Advertisement

Atau prasasti Dapunta Selendra, ditemukan di desa Sojomerto, Kecamatan Roban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Temuan batu itu pertama kali dilaporkan oleh seorang wartawan dari Jawa Tengah, V. Soekandar Hadiwiyana pada bulan Januari 1963. Pada bulan Maret 1965 ahli epigrafi Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional meneliti prasasti tersebut di lokasi temuannya. Karena angka tahunnya tidak teriera dengan jelas, dari segi palaeografi, prasasti ini diperkirakan berasal dari permulaan abad ke-7, jadi lebih tua dari prasasti Kedukan Bukit.

Prasasti ini menggunakan bahasa Melayu-Kuna dan menyebut nama Dapunta Selendra dengan keluarganya. Di situ disebut nama Hiyanmih sebagai leluhur Dapunta Selendra; biasanya prasasti menyebut puyut atau pitug (moyang atau buyut). Lalu disebut ayahnya, Santanu, serta ibunya, Bhadrawati, dan terakhir istrinya, Sampula.

Advertisement

Selendra jelas merupakan pengindonesiaan kata Sailendra. Nama itu mengingatkan kita pada masalah Sailendrawangsa di Indonesia. Istilah Sailendrawang- sa dijumpai pada prasasti Kalasan tahun 778, prasasti Kelurak tahun 782, prasasti Abhayagiriwihara tahun 792, prasasti Kayuwungan tahun 824, prasasti Ligor B dan prasasti Nalanda pertengahan abad ke-9, dan prasasti raja Colamandala Rajaraja I yang terdapat di Negapatam tahun 1005. Tiga prasasti terakhir itu menyebut raja Sriwijaya. Jadi raja-raja wangsa Sailendra pernah berkuasa di Mataram dan Sriwijaya. Pada prasasti Nalanda, Raja Balaputra dari Sriwijaya mengaku dirinya cucu Raja Sailendra di Jawa yang bergelar Sri Wirawairimathana (= Pembunuh musuh- musuh yang perkasa).

Prasasti-prasasti Kalasan, Kelurak, Abhayagiriwihara dan satu prasasti yang memuat nama raja Bhujayottungade [-wa] yang terdapat di depan percandian Plaosan Lor menggunakan huruf sidclhamatrka dan berbahasa Sanskerta. Huruf siddham itu amat terbatas penggunaannya di Indonesia. Kecuali di dalam keempat prasasti di atas dan satu prasasti batu dari candi Sojiwan yang kemudian hilang sebelum sempat dibaca oleh para ahli epigrafi, huruf itu hanya didapatkan pada meterai-meterai tanah liat yang memuat mantra- mantra agama Budha dan beberapa arca perunggu agama budha, termasuk replika-replika perunggu arca Amoghapasa dari Padang Roco. Sebuah prasasti batu dari Sanur, Bali, yang berasa! dari tahun 914 juga menggunakan huruf siddham itu, pada bagian yang berbahasa Bali Kuno.

Kenyataan itu, ditambah dengan kenyataan bahwa nama raja-raja di dalam prasasti Kelurak, Abhayagiriwihara, Plaosan Lor dan Kayumwungan berbeda dengan nama raja-raja di dalam daftar prasasti Man- tyasih, menimbulkan teori bahwa di Kerajaan Mataram berkuasa dua wangsa raja, yaitu wangsa Sailendra dan wangsa Sanjaya. Dan karena nama Panangkaran disebut di dalam prasasti Kalasan, teori itu mengatakan bahwa wangsa Sanjaya ialah penguasa pribumi yang kemudian tunduk kepada wangsa Sailendra yang berasal dari luar Indonesia. Para ahli dari India seperti R.C. Majumdar (1933), K.A. Nilakanta Sastri (1935), H.B. Sarkar(1985 a; 1985 b.) dan ahli bangsa Belanda Ir. J.L. Moens (1937) berpendapat bahwa penguasa-penguasa Sailendra itu berasal dari India, sekalipun mereka tidak sepaham mengenai lo-kasi asalnya. Seorang sarjana bangsa Perancis, yaitu G. Coedes, mengatakan bahwa wangsa Sailendra berasal dari Fou-nan di Kambodia (Coedes, i 934). Tetapi almarhum Prof. Poerbatjaraka membantah pendapat-pendapat itu dan mengatakan bahwa di Kerajaan Mataram hanya berkuasa satu dinasti, yaitu wangsa Sailendra yang merupakan penguasa pribumi. Pendapatnya itu didasarkan kepada prasasti Canggal tahun 732 M yang menyamakan raja Sanjaya dengan Gunung Meru, pusat dunia, yang kakinya jauh di atas kepala raja-raja yang lain. Anggota wangsa Sailendra itu mula-mula menganut agama Siwa, tetapi sejak Rakai Panangkaran mereka berpindah agama menjadi penganut agama Budha seperti yang terlihat dari prasasti Kalasan. Sebagian anggota wangsa Sailendra tetap menganut agama Siwa dan terpaksa memin- jahkan kekuasaannya ke Jawa Timur (Poerbatjaraka, 1952; 1958). Karena Gunung Meru itu pusat dunia, “raja sekalian gunung (sailendra)”, Poerbatjaraka menganggap Sanjaya dan keturunannya sebagai anggota wangsa Sailendra.

Harus diingat pula bahwa sebetulnya istilah Sanjavawansa tidak pernah disebut di dalam sumber manamin. Istilah itu hanya diciptakan para sarjana. Yang ada iaJah istilah Sanjayawarsa, tarikh Sanjaya, yang dijumpai dalam empat prasasti raja Rakai Hino pu paksa, pengganti Rakai Watukura Dyah Balitung, untuk menyebut tarikh yang dimulai dari tahun penobatan Rakai Mataram San Ratu Sanjaya pada tahun 717 (Damais, 1952). Tetapi itu tidak berarti bahwa Sanjava dianggap sebagai wansakara, pendiri dinasti, karena daftar raja-raja yang ada di dalam prasasti Mantyasih tidak merupakan silsilah seperti yang kemudian terlihat dari daftar nama raja-raja di dalam prasasti Wanua Tengah III tahun 908. Di dalam prasasti terakhir itu Rakai Warak digantikan oleh Rakai Garun, dengan selingan Dyah Gula yang hanya memerintah selama satu setengah tahun. Rakai Warak dikatakan “meninggal di Kelasa” sedang Rakai Garun ialah anak orang yang “meninggal di Tuk”. Nama Dyah Gula tidak disebut di dalam prasasti Mantyasih. Jelas bahwa Rakai Garun bukan anak Rakai Warak. Maka seperti yang telah dikatakan di atas daftar raja- raja di dalam prasasti Mantyasih itu bukan silsilah; dengan sendirinya istilah Sanjayawansa tidak mempunyai dasar apapun.

Jika ada istilah Sailendrawansa mestinya ada orang bernama Sailendra yang dianggap sebagai pendiri dinasti (wansakara), seperti Pu Sindok Sri Isanawi- krama Dharmmottungadewa yang dianggap sebagai pendiri Dinasti Isana dan Ken Arok Sri Rajasa yang dianggap sebagai pendiri Dinasti P.ajasa. Kini ditemukan n’ na Dapunta Selendra di dalam prasasti dari desa Sojomerto; tentu dialah yang dianggap sebagai wansakara Sailendrawansa. Karena dia menggunakan bahasa Melayu Kuno, maka ia seorang pribumi yang berasal dari Sumatra. Berdasarkan keterangan di dalam prasasti Haralinga (Dawangsari) yang mengatakan bahwa leluhur Kalasodbhawa (Rakai Walain pu Kumbhayoni) berasal dari Akhandala- pura, Boechari berpendapat bahwa Rakai Walain pu Kumbhayoni ialah anggota wangsa Sailendra yang tetap menganut agama Siwa, dan keturunan Dapunta Selendra, yang leluhurnya (=Hyan-mih) berasal dari Akhandalapura yang diidentifikasikannya dengan Kerajaan Kan-t’o-li dalam berita-berita dari Liang shu. Di dalam Ming shih disebut sebagai pendahulu Sriwijaya (San-fo-ch’i) (Boechari, 1986).

Yang masih menjadi masalah ialah gelar dapunta. Di dalam prasasti-prasasti yang berbahasa Jawa Kuno gelar dapunta dan dapu hyan biasanya dipakai oleh orang dari golongan agama. Tetapi harus diingat bahwa datu Sriwijaya menggunakan gelar Dapunta Hyan dan Punta Hyan Sri Jayanasa. Oleh G. Coedes gelar itu dianggap sebagai gelar kebangsawanan (Coedes, 1930) dan itu memperkuat pendapat bahwa leluhur Dapunta Selendra berasal dari Kan-t’o-li, pendahulu Sriwijaya.

Kesimpulan bahwa Dapunta Selendra ialah wansakara Sailendrawansa memperkuat pendapat Poerbatjaraka bahwa raja-raja wangsa Sailendra sampai Rakai Mataram San Ratu Sanjaya menganut agama Siwa. Tetapi bagaimana keadaan keagamaan di Kan- t’o-li dalam abad ke-6 pada waktu Hyang-mih berlayar ke Jawa belum diketahui dengan pasti. Pergantian ke agama Budha yang dikemukakan oleh Poerbatjaraka itu terjadi pada masa pemerintahan anak Rakai Mataram San Ratu Sanjaya.

Incoming search terms:

  • arti rakai mataram
  • arti dari rakai mataram
  • rakai mataram artinya
  • prasasti sojomerto
  • prasasti sejomerto

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • arti rakai mataram
  • arti dari rakai mataram
  • rakai mataram artinya
  • prasasti sojomerto
  • prasasti sejomerto