Advertisement

Antropolog, geolog, paleontolog, dan imam Jesuit yang pemikiran-pemikirannya mempunyai konsekuensi yang tak terelakkan terhadap bidang filsafat dan teologi. Ia cendekiawan yang mampu memberi jawaban atas teori-teori evolusi yang telah muncul, semisal teori Robert Darwin.

Teilhard menyusun teori evolusi yang ringkasnya sebagai berikut: Manusia muncul dan berkembang melalui sejarah yang amat panjang. Manusia berasal dari suatu titik tertentu, titik Alpha, kemudian ber-kembang memencar ke seluruh muka bumi yang ke-lak menyatu kembali. Alam semesta beserta seluruh isinya bergerak teratur bagaikan ditarik suatu kekuat-an dai menuju tujuan tertentu. Tujuan itu, menurut Teilhard, adalah Titik Omega.

Advertisement

Ia dilahirkan di Kastil Sarcenat, di Pegunungan Clermont-Ferrand, Auvergne, Perancis, dari keluarga tuan tanah. Lingkungan tempat kelahirannya turut membentuk minatnya. Daerah itu kaya dengan berba-gai jenis batuan, mineral, flora, dan fauna. Sejak kecil ia gemar mengumpulkan batuan dan binatang.

Tahun 1898 ia masuk pendidikan calon imam Je-suit di Aix-en-Provence. Ia belajar filsafat dan teologi di Jersey, sebuah pulau kecil yang terletak antara Inggris dan Perancis. Ia memperdalam pengetahuan-nya tentang struktur kulit bumi dan lapisan-lapisan tanah.

Pada tahun 1905-1908 ia ditugaskan mengajarkan ilmu alam dan ilmu kimia di Kolese Keluarga Kudus. Sambil mengajar, ia memperluas pengetahuannya tentang geologi dan antropologi. Seiring dengan itu, pengabdiannya dalam bidang agama juga meningkat. Ia ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 24 Agustus 1911. Selanjutnya, ia belajar geologi sambil bekerja di Laboratorium Musee d’Histoire Naturelle, Paris, di bawah bimbingan Prof. Marcellon Boule. Semasa Perang Dunia I (1914-1918) ia masuk wajib militer dan menjadi petugas palang merah. Dalam situasi perang ia sempat menyusun sebagian karyanya, Tentang Bi- natang Menyusui di Jaman Eosen, disertasi yang ke- I lak dipertahankannya di Universitas Sorbonne (1922). i Setelah beberapa waktu, ia mengajar di Institute Catholique, Paris. Sudah sejak ia menjadi profesor di institut ini, pandangan-pandangannya dicurigai oleh instansi-instansi Gereja terutama tentang ihwal dosa asal, sehingga ia terkucil. Pada tahun 1923-1924 ia mengadakan penelitian ilmiah«di Pegunungan Ordos, Cina Timur. Puncak kegiatan paleontologisnya adalah penemuan Homo sinanthropus pekinensis (1928). Dalam rangka penelitian ilmiah, ia mengadakan perjalanan dan ekspedisi ke Mongolia, Laut Merah, Somalia, Etiopia, Amerika Utara, Honolulu, Jepang, India Utara, termasuk ke Jawa (1936 dan 1938) untuk mempelajari Homo soloensis (Pithecanthropus erec- tus). Sejak tahun 1951 ia hidup di tempat pembuangannya yang terakhir, New York. Dengan dukungan Wenner-Gren Foundation for Anthropological Research, ilmuwan tua ini mengadakan ekspedisi untuk terakhir kali ke Afrika Selatan (1951 dan 1955). Pada tanggal 10 April 1955, tepat pada Hari Raya Paskah, secara mendadak ia meninggal dunia di New York.

Karya-karyanya terpenting meliputi Le Phenomene Humain (Fenomena Manusia), Le Milieu Divin (Ling-kungan Ilahi), L’Apparation de l’Homme (Hantu ma-nusia), L’ Ave nir de l’Homme (Kehadiran Manusia), L’energie humaine (Energi Manusiawi), L’ activation de l’energie (Kegiatan Energi), La place de l’homme dans la nature (Kedudukan Manusia dalam Alam), Science et Christ (Sain dan Kristus), dan lain lain.

Advertisement