Plato  

Plato dilahirkan dalam lingkungan keluarga kaya, mempunyai hubungan yang erat dengan aristokrat Athena (Davies 1971). Plato dan kakak kandungnya Adeimantos dan Glaukon (keduanya kelompok Republik) menjalani masa mudanya bersama Socrates, beserta sepupunya Kritias dan Charmides, yang berperan penting dalam junta oligarki Tigapuluh yang mengambil-alih kekuasaan pada akhir Perang Peloponesia pada tahun 404/3. Dalam Surat ketujuh (semacam apologia pro vita sua yang dibuat Plato sendiri atau seorang pengikutnya), Plato mengaku terkejut dengan tindakan tirani dari junta Tigapuluh; dan sama menyedihkannya dengan demokrasi hasil pembaruan tatkala demokrasi ini menghukum Socrates menuju kematiannya pada tahun 399. Namun berbagai peluangnya memainkan peran menonjol dalam kehidupan politik Athena seringkah dimaklumi akibat kedekatannya dengan junta. Plato kemudian menyepi dengan menjalani kehidupan teoretis sebagai filsuf dan guru, yang dia agung-agungkan (misalnya, Theaetetus 172-6) sebagai bentuk kegiatan manusia yang tertinggi. Pada tahun 367, setelah 30 tahun menjalani aktivitas teoretis yang sangat produktif, Plato mencoba mempraktekkan ide-ide politik Republik dengan melatih pemimpin muda dari Syracuse, Dionysius II, untuk menjadi raja-sekaligus-filsuf. Tidak mengherankan jika dalam hal ini Plato gagal; satu kelemahan yang sangat jelas dari Plato sebagai analis politik ialah dihindarinya faktor- faktor eksternal dan hubungan-hubungan dengan kekuatan lainnya yang dalam faktanya merupakan problem utama di berbagai kota di Yunani pada abad ke-4 sebelum Masehi. Kendati terdapat masalah-masalah detil dalam dialog-dialog Plato, bisa dikatakan bahwa dalam karyanya sebelum episode Sisilia, ia asyik dengan ide-idenya ketika masa muda di Athena, sedangkan dalam karya-karya terakhirnya (Sophist, Statesman, Philebus, Timaeus, Critias, Laws) Plato mengarahkan dirinya secara lebih khusus kepada rekan-rekan filsufnya, untuk masa itu maupun masa sesudahnya. Pusat kajian filsafat yang ia dirikan di Akademi sejenis Institut Kajian di lingkungan pedesaan terus berlanjut bahkan setelah kematiannya.

Berbagai pengaruh yang membentuk pemikiran Plato mencerminkan lingkungan aristokrat tempat Plato tumbuh dewasa. Di lingkungan itu pula terjadi berbagai peristiwa politik semasa hidupnya, dikenalnya kepribadian Socrates, dan berbagai standar penalaran sistematis yang menjadi bagian dari peran filsuf. Sumbangsih Plato dalam ilmu-ilmu sosial terutama pada bidang politik, filsafat moral, psikologi dan pendidikan akan tetapi aspek-aspek pemikirannya tidak dapat dipisahkan dari epistemologi dan kosmologi dirinya.

Bagian-bagian menarik dalam memahami Plato bisa ditemukan dalam bentuk dialog yang menjadi tempat ia mencurahkan ide-idenya. Pilihan Plato ini tentunya dipengaruhi pemikiran-pemikiran Socrates, yang menyampaikan ide-idenya semata-mata melalui argumentasi dan tanpa meninggalkan karya tertulis; pada umumnya, orang- orang Athena terbiasa mendengarkan perbedaan pendapat yang dikemukakan oleh para juru bicara oposisi di majelis rakyat, ruang pengadilan, dan drama. Socrates mendominasi sebagian besar dialog-dialog awal Plato, dan hal ini membuat Plato merasa perlu mengemukakan hutang budinya pada sang guru (Socrates), dan barangkali, sekaligus menghindari tanggung jawab penuh atas ide-ide yang dilontarkannya. Plato tidak pernah hadir dalam dialog-dialognya sendiri. Bentuk dialog juga sangat sesuai dengan bakatnya sebagai penulis alami yang brilian dan mengagumkan, seniman parodi yang sangat ahli dan empu di bidang karakterisasi dan percakapan. Adegan-adegan pembuka dari berbagai dialog Plato menampilkan seorang sejarawan yang bergaya khas kelas atas pada akhir abad ke-50 sebelum masehi.

Elemen penting dari pemikiran Plato yang berhubungan dengan kehidupan sosial adalah melebarnya kesenjangan antara tubuh (body) dan jiwa (spirit). Pemikiran ini memberinya kesanggupan mempertahankan dasar keyakinan beragama dari berbagai kritik yang diarahkan untuk menentang agama tradisional, dan untuk membuktikan argumen Socrates bahwa kebajikan adalah suatu jenis pengetahuan dalam teori umun epistemologi yang menawarkan solusi-solusi pada berba-gai persoalan logika yang dilontarkan para filsuf masa sebelumnya, dan untuk memberikan dasar bagi keyakinan mengenai keabadian jiwa; dan pada saat bersamaan ini juga memformalisasi batas psikologi antara elemen bawah dan elemen atas dalam kepribadian, dan mengaitkan ini dengan tindak justifikasi terhadap hierarkis sosial, dan serta mengaitkan juga dengan teori pendidikan di mana penyensoran juga memainkan peran sangat penting.

Dialog-dialog Plato pada awalnya memperlihatkan Socrates menentang praktek-praktek kebajikan dari kaum tradisional dan kalangan atas yang tidak reflektif sebagai suatu sikap rutin dari golongan mapan terhadap situasi-situasi tanpa gejolak. Ketika diminta menjelaskan keberanian (Laches), kesalihan (Euthyphro) atau moderat (Charmides), beberapa lawan bicara Plato menyampaikan beberapa contoh spesifik tentang perilaku berani, alim, dan terkendali (self-controlled), dan Socrates kemudian membuktikan kepada mereka bahwa tindakan-tindakan tersebut tidak serta-merta merupakan kebajikan yang berlaku di segala situasi. Sikap yang sama dapat ditemukan dalam Xenophon dan Euripides.

Beberapa pemikiran kontemporer Plato be-rangkat dari kritik-kritik terhadap konsep kebajikan tradisional untuk sama sekali menolak keberadaannya di dalam Republic. Thrasymachus berargumentasi bahwa nilai-nilai dan kebajikan didefinisikan oleh kelas penguasa agar sejalan dengan kepentingan-kepentinganmereka sendiri, dan Glaukon berargumentasi bahwa mereka mewakili kepentingan mayoritas. Karena itu Plato membutuhkan suatu konsep kebajikan yang cukup fleksibel dan abstrak untuk memuaskan kritik Socratik namun tetap aman dalam melawan serangan-serangan kaum relativis. Ia merespons dengan memunculkan teori tentang Bentuk (Forms) atau Ide (Ideas) berada pada tingkat tertinggi yang mengabstraksikan realitas yang direfleksikan secara tidak sempurna dalam dunia materi tapi pikiran manusia mampu secara bertahap memperoleh pengetahuan yang lebih baik melalui pendidikan filsafat.

Sehingga, berusaha mendekati dunia Ide ini menjadi tujuan tertinggi dalam kehidupan manusia dan menjadi patokan dalam menilai segala jenis pengetahuan konsekuensinya masyarakat manusia harus diarahkan oleh para filsuf atau oleh hukum yang diformulasikan kalangan filsuf. Kepribadian manusia dalam hal ini dibagi dalam tiga elemen: inteligensia, amour-propre (Thumos), dan nafsu jasmani. Pendidikan dalam hal ini bertujuan untuk melatih inteligensia mendominasi dua lainnya.

Thumos mengacu pada sekumpulan kualitas yang dinilai agak kabur dalam budaya Plato (Dover 1974). Thumos merupakan dasar manusia untuk mengejar prestise dan kehormatan, karena itu  sebagaimana nafsu akan menguntungkan apabila dijalankan secara wajar namun berbahaya bila berlebihan. Hasrat yang terlalu berlebihan untuk mengejar kehormatan akan menimbulkan tirani atau menyebabkan kecenderungan melakukan pelanggaran tanpa alasan. Dengan demikian ada alasan populer bagi pandangan bahwa ambisi terhadap sesuatu bisa jadi sebagai kebajikan tertinggi menurut kalangan awam sekalipun harus dikontrol. Pandangan ini sangat penting bagi Plato, karena ia yakin bahwa masyarakat yang baik adalah masyarakat yang dituntun oleh sekumpulan orang alim dan bijaksana yang berarti bahwa masalah terpenting dari organisasi politik adalah mencegah elit penguasa melakukan penyalahgunaan kekuasaan. Hal ini membuat Plato merumuskan ide tentang konstitusi campuran (mixed constitution), yang kemudian mempengaruhi Polybius, Montesquieu, dan Konstitusi Amerika Serikat.

Karena pendidikan filsafat mencakup juga pengajaran berbagai pelajaran seperti astronomi dan matematika di mana tidak semua orang memiliki minat dan kepentingan yang sama, dan karena para filsuf harus melepaskan diri dari berbagai aktivitas dan keasyikan yang membuat mereka tergoda oleh Thumos dan nafsu jasmani mereka, maka hirarki tingkat kejiwaan mengarah pada hirarki kelompok-kelompok dalam negara ideal. Para filsuf memiliki otoritas tertinggi, para pengawas berpendidikan menengah bertindak sebagai kekuatan mililter dan polisi, dan mereka yang memasok kebutuhan ekonomi negara menempati status terendah di antara semuanya. Pendidikan harus disesuaikan secara cermat dengan reproduksi sistem; kelas yang lebih rendah dididik untuk patuh dan diyakinkan dengan mitos-mitos politik bahwa status mereka itu terbentuk oleh sebab-sebab alamiah para penyair seharusnya hanya menggambarkan tingkah laku terpuji, pengetahuan tentang bentuk-bentuk masyarakat alternatif ditekan dengan hati-hati, kecuali dalam kalangan sangat terbatas dari elit penguasa.

Keberadaan pandangan-pandangan semacam itu pada abad ke-20 telah menyebabkan serangan terhadap Plato yang dianggap sebagai seorang pro-fasis atau Stalinis (Crossman 1937, Popper 1945). Dalam Laws usulan-usulan yang lebih ekstrim dari Republik (khususnya, penghapusan hak milik pribadi dan keluarga) ditolak adalah menarik mengamati Plato yang bergelut dengan masalah-masalah perumusan hukum, dan karya tersebut menjadi bukti penting mengenai pemikiran hukum Yunani. Kembali kepada hukum sebagai sumber kewenangan merupakan suatu penyerahan pada definisi yang kaku tentang kebajikan, yang ditentang Socrates (lihat Statesman ) tetapi argumen ini tampaknya absah ketika diterapkan pada individu-individu yang tidak mendukung kolektivitas. Pasti ada yang salah dengan analogi antara bagian-bagian kota dan bagian-bagian kejiwaan manusia.