Advertisement

Pola perladangan masyarakat Sunda biasanya terdapat di daerah-daerah pegunungan atau di lereng-lereng gunung. Lahan yang diusahakan tersebut mempunyai kemiringan yang sangat tinggi (60-70) dan di kemiringan lahan tersebut ditanami beberapa jenis tumbuh-tumbuhan seperti sawi, kol, cabe, tomat.

Pada pembukaan lahan biasanya dilakukan pada musim hujan, karena tanah yang ada pada umumnya tanah liat sehingga diperlukan penggemburan tanah dan ini hanya dapat dilakukan pada waktu musim hujan tiba. Tanah liat tersebut kemudian dicangkul untuk digemburkan dan biasanya dicampur dengan pupuk kandang yang diambil dari binatang peliharaan mereka. Setelah pupuk kandang disebarkan, lalu mulai ditanam bibit pohon yang diperlukan.

Advertisement

Pupuk kandang pada umumnya penduduk memilih kotoran sapi yang dicampur dengan kotoran kambing. Akan tetapi, karena penduduk jarang yang meme-lihara kambing, maka kotoran kambing diperoleh dengan membeli dari daerah lain. Kambing jarang dimiliki oleh penduduk karena selain dari dagingnya, susu kambing amat jarang walaupun harga susu kambing lebih mahal dari susu sapi, sedangkan ternak diperlukan penduduk untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bibit pada masa sekarang cukup dibeli di ibukota kecamatan atau ibukota kabupaten yang berupa biji-bijian yang sudah dikemas dalam plastik, tetapi ada juga yang dibeli secara kiloan. Biji-bijian yang berupa kemasan merupakan sebuah produk pabrik yang memang diperuntukkan bagi para peladang yang bercocok tanam sayur-sayuran.

Lahan yang sudah disediakan setelah diberi pupuk kandang akan didiamkan untuk beberapa hari agar tanah tersebut bersatu dengan pupuk dan juga tanah menjadi dingin. Kemudian lahan siap ditanam, di lahan tersebut disebarkan biji-bijian dengan bantuan tugal yang cara menanamnya adalah mulai dari lereng paling bawah batas bawah dari lahan sampai ke atas. Pekerjaan menanam ini pada dasarnya dapat dikatakan sulit karena lahan berupa lereng bukit yang kelerengannya sangat tinggi. Tetapi dengan teknik tertentu penduduk dapat dengan mudah dan cepat menanam bibit tanaman yaitu dengan cara bergerak dari bawah ke atas lereng sehingga posisi menanam dapat diperhitungkan dengan baik.

Setelah ditanami biji sayuran, maka tidak memerlukan perawatan yang intensif sampai dengan 1 bulan, kemudian baru disemprot dengan obat anti hama. Seteiah itu, tanaman dibiarkan tumbuh sendiri. Selama menunggu tumbuhnya tanaman sayuran yang ada di kebun, petani kebun biasanya mengerjakan pekerjaan lainnya sebagai buruh kebun orang lain atau memerah sapi peliharaan dua kali dalam satu hari.

Memerah sapi dapat dilakukan dua kali yaitu pada pagi hari sekitar jam 08 pagi dan jam 3 sore, susu sapi dapat diperah pada pagi hari sebanyak 8 liter dan pada sore hari sekitar 4 liter. Pemeliharaan sapi hanya dikandangkan saja dan cukup dibelikan makanan yang dicampur dengan rumput-rumput yang dicari oleh pemilik sapi di lahan-lahan kosong. Rumput-rumput tersebut dicampur dengan makanan ternak yang dibeli. Pada dasarnya ada perbedaan pola makan dengan menggunakan pakan ternak yang dibeli di koperasi dengan rumput yang dicari sendiri. Biasanya sapi yang diberi pakan ternak hasil pembelian di koperasi akan menghasilkan susu lebih banyak, yaitu 12-14 liter per hari, sedangkan apabila hanya memakai rumput biasa hanya satu kali perah saja pada pagi hari, sehingga pada umumnya penduduk mencampur pakan yang dibeli dengan rumput yang dicari sehingga hasilnya dapat untuk mencukupi kehidupan sehari-hari mereka selama menunggu hasil panen sayur-sayuran.

Susu yang diperah kemudian ditempatkan di sebuah ember dan kemudian dibawa ke pinggir jalan desa, kemudian kendaraan bak terbuka akan datang mengambil hasil susu tersebut sambil sekalian membayar harga susunya. Mobil pengambil susu biasanya berupa mobil kecil bak terbuka yang berisi kaleng-kaleng susu untuk menampung susu yang dijual oleh masyarakat. Seperti halnya dengan hasil susu, mobil susu ini juga akan datang ke desa selama dua kali dalam satu hari.

Panen sayuran (tomat, cabe, sawi, dan sebagainya) biasanya dilakukan ketika usia tanaman 4 bulan, dan pada bulan keempat biasanya para pembeli dari kota akan datang dengan mengendarai kendaraan bak terbuka untuk membeli hasil kebun dari petani. Secara umum, petani ladang menanam jenis pohon yang sama untuk memudahkan para pembeli hasil panen, sehingga dapat terjadi satu kampung menghasilkan hasil kebun yang sama dan ini menyebabkan harga panen sangat ditentukan oleh para pembeli. Pada dasarnya keseragaman penanaman ini untuk memudahkan penjualan saja. Sawah tadah hujan (Gambar 4.8) biasanya berlahan di bawah kebun-kebun yang ditanami sayuran tersebut, sehingga apabila musim kemarau, sawah ini diusahakan untuk dibantu dengan disirami atau dialiri air dari sungai yang berada di bawah yang apabila musim kemarau menjadi kering. Hasil sawah pada umumnya untuk kebutuhan sehari-hari saja dan tidak dijual ke pasar. Sehingga apabila lahan sawah tidak dapat ditanami padi, maka cukup ditanami dengan ubi kayu atau tanaman umbi lainnya sambil menunggu musim hujan tiba. Pada umumnya padi hanya dipanen satu kali dalam satu tahun, karena sistem sawahnya adalah sawah tadah hujan.

 

Advertisement