dataran tinggi berlereng-lereng akan berbeda dengan persawahan di lahan yang kelerengannya relatif datar. Persawahan pada lahanlahan yang derajat kelerengannya tinggi terdapat di daerah pegunungan Bali, Jawa Barat bagian tengah, Jawa Tengah bagian tengah, dan di daerah pegunungan Sumatra Barat. Prasarana atau peralatan yang digunakan pada lahan yang ber-beda kelerengannya tentu akan berbeda jenisnya. Untuk jenis sawah yang berada di pegunungan dengan kelerengan terjal, maka penggunaan hewan seperti kerbau atau sapi menjadi berkurang. Petani lebih cenderung menggunakan cangkul bergagang pendek yang sudut cangkuinya 45 derajat. Berbeda halnya dengan sistem persawahan di daerah datar yang memungkinkan hewan kerbau atau sapi menjadi sarana pengolahan sawah yang amat penting. Hal ini disebabkan luas lahan persawahan di dataran rendah jauh lebih besar ukurannya daripada lahan persawahan di dataran berlereng. Mereka yang bekerja di persawahan dataran rendah pada umumnya menggunakan cangkul bergagang panjang dengan sudut kemiringan cangkul 90 derajat.

Persebaran sistem penanaman padi di sawah menyebar ke sebagian besar wilayah Indonesia, dan sebarannya banyak dipengaruhi program-program transmigrasi formal maupun spontan oleh orang-orang di Jawa menuju daerahdaerah di luar Jawa, khususnya di Sumatra dan Kalimantan. Dengan demikian, sistem penanaman padi irigasi tidak hanya menjadi monopoli orang Jawa. Di daerah Kalimantan Selatan terdapat sistem persawahan pasang surut yang menggunakan sistem buka-tutup bagi irigasi yang digunakan penduduk dengan memanfaatkan aliran sungai yang menuju ke laut.

Teknik menanam padi pada bentuk persawahan dengan irigasi telah dikenal sejak dahulu. William Marsden misalnya menyatakan bahwa pada 1783 telah terdapat sistem persawahan irigasi di Sumatra. Pada dasarnya sawah adalah tempat untuk menanam padi yang digenangi air setinggi 6 inci (setara dengan 2,54 cm). Jika genangan air lebih tinggi dari ukuran tersebut, tanaman padi akan menjadi busuk. Lahan untuk bertanam padi yang paling cocok adalah lahan yang mengandung lumpur dan airnya dapat mengalir dengan baik.

Pada saat membuka lahan untuk sawah, lahan tersebut harus dibersihkan terlebih dahulu dari ilalang dan semak belukar serta semua tumbuhan air yang ada di lahan itu. Kemudian di lokasi itu biasanya ilalang yang telah dipotong-potong tersebut dibakar di akhir musim kering. Fungsinya untuk meningkatkan kesuburan tanah. Selanjutnya pada awal musim hujan, lahan mulai digarap. Biasanya lahan yang akan ditanami terletak berdampingan dengan pembibitan (persemaian) padi, agar mudah dijangkau dan cepat dipindahkan tanpa menunggu waktu yang lama.

Dalam proses pengerjaan sawah, alat pengolah tanahnya bukan traktor seperti digunakan orang sekarang, tetapi dengan hewan kerbau. Selain dipakai untuk membalikkan tanah, kerbau ini digunakan kotorannya untuk pupuk. Marsden yang menulis dan meneliti persawahan orang Sumatra khususnya di daerah Natal (Sumatra Utara) menyatakan bahwa pada abad XVIII teknik membajak diperkenalkan di Sumatra oleh orang-orang Cina, yaitu membajak dengan menggunakan dua ekor kerbau.

Incoming search terms:

  • pengertian sawah irigasi
  • contoh sawah irigasi teknis di indonesia
  • teknologi pertanian sawah
  • perkembangan teknologi irigasi sawah dahulu dn sekarang
  • perbedaan tanah sawah dulu dengan tanah sawah sekarang
  • perbedaan ladang dan sawah
  • pengembangan sawah irigasi
  • pengairan masa kini
  • pada daerah yang sulit dibangun sistem irigasi akan berkembang pettanian berupa sawah
  • masyarakat indo mulai mengenal sistem pertanian sawah

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian sawah irigasi
  • contoh sawah irigasi teknis di indonesia
  • teknologi pertanian sawah
  • perkembangan teknologi irigasi sawah dahulu dn sekarang
  • perbedaan tanah sawah dulu dengan tanah sawah sekarang
  • perbedaan ladang dan sawah
  • pengembangan sawah irigasi
  • pengairan masa kini
  • pada daerah yang sulit dibangun sistem irigasi akan berkembang pettanian berupa sawah
  • masyarakat indo mulai mengenal sistem pertanian sawah